Perkembangan Terbaru dalam Konflik Rusia-Ukraina
Utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, menyampaikan harapan bahwa AS dapat mempercepat proses perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Ia berharap proposal yang akan diajukan kepada kedua belah pihak dapat membawa kabar baik dalam tiga minggu ke depan. Dalam wawancaranya dengan Fox News, Witkoff menyatakan bahwa ia dan Jared Kushner berharap dapat mengajukan beberapa rekomendasi untuk mendekatkan Zelenskyy dan Putin.
Pertemuan langsung antara Zelenskyy dan Putin atau pertemuan trilateral antara mereka dan Donald Trump juga mungkin terjadi. Witkoff menilai bahwa perang ini tidak memiliki tujuan jelas karena banyaknya korban jiwa. Ia percaya bahwa baik Ukraina maupun Rusia sebenarnya tidak ingin berperang satu sama lain. Namun, mereka hanya memperdebatkan wilayah, dan istilah “martabat” sering digunakan tanpa mempertimbangkan dampak nyata dari konflik tersebut.
Witkoff juga mengingatkan bahwa ia telah bertemu dengan Putin sebanyak delapan kali. Meski dikritik, ia menegaskan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut penting agar bisa memahami kepribadian lawan bicara. Menurutnya, kesepakatan tidak mungkin tercapai jika tidak ada komunikasi langsung.
Pembicaraan Trilateral di Jenewa
Sebelumnya, pembicaraan trilateral antara Ukraina, AS, dan Rusia di Jenewa pada 17–18 Februari membahas langkah-langkah untuk mengakhiri perang. Presiden Zelenskyy menyatakan bahwa hasilnya konstruktif, terutama terkait mekanisme pemantauan gencatan senjata. AS direncanakan menjadi pihak yang memantau jika perang benar-benar berakhir. Selain itu, kemungkinan pertukaran tawanan perang juga menjadi bagian dari agenda.
Meski demikian, isu wilayah masih belum mencapai kesepakatan. Kepala delegasi Ukraina, Rustem Umerov, menyebut diskusi intens dan substantif, termasuk parameter keamanan serta mekanisme pelaksanaan solusi yang mungkin disepakati. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyatakan adanya “kemajuan signifikan” dan akan melaporkan hasilnya kepada masing-masing pemimpin.
Ketua delegasi Rusia, Vladimir Medinsky, juga menyebut perundingan berlangsung kompleks namun tetap profesional, dan pertemuan lanjutan direncanakan dalam waktu dekat.
Sejarah Konflik Rusia-Ukraina
Perang Rusia-Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia meluncurkan serangan militer besar-besaran. Namun, konflik ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ketegangan antara kedua negara sudah berlangsung lama, dipicu oleh persaingan politik, masalah keamanan, dan perebutan pengaruh di kawasan Eropa Timur.
Akar persoalan dapat ditelusuri sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah berdiri sebagai negara merdeka, Ukraina dan Rusia mengambil arah kebijakan yang berbeda. Ukraina semakin mendekat ke Barat, sementara Rusia melihat hal ini sebagai ancaman terhadap pengaruh dan kepentingannya di kawasan. Isu keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menjadi titik sensitif bagi Moskow.
Tensi meningkat pada 2014 saat Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, dan konflik bersenjata pecah di Donbas. Berbagai upaya diplomasi dilakukan, tetapi tidak berhasil menciptakan perdamaian yang bertahan lama. Akhirnya, pada Februari 2022, Putin mengumumkan operasi militer skala penuh terhadap Ukraina.
Ancaman dari Hongaria dan Slovakia
Hongaria dan Slovakia mengancam akan memutus pasokan listrik ke Ukraina pada 23 Februari kecuali Ukraina melanjutkan transit minyak melalui pipa Druzhba, yang rusak akibat penembakan Rusia. Minyak itu sebelumnya berhenti sejak 27 Januari 2026 setelah serangan drone Rusia. Selain itu, Hongaria juga mengancam akan memblokir pinjaman perang Ukraina sebesar €90 miliar.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “ultimatum dan pemerasan” oleh Hongaria dan Slovakia. Mereka menilai ultimatum harus dikirim ke Kremlin, bukan ke Kyiv. Hongaria dan Slovakia masih mengandalkan pasokan minyak Rusia melalui pipa Druzhba, yang menjadi salah satu konflik diplomatik terbesar antara Ukraina dan dua negara tetangganya.
Serangan Drone dan Rudal oleh Rusia
Rusia menyerang Ukraina semalam dengan puluhan drone serang serta rudal balistik dan jelajah, fokus pada infrastruktur energi. Para pejabat Ukraina melaporkan serangan menghantam Kyiv, Odesa, dan wilayah tengah. Di Kyiv, warga diperingatkan untuk segera berlindung setelah suara ledakan terdengar. Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan seorang wanita dan anak terluka dalam serangan tersebut.
Serangan di Kyiv terjadi setelah ledakan di Lviv yang menewaskan seorang polisi wanita dan melukai 15 orang.
Zelenskyy Mendorong Putaran Pembicaraan Berikutnya
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan masih ada peluang nyata untuk mengakhiri perang dengan bermartabat. Ia menyerukan putaran pembicaraan berikutnya dan mengisyaratkan pertemuan para pemimpin. Setelah menerima laporan tentang pembicaraan perdamaian dengan Rusia dan AS di Jenewa, Zelenskyy menyerukan putaran pembicaraan segera, paling cepat Februari ini.
Ia menegaskan bahwa Ukraina siap mengangkat isu-isu penting dengan Trump dan Putin. Format pertemuan para pemimpin ini dinilai penting dalam mencapai solusi damai.
Serangan Ukraina di Rusia
Serangan Ukraina terhadap pabrik rudal utama di pedalaman Rusia melukai 11 orang, menurut laporan pejabat Republik Udmurt. Staf Umum Ukraina mengonfirmasi penggunaan rudal jelajah FP-5 “Flamingo” terhadap pabrik Votkinsk. Sementara itu, Rusia menangguhkan penerbangan di bandara dekat lokasi tersebut, dan Ukraina juga melaporkan serangan terhadap pabrik gas di Samara, Rusia.





