Iran dan Amerika Serikat Berupaya Capai Kesepakatan Nuklir
Iran mengklaim telah mencapai kesepahaman dengan Amerika Serikat mengenai prinsip-prinsip panduan utama terkait program nuklir Teheran. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, usai menjalani serangkaian pertemuan tidak langsung di Jenewa pada Selasa (17/2/2026). Meski mengakui adanya kemajuan, Araghchi menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kedua belah pihak.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator, juga mengonfirmasi adanya perkembangan positif dalam negosiasi. “Negosiasi berakhir dengan kemajuan dalam mengidentifikasi tujuan bersama serta isu-isu teknis yang relevan,” katanya. Namun, belum diketahui secara pasti isu-isu yang dibahas. Seorang pejabat AS menyebut kemajuan memang ada, meski masih banyak detail yang perlu dibicarakan.
“Pihak Iran mengatakan mereka akan kembali dalam dua minggu ke depan dengan proposal terperinci untuk menutup beberapa celah yang masih ada dalam posisi kita,” ujarnya, dikutip dari BBC, Rabu (18/2/2026).
Fokus Utama dan Kebuntuan
Sebelumnya, Teheran menegaskan fokus utama mereka adalah pencabutan sanksi ekonomi AS, sementara Washington ingin memperluas pembahasan hingga isu pengembangan rudal balistik Iran. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut meski Iran setuju untuk bertemu kembali, masih terdapat kebuntuan pada beberapa poin prinsip.
“Tetapi dalam hal lain, sangat jelas presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum diakui dan diatasi oleh Iran,” jelasnya. Presiden Donald Trump sendiri menilai pembicaraan ini sebagai agenda yang sangat penting. Dalam pernyataannya di atas pesawat Air Force One, Trump mengisyaratkan bahwa Teheran kini lebih melunak karena tidak ingin menanggung konsekuensi jika perundingan gagal.
“Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan,” kata Trump. Trump menambahkan, Iran telah belajar dari konsekuensi sikap keras dalam perundingan musim panas lalu ketika AS mengebom situs nuklir Iran.
“Kita bisa saja mencapai kesepakatan alih-alih mengirimkan B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklir mereka. Kita terpaksa mengirimkan B-2. Saya harap mereka akan lebih masuk akal,” ujarnya. Ancaman ini muncul di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah selama beberapa minggu terakhir.
Peringatan Ali Khamenei
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya menegaskan, upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghancurkan negaranya tidak akan pernah membuahkan hasil. “Dalam salah satu pidatonya baru-baru ini, presiden AS mengatakan bahwa selama 47 tahun, AS belum berhasil menghancurkan republik Islam,” kata Khamenei dalam pidatonya, dikutip dari AFP, Selasa (17/2/2026).
“Saya katakan kepada Anda, Anda pun tidak akan berhasil,” sambungnya. Khamenei melontarkan peringatan serius bahwa armada kapal perang AS yang ditempatkan di Teluk berada dalam jangkauan serangan. Ia mengisyaratkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal-kapal tersebut.
“Kita terus-menerus mendengar bahwa mereka telah mengirimkan kapal perang ke arah Iran,” ungkapnya. “Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” tambahnya.
Selain menebar ancaman militer, Khamenei juga menyatakan keraguannya terhadap efektivitas negosiasi dengan Washington. Ia mengkritik syarat-syarat yang diajukan AS, terutama desakan agar Iran sepenuhnya meninggalkan program nuklirnya.
“Jika memang akan ada negosiasi, menentukan hasil negosiasi sebelumnya adalah sebuah kesalahan dan kegilaan,” tambah Khamenei.




