Kehidupan Marni, Pedagang Kopi Keliling di Pelabuhan Bakauheni
Di tengah kerutan wajah yang mulai terlihat akibat usia, semangat hidup Marni (64) tetap menyala. Ia berdiri tegak di dekat pembatas beton jalur masuk dermaga Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, mengenakan topi lebar dan rompi abu-abu. Tangannya dengan cepat merapikan keranjang plastik hijau yang berisi berbagai amunisi dagangannya.
- Keranjang ini berisi rentengan kopi saset, mi instan cup, beragam jajanan, hingga beberapa bungkus rokok. Di sampingnya, sebuah termos merah muda berisi air panas siap melayani dahaga para sopir dan penumpang kapal.
Tahun ini menjadi tahun kedelapan Marni menjalani pekerjaannya sebagai pedagang kopi keliling di area pelabuhan paling sibuk di Sumatera. “Sudah delapan tahun (jualan keliling). Keliling ke bus, mobil, supir truk. Buat makan,” ujarnya saat berbincang dengan Tribun Lampung, Jumat (2/1/2026).
Bagi Marni, Pelabuhan Bakauheni bukan hanya tempat mengadu nasib, melainkan rumah kedua. Sebelum menjadi pedagang keliling, ia pernah bekerja di kantin kapal Ferry selama belasan tahun. Ia mengenang masa-masa ketika masih menjadi bagian dari awak pelayanan di atas kapal yang menghubungkan Selat Sunda.
Namun, badai PHK menghantamnya beberapa tahun silam, memaksanya turun dari kapal dan mencari cara lain untuk bertahan hidup. “Dulu saya kerja di kantin kapal. Tapi ya namanya nasib, saya berhenti, terus sekarang jualan ini,” katanya.
Di usia yang sudah kepala enam, aktivitas berjalan kaki di antara kendaraan tentu bukan hal mudah. Asap knalpot, debu jalanan, hingga cuaca yang kerap tak menentu menjadi teman akrab sehari-hari. Saat matahari mulai condong ke barat, Marni kembali mengangkat keranjangnya untuk mendekati kendaraan yang baru saja tiba di area parkir dermaga.
“Kopi 5 ribuan Mas? Mi instan panas 10 ribuan,” tawarnya ramah.
Pada musim Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 ini, Marni merasa jauh berbeda jika dibandingkan periode lalu. “(Nataru) tahun ini sepi, kalau tahun-tahun kamaren bisa laku 20-25, belum mi-nya, rokok, apalagi kalau lebaran (lebih ramai),” ungkap Marni.
Pengalaman hidup memberi Marni ketangguhan ekstra. Selama masih sehat, ia akan tetap hadir di dermaga. Bagi Marni, setiap gelas kopi yang terjual adalah penyambung napas. Marni adalah satu dari sekian banyak pejuang ekonomi yang menggantungkan hidup pada hilir mudik kendaraan di Pelabuhan Bakauheni.
Sosok Marni menunjukkan semangat bertahan hidup tak mengenal usia. Energinya, tak pernah habis demi dapur tetap mengebul.





