Kuliner Tradisional Pamekasan yang Masih Bertahan
Kabupaten Pamekasan, Madura, tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil garam. Wilayah ini juga menyimpan beragam kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah maraknya makanan modern. Beberapa makanan khas bahkan menjadi simbol budaya masyarakat setempat karena diwariskan secara turun-temurun dan masih diproduksi dengan cara tradisional.
Tiga di antaranya adalah kerupuk tette, potoh mangkok, dan lopes. Ketiga makanan tersebut memiliki cita rasa khas sekaligus menyimpan cerita budaya masyarakat Madura yang masih terus dijaga hingga sekarang.
Kerupuk Tette, Camilan Gurih dari Singkong
Kerupuk Tette menjadi salah satu makanan khas Pamekasan yang cukup populer di kalangan masyarakat Madura. Kerupuk ini terbuat dari singkong rebus yang diolah menggunakan cara tradisional. Nama “Tette” berasal dari bahasa Madura yang berarti dipipihkan atau ditumbuk. Sesuai namanya, proses pembuatan kerupuk ini dilakukan dengan cara menumbuk singkong rebus di atas batu panjang hingga pipih.
Setelah ditumbuk, singkong kemudian diberi campuran bumbu sederhana berupa garam dan bawang putih agar menghasilkan rasa gurih yang khas. Adonan singkong yang sudah pipih kemudian dijemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering sebelum akhirnya digoreng hingga renyah.
Di Kabupaten Pamekasan, usaha rumahan pembuat kerupuk tette banyak ditemukan di wilayah Desa Toronan dan Desa Kowel. Kerupuk ini biasanya dijadikan camilan sehari-hari oleh masyarakat Madura. Selain dimakan langsung, kerupuk tette juga kerap dijadikan pelengkap rujak karena teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih.
Cara pembuatannya yang masih mempertahankan metode tradisional membuat kerupuk tette memiliki cita rasa berbeda dibanding kerupuk modern pada umumnya.
Potoh Mangkok, Sajian Wajib untuk Menyambut Tamu
Selain kerupuk tette, masyarakat Pamekasan juga memiliki kue tradisional bernama potoh mangkok. Makanan khas ini berasal dari Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Potoh mangkok dikenal sebagai jajanan tradisional yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran aneka kue modern.
Kue ini memiliki bentuk bulat menyerupai mangkok dengan taburan parutan kelapa di bagian atasnya. Bahan dasarnya berasal dari tepung beras yang digiling halus dan dicampur daun pandan sehingga menghasilkan aroma harum yang khas. Masyarakat Proppo menjadikan potoh mangkok sebagai sajian wajib saat menerima tamu. Kehadiran makanan tradisional tersebut dipercaya dapat menambah rasa akrab dan kekeluargaan.
Potoh mangkok sekilas memang mirip dengan kue putu yang biasa dijual pedagang keliling. Namun, makanan khas Proppo ini memiliki sejumlah perbedaan. Jika kue putu identik dengan isian gula merah atau gula aren, potoh mangkok tidak menggunakan isian tersebut. Dari segi tekstur, potoh mangkok juga dinilai lebih kenyal dan memiliki rasa yang lebih manis.
Proses memasaknya sama-sama dikukus, tetapi bentuk dan cita rasanya memiliki karakter tersendiri. Keberadaan potoh mangkok hingga kini tidak lepas dari peran masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan makanan tradisional warisan nenek moyang.
Lopes, Jajanan Legendaris
Kuliner tradisional lainnya yang juga berasal dari Pamekasan adalah lopes. Makanan khas Madura ini dahulu menjadi salah satu jajanan favorit masyarakat. Lopes terbuat dari ketan putih yang dibungkus daun pisang dan diikat menggunakan pelepah pisang. Cara pembungkusannya yang tradisional membuat aroma khas daun pisang semakin terasa saat disantap.
Makanan ini biasanya disajikan dengan guyuran gula merah cair dan taburan kelapa parut sehingga menghasilkan perpaduan rasa legit dan gurih. Pada masa lalu, lopes banyak dijual keliling atau dijajarkan di lapak kecil pinggir jalan. Namun kini keberadaannya mulai jarang ditemukan karena tergeser oleh berbagai jenis makanan modern.
Salah satu penjual yang masih mempertahankan jajanan tradisional ini adalah pedagang di Pasar Kolpajung, Pamekasan. Proses pembuatan Lopes tergolong cukup lama karena ketan putih harus direbus selama berjam-jam hingga matang sempurna. Setelah matang, lopes dipotong menggunakan benang sebelum diberi topping gula merah dan parutan kelapa.
Meskipun mulai langka, makanan ini masih memiliki penggemar tersendiri, terutama masyarakat yang ingin bernostalgia dengan cita rasa jajanan tradisional Madura.
Pentingnya Melestarikan Kuliner Tradisional
Keberadaan kerupuk tette, potoh mangkok, dan lopes menunjukkan bahwa kuliner tradisional Madura masih memiliki tempat di hati masyarakat. Selain menawarkan rasa khas, makanan-makanan tersebut juga menyimpan nilai budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah berkembangnya makanan modern dan tren kuliner kekinian, masyarakat diharapkan tetap menjaga keberadaan makanan khas daerah agar tidak hilang ditelan zaman. Kuliner tradisional bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang menjadi kekayaan daerah.
