Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Venezuela akan terus mencari dukungan dari komunitas internasional, termasuk Indonesia, dalam upaya melindungi kedaulatan negara tersebut. Menurut Duta Besar Venezuela untuk Indonesia, Enrique Antonio Acuna Mendoza, pemerintahan Donald Trump telah membuat kesalahan dengan mengirimkan pasukan militer dan menangkap Presiden Venezuela yang terpilih secara demokratis.
Menurut Mendoza, operasi militer di sekitar Laut Karibia telah merusak fasilitas Venezuela, sehingga tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum internasional. Pengerahan kekuatan militer yang dimulai tahun lalu kemudian dilanjutkan dengan penangkapan ilegal terhadap Presiden Nicolas Maduro pada awal tahun ini. “Penangkapan presiden Venezuela juga merupakan pelanggaran hukum internasional. Tuduhan bahwa Maduro terlibat dalam narco-terrorism sama sekali tidak berdasar karena hingga hari ini belum ada bukti yang mendukungnya,” ujarnya dalam acara Forum Group Discussion di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta (12/02/2026).
Saat ini, pemerintah Venezuela telah mengirimkan sejumlah praktisi dan ahli hukum ke Amerika Serikat guna membebaskan Presiden Maduro. Selain itu, pemerintah juga membentuk tim khusus untuk melakukan pengaduan di organisasi internasional, termasuk Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.
Selain upaya-upaya tersebut, Mendoza menyebutkan bahwa pemerintah Venezuela terus menjalin kerja sama akademik dengan universitas-universitas di dunia untuk membahas isu-isu dari sudut pandang Hukum Internasional, Hubungan Internasional, Politik, dan Geopolitik. Hasil diskusi ini nantinya akan digunakan untuk memperkuat argumen mereka di tingkat internasional. “Kami berharap forum diskusi ilmiah yang diselenggarakan di Universitas Prof Dr Moestopo ini dapat memperkuat upaya kami membebaskan presiden kami dan membela kedaulatan negara kami,” katanya.
Direktur Utama Center for Latin America (CeLa), Kesi Yovana, menyatakan bahwa pihaknya sebagai akademisi yang memiliki hubungan baik dengan negara-negara Amerika Latin, termasuk Venezuela, cukup terpukul dengan situasi yang terjadi di sana. Ia setuju dengan pendapat Mendoza bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump telah bertindak keliru dan perlu direspons secara cerdas oleh masyarakat internasional.
“Kami akan terus melakukan upaya konstruktif, terutama dari sisi akademik, untuk mendukung Venezuela. Misalnya, dengan memberikan masukan kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia agar kebijakan negara kita terkait isu ini bisa lebih solutif dalam mendukung kedaulatan Venezuela,” ujarnya.
Sementara itu, moderator Forum Group Discussion yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Prof Dr Moestopo, Ahmad Mulyadi, menyatakan bahwa apa yang dialami Venezuela dan Presiden Maduro adalah tindakan yang tidak dibenarkan secara hukum internasional. Tindakan ini, lanjutnya, tidak hanya melukai bangsa Venezuela tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia karena menyangkut hak asasi manusia dan hukum internasional yang dicederai.
Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, tatanan dunia internasional akan terganggu, dan dampaknya akan dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh negara-negara lain, terutama negara-negara di kelompok Global South. “Indonesia dan banyak negara lain di Global South merupakan negara berkembang, negara dunia ketiga, atau middle power, yang secara geopolitik tidak memiliki jaminan dapat menghindari hal serupa di masa depan,” tambah Ahmad.
Menurut pakar geopolitik alumnus S3 National Research Tomsk State University Rusia ini, untuk mengatasi hal semacam itu, negara-negara di Global South harus terus meningkatkan solidaritas dan kerja sama di berbagai aspek: diplomasi, ekonomi, politik, riset akademik, bahkan kerja sama pertahanan militer.
“Indonesia dan Venezuela adalah dua negara bersahabat yang juga bagian dari Global South. Oleh karena itu, Indonesia dan negara-negara lain di kelompok tersebut harus meningkatkan kuantitas dan kualitas dukungan mereka kepada Venezuela di segala sektor. Diskusi yang diselenggarakan oleh Universitas Prof Dr Moestopo dan Center for Latin America (CeLa) dengan dukungan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) ini merupakan bentuk manifestasi solidaritas kami sebagai bangsa Indonesia terhadap bangsa Venezuela,” ujarnya.




