Hasil Survei tentang Dampak Program MBG di Kalangan Masyarakat
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo telah mendapat respons positif dari masyarakat. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Timur Barat Research Center (TBRC), program ini memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan sehari-hari dan kesejahteraan masyarakat, khususnya para orang tua murid.
Tingkat Pengetahuan dan Kepuasan Masyarakat
Dari 1.802 responden yang tersebar di 458 kabupaten/kota di Indonesia, sebanyak 79,4% responden menyatakan sangat mengetahui adanya program MBG untuk anak-anak sekolah. Sementara itu, 12,2% responden tahu, 3,1% tidak tahu, dan 5,3% tidak menjawab.
Kepuasan masyarakat terhadap program ini juga tinggi. Sebanyak 82,2% responden menyatakan sangat puas dengan program MBG untuk anak-anak mereka, sedangkan 12,6% merasa tidak puas dan 5,2% tidak menjawab.
Pengaruh pada Ekonomi Rumah Tangga
Survei juga menunjukkan bahwa 84,3% responden menganggap program MBG memberikan dampak positif pada ekonomi rumah tangga mereka. Sebanyak 11,3% menyatakan biasa saja, sementara 4,4% tidak menjawab.
Selain itu, 64,3% responden menyatakan bahwa pengeluaran rumah tangga mereka setiap bulan berkurang hingga 10-20% akibat program MBG. Sementara 31,4% responden melaporkan pengurangan pengeluaran sebesar 5-10%, dan 4,3% tidak menjawab.
Kualitas dan Mutu Makanan
Meski secara keseluruhan program MBG dinilai positif, sebanyak 60,2% responden menilai mutu dan kualitas makanan dalam program ini perlu diperbaiki. Hanya 30,7% responden yang merasa cukup bermutu dan berkualitas untuk gizi anak, sementara 9,1% tidak menjawab.
Responden juga menilai pentingnya partisipasi guru dan orang tua dalam pemilihan serta penyediaan makanan. Sebanyak 85,7% responden menyatakan bahwa guru dan orang tua harus dilibatkan dalam proses tersebut. Sementara 7,1% responden merasa tidak perlu, dan 7,2% tidak menjawab.
Partisipasi TNI dan Polri dalam Program MBG
Survei TBRC juga mencakup penilaian masyarakat terhadap partisipasi TNI dan Polri dalam menyukseskan program MBG melalui pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebanyak 88,7% responden menyatakan setuju dan mendukung, sedangkan 7,2% tidak setuju dan 4,1% tidak menjawab.
Dari segi kualitas makanan yang disediakan oleh SPPG TNI dan Polri, sebanyak 90,1% responden menyatakan bahwa mutu dan kualitasnya sangat baik, sementara 5,1% menilai biasa saja, dan 4,8% tidak menjawab.
Dukungan Masyarakat untuk Lanjutan Program
Sebanyak 89,7% responden menyatakan dukungan penuh terhadap kelanjutan program MBG. Selain itu, 6,1% responden meminta agar program ini tidak dihentikan, sementara 4,2% tidak menjawab.
Tidak hanya itu, 90,4% responden menilai bahwa program MBG harus dimasukkan sebagai bagian dari program pendidikan nasional. Sementara 4,4% responden merasa tidak perlu, dan 5,2% tidak menjawab.
Strategi Ekonomi dan Pembangunan Manusia
Menurut Zaenal Abidin, Direktur Eksekutif TBRC, program MBG bukan hanya sekadar program makan gratis, tetapi juga strategi ekonomi dan kebijakan pembangunan manusia. Program ini menjadi instrumen strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan bahwa ketika produktivitas meningkat, maka pendapatan masyarakat akan meningkat. Saat pendapatan meningkat, konsumsi juga akan terdorong, sehingga roda ekonomi bergerak lebih cepat.
Investasi pada Kualitas Sumber Daya Manusia
MBG merupakan investasi dalam kualitas sumber daya manusia, kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang. Zaenal menambahkan bahwa gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif.
Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Metodologi Survei
Survei TBRC digelar pada periode 11–21 Februari 2026, dengan jumlah responden sebanyak 1.802 orang. Responden terpilih adalah warga negara Indonesia yang merupakan orang tua murid-murid sekolah penerima program MBG.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan kuesioner terstruktur. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar 2,31%.





