Kondisi Awal Sekolah Sebelum Revitalisasi
SMPN 1 Balung di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebelum mendapatkan dana revitalisasi, menghadapi berbagai tantangan yang cukup serius. Saat Kepala Sekolah Mohammad Rokhim menjabat pada tahun 2022, kondisi sekolah tersebut jauh dari ideal. Setiap kali debit air sungai di sekitar sekolah meningkat, halaman dan teras sekolah tergenang. Hal ini tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga membahayakan keselamatan siswa.
Rokhim menceritakan bahwa saat itu, siswa harus melewati selokan-selokan kecil saat jam pelajaran berlangsung. Selain itu, keterbatasan ruang kelas menyebabkan empat rombongan belajar harus menumpang di laboratorium dan ruang multimedia. Akibatnya, fungsi laboratorium praktikum hampir lumpuh. Kondisi bangunan pun bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat, yang menimbulkan kekhawatiran bagi guru dan siswa.
Tiga Kunci Sukses dalam Mendapatkan Dana Revitalisasi
Keberhasilan SMPN 1 Balung menjadi satu-satunya sekolah di Kabupaten Jember yang lolos program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bukanlah kebetulan. Ada tiga langkah kunci yang dilakukan oleh Mohammad Rokhim secara konsisten.
-
Pembenahan data melalui Dapodik
Rokhim memastikan seluruh kondisi riil sekolah, mulai dari kerusakan ruang kelas, kekurangan rombongan belajar, hingga kebutuhan sanitasi, terinput lengkap dan akurat dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Ini menjadi dasar kuat untuk pengajuan bantuan pemerintah. -
Konsistensi mengajukan usulan rehabilitasi
Meski prosesnya memakan waktu, Rokhim tidak berhenti memperbarui dan mengawal usulan bantuan. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil pada 2025, saat SMPN 1 Balung ditetapkan menerima tujuh paket revitalisasi. -
Kesiapan administrasi saat dana disetujui
Saat nilai bantuan diumumkan, Rokhim sendiri mengaku terkejut. “Membuat semua orang iri dan kepingin memegangnya.” Ia menegaskan transparansi dan tata kelola dana yang disiplin.
Tantangan Birokrasi Pendidikan di Tahun 2026
Tahun 2026 menjadi periode krusial bagi dunia pendidikan, terutama dalam hal sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Proses pencairan dana pendidikan kini menuntut kesesuaian data, kesiapan administrasi, serta komunikasi aktif antara sekolah, pemerintah daerah, dan kementerian. Kehadiran Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti dan Bupati Jember Muhammad Fawait dalam peresmian revitalisasi menjadi contoh pentingnya kolaborasi lintas level pemerintahan di daerah seperti Jember.
Harapan Baru untuk Pendidikan di Jember
Dana sebesar Rp 4,21 miliar digunakan untuk membangun empat ruang kelas baru, merehabilitasi tujuh ruang kelas lama, dua laboratorium, ruang UKS, ruang administrasi, serta membangun dan memperbarui fasilitas toilet. Bupati Jember bahkan menyebut toilet baru di sekolah tersebut “seperti toilet mall”.
Laboratorium dan ruang multimedia yang sebelumnya dialihfungsikan kini kembali ke peran aslinya, memberi ruang belajar yang layak bagi siswa. Di hadapan hadirin, Rokhim menyampaikan pesan reflektif. “Ini adalah kado terindah bagi saya. Dua tahun lagi saya insyaallah sudah pensiun,” ujarnya, sebelum menutup dengan candaan bermakna.
Pelajaran Penting dari Kisah SMPN 1 Balung
Kisah SMPN 1 Balung menegaskan bahwa perubahan kualitas pendidikan tidak selalu menunggu keajaiban. Integritas pemimpin sekolah, ketekunan mengawal prosedur, dan keberanian menghadapi birokrasi adalah kunci utama. Dari Balung, sebuah pelajaran penting lahir, selama data jujur dan perjuangan tak berhenti, pintu perubahan selalu terbuka.





