Ringkasan Berita:
- 5 kandidat Ketum PBNU mengusulkan pemilihan melalui mekanisme AHWA.
- Keempatnya adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin).
- Perbedaan usulan mekanisme pemilihan membuat sidang pleno mengalami deadlock dan harus dilanjutkan dengan voting.
Infomalangraya.net – Siapa saja kandidat atau calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031?
Yang kini disorot ada lima, usai sepakat mengusulkan agar pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Diketahui agenda permusyawaratan tertinggi organisasi NU tersebut dimulai pada 27 Agustus 2026 dan menjadi forum untuk membahas berbagai agenda strategis organisasi, termasuk pemilihan pimpinan PBNU periode 2026-2031.
Event penting ini masuk dalam Muktamar ke-35 NU, berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Kelima kandidat tersebut adalah:
- KH Zulfa Mustofa
- Abdussalam Sohib atau Gus Salam
- KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
- KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf
- KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin
Lantas berikut sosok serta sepak terjang 5 kandidat atau calon Ketua PBNU periode 2026-2031
KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia merupakan putra dari KH Muqarrabin yang berasal dari Pekalongan dan Nyai Hj. Marhumah Latifah yang berasal dari Kresek, Tangerang.
Dari garis ibunya, Zulfa Mustofa memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh ulama Indonesia. Ibunya merupakan putri Nyai Hj. Maimunah yang juga dikenal sebagai ibu dari ulama dan Wakil Presiden ke-13 RI, KH Ma’ruf Amin.
Hubungan tersebut menjadikan KH Zulfa Mustofa memiliki garis kekerabatan dengan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang dikenal luas dalam tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
Pendidikan formal KH Zulfa Mustofa dimulai di Jakarta. Ia bersekolah hingga kelas 3 SD di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Memasuki kelas 4 SD, ia melanjutkan pendidikan di Pekalongan hingga tamat. Setelah itu, Zulfa meneruskan pendidikan tingkat tsanawiyah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon.
Ketika duduk di kelas 2 tsanawiyah, ia kemudian pindah ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Di tempat tersebut, ia mendalami pendidikan agama dan berguru kepada sejumlah ulama.
Dua sosok yang disebut sangat berwibawa dan berkesan bagi Zulfa selama menimba ilmu di Kajen adalah KH A Sahal Mahfudh dan KH Rifa’i Nasuha.
Setelah menyelesaikan pendidikan madrasah aliyah pada 1996, Zulfa kembali ke Jakarta. Ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, khususnya Universitas Al-Azhar di Mesir atau menempuh pendidikan di Makkah.
Namun, rencana tersebut tidak terwujud setelah sang ayah wafat tepat pada malam Idul Fitri.
Sepeninggal ayahnya, Zulfa Mustofa mengambil alih peran untuk melanjutkan aktivitas dakwah yang sebelumnya dijalankan sang ayah.
Pada usia sekitar 19 tahun, ia mulai mengajar di sejumlah majelis taklim yang sebelumnya diasuh ayahnya. Tercatat sekitar lima majelis taklim kemudian menjadi bagian dari aktivitas dakwah yang dijalankannya.
Selain melanjutkan majelis taklim peninggalan sang ayah, Zulfa juga mendirikan majelis taklim sendiri yang diberi nama Darul Musthofa pada 2000.
Aktivitas mengajar dan berdakwah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Zulfa Mustofa sebagai ulama.
Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan organisasi, KH Zulfa Mustofa juga menulis sejumlah karya keislaman.
Dua karya yang disebut dalam perjalanan intelektualnya adalah kitab Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi Li al-Mutafaqqih Jahluhu dan Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i.
Kini, KH Zulfa Mustofa juga aktif dalam kepengurusan PBNU. Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022-2027.
Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
Gus Kikin lahir di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan cicit KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren dan sejak kecil menempuh pendidikan keagamaan di Pondok Pesantren Sunan Ampel serta Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang.
Pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah Ibtida’iyah Parimono, SMP Negeri 1 Jombang, dan SMA Negeri 2 Jombang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan Universitas Terbuka jurusan komunikasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun, Gus Kikin bekerja di Djakarta Lloyd. Pada 1988, ketika berusia 30 tahun, ia dipercaya menjadi kepala cabang Djakarta Lloyd di Cilegon.
Kariernya kemudian berkembang ke dunia bisnis. Pada 1998, ia mendirikan sejumlah perusahaan di Surabaya dan membuka kantor di Jakarta pada 2000.
Perusahaan yang didirikannya bergerak di berbagai sektor, mulai dari transportasi, pelayaran, kontraktor migas, teknologi informasi hingga media. Hingga kini, perusahaan yang didirikan Gus Kikin disebut telah mencapai 22 perusahaan, termasuk usaha di bidang minyak dan gas bumi.
Di dunia pesantren, Gus Kikin dipercaya menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng pada 2016.
Setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah wafat pada 2020, Gus Kikin kemudian dipercaya menjadi Pengasuh ke-8 Pondok Pesantren Tebuireng.
Penunjukan tersebut telah dipersiapkan melalui musyawarah keluarga sejak 2016. Lebih dari 200 anggota keluarga Pesantren Tebuireng saat itu dilibatkan untuk memberikan usulan mengenai sosok yang dinilai tepat melanjutkan kepemimpinan pesantren.
Di organisasi NU, Gus Kikin juga dipercaya sebagai salah satu Ketua PBNU periode 2022-2027. Pada 10 Januari 2024, ia ditunjuk sebagai Pj Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur menggantikan KH Marzuqi Mustamar.
KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf
Gus Yusuf lahir di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 9 Juli 1973. Ia merupakan pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang, yang didirikan KH Chudlori pada 1944.
Aktivitas Gus Yusuf dalam mengasuh pesantren semakin intens setelah kakaknya, KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur, wafat pada 2011. Ia kemudian dipercaya menjadi pengasuh API Tegalrejo, khususnya dalam urusan antar-lembaga.
Pesantren Tegalrejo memiliki sejarah panjang dalam pendidikan Islam Indonesia. Salah satu tokoh yang pernah menimba ilmu di pesantren tersebut adalah Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1985, Gus Yusuf melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Lirboyo hingga 1994. Ia kemudian memperdalam ilmu agama di Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, dan Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen.
Setelah kembali ke Tegalrejo, ia aktif mengajar di pesantrennya sekaligus berdakwah di berbagai daerah.
Dakwah Gus Yusuf tidak hanya dilakukan melalui pengajian secara langsung. Ia juga memanfaatkan berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, dan X untuk menjangkau generasi muda.
Di lingkungan NU, Gus Yusuf juga pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU.
Gus Yusuf mulai aktif dalam politik pada era Reformasi 1998. Saat itu, ia bersama sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa turut terlibat dalam gerakan demonstrasi.
Pada tahun yang sama, Mbah Dur mengajak Gus Yusuf ikut mengawal reformasi melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan bersama Gus Dur.
Gus Yusuf kemudian memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang pada 1999-2007. Ia sempat dipercaya sebagai pejabat sementara Ketua DPW PKB Jawa Tengah ketika terjadi konflik internal partai.
Pada 2013, ia kembali dipercaya sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Namun, Gus Yusuf kemudian memilih meninggalkan jabatan struktural di PKB. Ia mengundurkan diri pada November 2025 dengan alasan ingin lebih fokus mengurus pesantren, pembangunan Ma’had Aly dan SMK di IKN, serta berkhidmah di Nahdlatul Ulama. Pengunduran dirinya kemudian diumumkan secara resmi kepada publik pada 2026.
Selain pesantren dan dakwah, Gus Yusuf juga dikenal aktif dalam bidang seni dan budaya.
Ia rutin menggelar perhelatan seni budaya Suran Tegalrejo. Bersama budayawan Tanto Mendut, Gus Yusuf juga terlibat dalam Komunitas Lima Gunung yang berdiri pada 2001.
Festival Lima Gunung yang digelar setiap tahun menghadirkan pegiat seni dan budaya dari dalam maupun luar negeri.
Gus Yusuf juga mengelola Radio Fast FM yang menyasar segmen anak muda.
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin
Gus Rozin tumbuh besar di Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia merupakan anak angkat KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.
Perjalanan pendidikannya dimulai di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen. Ia menempuh pendidikan dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah dan lulus pada 1995.
Setelah itu, Gus Rozin melanjutkan pendidikan pesantren di Fathul Ulum Kwagean, Kediri, hingga 1998. Ia kemudian melanjutkan studi di Jakarta sebelum menempuh pendidikan magister di Monash University, Australia.
Di universitas tersebut, Gus Rozin mengambil bidang manajemen pendidikan dan meraih gelar Master of Education (M.Ed) pada 2004.
Pada 2023, ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Gus Rozin memiliki pengalaman di berbagai lembaga negara. Pada 2017-2019, ia dipercaya sebagai Staf Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan Dalam Negeri.
Ia juga pernah menjadi Anggota Dewan Ketahanan Pangan Nasional pada 2017-2020, anggota Tim Komunikasi Sosial Kementerian Sekretariat Negara pada 2019, serta anggota Panitia Seleksi Komisioner Ombudsman Republik Indonesia periode 2021-2026.
Selain itu, Gus Rozin menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2020 dan Dewan Pengarah Badan Arbitrase Syariah Nasional sejak 2021.
Aktivitas Gus Rozin di lingkungan NU telah berlangsung sejak masa muda. Ia pernah menjadi pengurus Pimpinan Pusat IPNU pada 1998-2001 dan Pimpinan Pusat GP Ansor pada 2000-2004.
Kariernya di bidang pendidikan pesantren kemudian semakin kuat ketika dipercaya menjadi Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU pada 2010-2013.
Ia selanjutnya menjadi Ketua PW RMI-NU Jawa Tengah pada 2013-2015 dan Ketua RMI PBNU periode 2015-2021. Pada 2022-2024, Gus Rozin menjabat sebagai Katib Syuriah PBNU.
Saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024-2029.
Selama berkiprah di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Gus Rozin terlibat dalam sejumlah agenda yang berkaitan dengan penguatan pesantren.
Ia ikut mengadvokasi lahirnya Undang-Undang Pesantren dan Hari Santri Nasional. Ia juga menjadi Ketua Liga Santri Nasional sekaligus promotor gerakan nasional “Ayo Mondok”.
Program lain yang dikembangkan antara lain gerakan “Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren”, serta sejumlah program di RMI PBNU seperti Satkor Covid, literasi, kemandirian pesantren, dan beasiswa santri.
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam lahir di Bangkalan, Madura, pada 26 Februari 1977. Ia tumbuh dalam keluarga pesantren dan memiliki hubungan darah dengan sejumlah ulama besar.
Gus Salam merupakan cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Dari jalur ibunya, ia juga merupakan cicit KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk perjalanan Gus Salam dalam dunia pesantren dan NU.
Pendidikan dasar hingga tingkat tsanawiyah ditempuh Gus Salam di Denanyar, Jombang. Ia tercatat menyelesaikan pendidikan di MTs Negeri Denanyar pada 1991.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Di pesantren tersebut, Gus Salam mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman, mulai dari ilmu alat hingga fikih.
Ia juga aktif mengikuti forum musyawarah pesantren atau Bahtsul Masa’il, yang menjadi salah satu tradisi penting dalam pengembangan kajian keislaman di lingkungan pesantren.
Gus Salam mulai aktif dalam struktur NU sejak 2002. Kiprahnya diawali dari Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) NU.
Karier organisasinya kemudian berkembang hingga ia dipercaya menduduki posisi Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU).
Di luar struktur organisasi, Gus Salam juga aktif mengikuti berbagai dinamika sosial dan kebangsaan. Ia pernah terlibat dalam peran strategis dalam tim pemenangan di tingkat regional Jawa Timur.
Selain aktivitas organisasi, Gus Salam kini dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Pesantren menjadi salah satu pusat aktivitasnya dalam mengembangkan pendidikan keagamaan sekaligus meneruskan tradisi keluarga pesantren.
5 Calon Usulkan Ketum PBNU Dipilih AHWA
Lima calon Ketua Umum PBNU mengusulkan agar pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dilakukan melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
AHWA adalah sebuah sistem atau forum musyawarah yang beranggotakan para ulama senior untuk memilih pimpinan tertinggi (seperti Rais Aam) dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Usulan tersebut disampaikan dalam Sidang Pleno III Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) KH Hasbullah Sa’id, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, mengutip TribunJatim.com.
Salah satu calon Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, menyampaikan langsung usulan tersebut di hadapan para peserta muktamar.
Menurut Zulfa, calon ketum PBNU lainnya selain dirinya sepakat agar mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan melalui AHWA.
Selain dirinya, empat calon lainnya yakni KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Abdussalam Sohib atau Gus Salam, mengutip Kompas.com, dan KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, dan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Sementara disisi lain, peserta Muktamar ke-35 NU lain mengusulkan agar pemilihan Ketua Umum tetap seperti semula, yakni dipilih oleh Muktamirin yang memiliki hak suara.
Dengan adanya dua usulan tersebut menjadikan sidang pleno mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU deadlock, dan harus dilanjutkan dengan voting.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Breaking News: 4 Calon Usulkan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Sidang Pleno Deadlock dan Harus Voting,
(Infomalangraya.net/Garudea Prabawati) (TribunJatim.com/Mujib Anwar) (Kompas.com)
