Pertemuan Kunci Menteri Luar Negeri Iran dengan IAEA
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melakukan pertemuan penting dengan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, di Jenewa. Pertemuan ini berlangsung sehari sebelum putaran kedua negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir Iran. Diskusi ini menitikberatkan pada kerja sama teknis, pemantauan, dan verifikasi program nuklir sipil Iran.
Pertemuan ini juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan pasca-serangan udara gabungan AS-Israel pada Juni 2025 yang menargetkan beberapa fasilitas nuklir Iran. Dalam pertemuan tersebut, Araqchi didampingi oleh tim pakar nuklir Iran, yang menekankan bahwa pertemuan ini merupakan langkah krusial setelah Iran sempat menghentikan seluruh kerja sama dengan IAEA setelah serangan tersebut.
Meski kedua pihak pernah bertemu singkat di sela-sela Sidang Umum PBB pada September 2025, pertemuan kali ini dinilai lebih substantif. Iran dan AS kembali menjajaki meja negosiasi bulan ini melalui mediasi Oman. Upaya ini adalah kelanjutan dari negosiasi yang sempat terhenti akibat konflik 12 hari pada Juni 2025. Konflik tersebut melibatkan serangan terhadap situs-situs vital seperti Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Tuntutan IAEA dan Perspektif Iran
IAEA telah meminta klarifikasi mengenai status stok uranium yang diperkaya tinggi sebanyak kurang lebih 440 kg pasca-serangan. Lembaga nuklir internasional tersebut juga meminta izin untuk melakukan inspeksi menyeluruh pada fasilitas-fasilitas yang terdampak. IAEA sendiri mengestimasi bahwa stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebelum konflik pecah, secara teknis cukup untuk memproduksi hingga 10 bom nuklir jika dialihkan menjadi senjata. Namun, Iran tetap bersikeras menolak asumsi tersebut.
Dari sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan bahwa ia hadir di Jenewa untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. “Yang tidak ada dalam agenda: penyerahan diri di hadapan ancaman,” tegas Araqchi di X. Sementara itu, dari pihak AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio melihat adanya celah diplomasi. “Saya pikir ada peluang untuk mencapai kesepakatan secara diplomatik yang menjawab kekhawatiran kami. Kami sangat terbuka akan hal itu, namun saya tidak ingin berlebihan,” ujar Rubio.
Rubio juga menekankan betapa sulitnya mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran. “Ini akan sulit karena kita berhadapan dengan tokoh yang mengambil keputusan berdasarkan teologi, bukan geopolitik,” ujarnya. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuntut pembongkaran total infrastruktur nuklir milik Iran. “Tidak boleh ada kapabilitas pengayaan bukan hanya sekadar menghentikan prosesnya, kita menuntut dibongkarnya peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan pengayaan itu dilakukan sedari awal,” tegas Netanyahu.
Perspektif Iran dan Peluang Diplomasi
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, memberikan sinyal kesiapan untuk berkompromi dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. “Bola kini berada di tangan Amerika untuk membuktikan bahwa mereka memang menginginkan sebuah kesepakatan,” pungkasnya. Meskipun demikian, sikap skeptis dari pihak AS tetap terlihat, terutama dari Marco Rubio yang menekankan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran akan sangat sulit dicapai.
Kemajuan dalam negosiasi ini sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk membangun kepercayaan dan memenuhi kebutuhan masing-masing. Dengan situasi yang masih tegang, setiap langkah yang diambil dalam negosiasi akan memiliki dampak besar terhadap stabilitas regional dan global.




