Candi Tepas: Penyimpan Rahasia Sejarah di Blitar
Candi Tepas merupakan salah satu situs peninggalan sejarah yang terletak di Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dengan usia yang diperkirakan mencapai abad ke-13 hingga ke-14, candi ini menjadi bukti kejayaan masa lalu, khususnya pada era Kerajaan Majapahit. Nama “Tepas” berasal dari kata kedaton yang berarti tempat persinggahan. Hal ini menunjukkan bahwa candi ini pernah digunakan sebagai lokasi peristirahatan atau tempat ibadah.
Struktur unik dari Candi Tepas membuatnya berbeda dari candi-candi lain di kawasan tersebut. Penggunaan material batu trasit dan bata merah sebagai pondasi menjadikannya sangat langka dalam arsitektur candi Majapahit. Bagian utama candi terbuat dari batu vulkanik, sedangkan bagian dasar menggunakan bata merah. Kombinasi ini tidak biasa ditemukan pada candi-candi lainnya. Selain itu, Candi Tepas tidak memiliki relief maupun prasasti yang bisa memberikan informasi pasti tentang sejarah pembangunannya. Hal ini membuat asal-usul candi masih menjadi misteri.
Latar Belakang dan Fungsi Candi Tepas
Berdasarkan beberapa sumber, Candi Tepas diperkirakan memiliki latar belakang agama Buddha. Hal ini didasarkan pada penyebutan “Tepas Jita” dalam Kitab Negarakertagama. Wilayah Tepas disebut berada di bawah pengawasan Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yaitu pejabat yang menangani urusan keagamaan Buddha pada masa Majapahit. Meskipun demikian, struktur candi tidak sepenuhnya menunjukkan ciri khas keagamaan tertentu, sehingga menambah sisi misterius dari situs ini.
Selain dugaan sebagai tempat ibadah, ada juga kemungkinan bahwa Candi Tepas merupakan hasil rampasan dari kerajaan lain yang kemudian dimanfaatkan oleh Majapahit. Dengan berbagai kemungkinan tersebut, Candi Tepas menjadi salah satu situs yang menarik untuk terus diteliti lebih lanjut.
Kondisi Terkini dan Peran dalam Kehidupan Masyarakat
Kondisi saat ini dari Candi Tepas hanya menyisakan bagian kaki dan sebagian tubuh bangunan. Atap candi diduga telah hilang karena menggunakan material yang mudah lapuk. Meski belum dipugar secara menyeluruh, bebatuan candi telah ditata kembali untuk menjaga bentuk aslinya.
Yang menarik adalah, Candi Tepas masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai kegiatan tradisi seperti nyadran, bersih desa, hingga genduri. Keberadaan candi ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur. Dengan kondisi yang masih alami dan fungsi sosial yang tetap hidup, Candi Tepas menjadi simbol keterhubungan antara sejarah masa lalu dan kehidupan masyarakat masa kini.
Tradisi yang Masih Bertahan
Masyarakat sekitar masih memanfaatkan Candi Tepas dalam berbagai ritual tradisional. Salah satunya adalah nyadran, sebuah tradisi yang dilakukan untuk menghormati leluhur dan memohon perlindungan dari Tuhan. Selain itu, kegiatan bersih desa juga sering dilakukan di sekitar candi sebagai bentuk pelestarian lingkungan dan budaya. Genduri, yaitu ritual pembersihan diri dengan air dan daun, juga menjadi bagian dari kegiatan masyarakat di sekitar candi.
Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga keutuhan budaya lokal. Dengan adanya aktivitas ini, Candi Tepas tetap menjadi pusat perhatian dan kebanggaan masyarakat setempat.
Pentingnya Pelestarian Budaya
Pelestarian budaya melalui tradisi dan peninggalan sejarah seperti Candi Tepas sangat penting untuk menjaga identitas dan nilai-nilai yang telah turun-temurun. Dengan memahami sejarah dan fungsi candi, masyarakat dapat lebih menghargai warisan budaya yang mereka miliki. Selain itu, pelestarian ini juga membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keaslian dan keberlanjutan budaya lokal.
Dengan semua faktor tersebut, Candi Tepas tidak hanya menjadi tempat sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang.





