Kekeringan di Bintan, Warga Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
Di area Tanjunguban, Bintan Utara, Muhammad Rajali Lubis kembali mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Sudah beberapa kali ia membeli air dari penjual yang menggunakan lori untuk menyalurkan air ke warga. Rajali rutin membeli air sejak sebulan lalu, dengan harga Rp 80 hingga 100 ribu rupiah per kali pembelian. Dengan uang tersebut, ia bisa mendapatkan 1.000 liter atau satu ton air.
Namun, kondisi ini tidak berjalan lancar seperti biasanya. Belakangan ini, Rajali mengeluhkan kesulitan mendapatkan air. Penjual air yang selama ini melayani area tersebut mulai terhambat karena banyak pemesan yang dilayaninya menyusul kekeringan waduk Sei Jago, Tanjunguban, Bintan Utara.
Rajali merasa gelisah dan khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Ia mencoba tenang dan mencari solusi alternatif. Salah satunya adalah meminta PDAM Tirta Kepri untuk mendistribusikan air langsung ke rumah pelanggan menggunakan mobil tangki. Namun, permintaan ini belum terealisasi hingga saat ini.
Masalah Tagihan dan Harga Air yang Mahal
Selain kesulitan mendapatkan air, Rajali juga mempersoalkan tagihan PDAM yang mencapai sekitar Rp750 ribu per bulan. Padahal, distribusi air tidak lancar belakangan ini. Ia meminta PDAM menghapus biaya abodemen atau beban tetap pelanggan selama air tidak mengalir normal. Ini diharapkan bisa meringankan beban hidup warga.
Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito, menjelaskan bahwa waduk Sei Jago saat ini sudah kering dan dalam kondisi kritis. Pihaknya terus berupaya menjaga distribusi air tetap berjalan. Salah satu cara yang dilakukan adalah membuka jalur air waduk agar genangan bisa mengalir dari permukaan lebih tinggi ke area rendah.
Air yang diambil dari sumur intake kemudian didiamkan hingga terkumpul, lalu dipompa kembali dan dialirkan ke reservoir sebelum disalurkan ke pelanggan. Sampai saat ini, pendistribusian air tetap dilakukan, meski hanya dua hari sekali dengan jam operasional hanya 4 jam setiap dua hari.
Respons Pemerintah Kabupaten Bintan
Untuk mengatasi krisis air bersih, sebanyak 15 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Bintan mulai menyalurkan 150 ton air bersih ke masyarakat terdampak. Langkah ini menjadi langkah awal jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan air bersih akibat kekeringan.
Seluruh OPD bergotong-royong secara swadaya untuk menyalurkan air bersih sesuai dengan lokasi dan jadwal penyaluran yang telah disusun. Penyaluran ini masih akan berlanjut hari ini, dimana 14 OPD lainnya dengan tetap menyasar Kecamatan yang terdampak di Bintan.
Bupati Bintan Roby Kurniawan menyebut, suplai air sejak kemarin dan berlanjut hari ini. Setiap OPD diberi porsi minimal 10 ton air bersih, sehingga dua hari ini nanti hampir 300 ton air bersih yang disalurkan.
Data dan Solusi Jangka Panjang
Menurut data, sebanyak 24.479 KK terdampak kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih. Kekeringan yang cukup mengkhawatirkan ini telah membuat volume 4 waduk yang selama ini menjadi sumber baku pemenuhan kebutuhan air bersih yang dikelola PDAM menurun drastis hingga kering menyeluruh.
Roby menyebut langkah strategis ini menjadi solusi tercepat sembari mempersiapkan beberapa solusi jangka panjang. Ia berharap, upaya ini bisa memberikan manfaat sekaligus mengurangi beban yang dirasakan masyarakat terdampak saat ini.
Tindakan Kolaboratif dan Persiapan Jangka Panjang
Pemerintah daerah saat ini tengah menyusun formulasi terbaik untuk antisipasi jangka panjang terkait musim kemarau di awal tahun. Sudah banyak yang sudah dibahas bersama rekan-rekan FKPD, BKMG, termasuk PDAM. Mulai dari penambahan sumber baku waduk, pendalaman volume waduk dan lain-lain.
“Prospek ke depan kita persiapkan sematang mungkin, tapi yang terpenting saat ini kita lakukan dulu aksi jangka pendek untuk masyarakat terdampak,” tegasnya.





