Pengalaman Trauma Widya Akibat Penipuan WO Abal-abal
Seorang calon pengantin bernama Widya, warga Lidah Wetan, Surabaya, mengalami trauma mendalam setelah menjadi korban penipuan dari sebuah wedding organizer (WO) abal-abal. Total kerugian yang dialaminya mencapai Rp 52 juta. Peristiwa ini terjadi saat ia mengikuti pameran pernikahan di Delta Plaza, Surabaya.
Penipuan ini bermula dari tawaran harga murah dan berbagai bonus menarik yang ditawarkan oleh WO tersebut. Namun, syarat utama yang diberikan adalah pelunasan langsung di lokasi pameran. Widya pun memenuhi persyaratan tersebut dengan membayar seluruh biaya pesta pernikahannya secara lunas.
Namun, ketiga hari sebelum acara pernikahan, pemilik WO tiba-tiba menyatakan bahwa mereka tidak mampu merealisasikan pesanan. Hal ini membuat rencana pernikahan Widya terancam batal. Pihak WO juga tidak memberikan penjelasan yang jelas mengenai alasan pembatalan tersebut.
Pada akhirnya, pemilik WO asal Mojokerto itu mengaku tidak memiliki modal lagi untuk melanjutkan pesta pernikahan. Ia bahkan bersikap pasrah dan mempersilakan Widya untuk mengecek kediamannya. Bahkan, ia menyatakan siap jika kasus ini dilaporkan ke pihak berwajib.
Setelah terus-menerus didesak, pemilik WO akhirnya bersedia bertanggung jawab dengan mengganti uang korban dari hasil penjualan rumah saudaranya di Mojokerto. Rumah tersebut dijual dengan harga Rp 750 juta, meskipun nilainya sebenarnya mencapai sekitar Rp 1,4 miliar.
Sidak Wakil Wali Kota Surabaya
Widya akhirnya menyampaikan aspirasinya terkait praktik WO abal-abal kepada Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji (Cak Ji). Merespons laporan tersebut, Cak Ji langsung melakukan sidak ke kantor vendor di kawasan Rungkut Asri Timur. Ia bersama Widya mendatangi kantor WO tersebut, tetapi pemilik vendor tidak ada di tempat.
Ternyata, banyak korban lain yang mengalami nasib serupa. Kebanyakan dari mereka bertemu dengan pihak WO tersebut di pameran-pameran wedding yang diselenggarakan di mal.
Modus Penipuan yang Sering Terjadi
Modus penipuan yang digunakan oleh pelaku selalu sama. Mereka menawarkan paket pernikahan dengan harga murah dan berbagai bonus menarik. Namun, calon pengantin diwajibkan untuk langsung melakukan pembayaran secara lunas di lokasi pameran.
Cak Ji mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap vendor-vendor bodong. Ia menegaskan bahwa pola dan modus penipuan ini mirip dengan kasus-kasus sebelumnya yang ujung-ujungnya pelaku tidak bisa mengembalikan uang dan hanya mengatakan bahwa masalah akan diusut hukum.
Peringatan untuk Masyarakat
Masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah tergiur dengan penawaran harga murah. Publik diimbau untuk memastikan WO yang dipilih benar-benar bisa dipercaya dengan track record yang baik.
Sementara itu, Angga, pemilik kantor di Rungkut Asri Timur, mengaku selama ini kantor tersebut hanya digunakan sebagai alamat pinjaman oleh WO yang bersangkutan. Diduga, WO asal Mojokerto itu telah menjalankan praktik “gali lubang tutup lubang”.





