Wingko babat adalah kue yang berasal dari Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Bukan dari Semarang. Meskipun di Semarang juga ada versi wingko yang populer, akarnya tetap dari Babat.
Artikel ini diolah dari dua sumber utama, yaitu Majalah INTISARI dan Tabloid NOVA.
Makanan yang Menipu Nama
Sebuah kebiasaan umum dalam dunia kuliner adalah memberi nama makanan sesuai dengan asalnya. Namun, beberapa makanan justru menipu banyak orang karena namanya. Dua contohnya adalah wingko babat dan bika ambon.
Orang biasanya mengira wingko babat adalah makanan asli Semarang karena ada produk wingko terkenal bernama “Cap Kereta Api” yang berasal dari kota tersebut. Popularitas wingko di Kawasan Kota Lama bahkan membuatnya lebih dikenal daripada versi aslinya dari Babat, Lamongan.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa wingko Semarang memiliki akar dari Babat. Kebiasaan ini dimulai oleh pasangan suami-istri, The Ek Tjong dan Loe Lan Hwa, yang pindah ke Semarang saat Perang Dunia II. Sang istri menjual wingko berdasarkan resep yang diwariskan dari ayahnya. Karena dijual di stasiun kereta api, kue ini menjadi populer sebagai makanan khas Semarang.
Sementara itu, bika ambon sebenarnya berasal dari kue Melayu yang dikenal sebagai bika atau bingka. Rebusan tradisional ini kemudian diubah dengan menggunakan nira sebagai bahan pengembang, sehingga rasanya semakin lezat.
Nama “ambon” pada bika ambon juga memiliki sejarah yang berbeda-beda. Beberapa mengatakan bahwa kue ini pertama kali dijual di Jalan Ambon Sei Kera Medan. Versi lain menyebutkan bahwa ada warga asal Ambon yang pulang dari Malaysia dan membawa resep baru bika, lalu menjualnya di Medan.
Wingko Babat: Rasa yang Khas
Meski asalnya dari Babat, wingko babat kini sangat identik dengan Semarang. Menurut Jubing Kristianto di Tabloid NOVA edisi Februari 1991, rasa wingko babat memang khas. Banyak orang yang merasa belum lengkap jika tidak membawa wingko sebagai oleh-oleh dari Semarang.
Di Semarang sendiri, banyak perusahaan yang memproduksi wingko. Anehnya, hampir semua menggunakan gambar kereta api pada kemasannya. “Kami adalah yang pertama menggunakan logo Kereta Api sejak tahun 1949,” kata Ny. Sinata, pengusaha wingko babat di Jalan Cendrawasih, Semarang.
Ny. Sinata merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha ibunya, Ny. Moelyono. “Karena merek Kereta Api cukup dikenal, banyak pembuat wingko lain ikut mencantumkan logo ini meski mereknya tidak persis sama.”
Menurut Ny. Sinata, wingko babat aslinya berasal dari Babat. “Bahkan hampir semua ibu rumah tangga di Babat tahu resepnya.” Salah satu yang mengetahui resep ini adalah nenek Ny. Sinata. “Nenek punya gagasan untuk meningkatkan kualitas kue dan menjualnya. Ibu saya membantu menjajarkannya di Stasiun Babat. Waktu itu kemasannya masih kertas roti dan belum ada merek.”
Ukuran wingko cukup besar, dengan diameter hingga 15 cm. Produksi maksimalnya hanya 20 buah per hari karena proses pembuatannya masih sederhana.
Perjalanan Usaha Ny. Moelyono
Tahun 1949, ibu Ny. Sinata pindah ke Semarang. Sebagai ibu rumah tangga, dia mulai membuat wingko dan menjualnya kepada tetangga. Lewat obrolan dari mulut ke mulut, kue ini semakin terkenal.
Akhirnya, banyak orang datang ke rumah Ny. Moelyono untuk mencoba wingkonya. Karena itu, dia memasang merek Kereta Api untuk dagangannya. Tujuannya untuk mengenang bahwa kue ini pertama kali dijajarkan di stasiun.
Pada tahun 1959, Ny. Moelyono membuat patennya. Setelah ia semakin tua, usaha ini dialihkan kepada putrinya. Di tangan Ny. Sinata, bentuk wingko mengalami perubahan. “Karena harga bahan dasar naik, kami memperkecil ukuran kue agar harga tetap terjangkau. Diameter sekarang setengah dari ukuran dulu.”
Harga per buahnya 150 rupiah, dan penjualan meningkat karena orang lebih suka ukuran kecil. “Satu kali makan bisa habis,” katanya.
Keunikan dan Proses Pembuatan
Wingko babat memiliki sifat basah dan tidak tahan lama. “Maksimal empat hari. Setelah itu akan kering dan kurang legit,” jelas Ny. Sinata.
Untuk pemasaran, ia tidak mau menerima kembali wingko yang tidak terjual. “Saya harap toko-toko bisa memperkirakan jumlah yang bisa mereka jual. Ini agar mereka lebih hati-hati dalam mengambil wingko dari saya.”
Proses pembuatan wingko tidak terlalu rumit. “Ketan ditumbuk menjadi tepung, dicampur gula, parutan kelapa, dan sedikit garam. Adonan ini dibentuk bulat di atas daun pisang, lalu dimasukkan ke oven. Jika warnanya kecokelatan, maka siap disajikan.”
Setiap kali membuat adonan, dibutuhkan 250 kg ketan, 50 kg gula, dan 250 butir kelapa. “Kami tidak menggunakan bahan pengawet. Gula sudah berfungsi sebagai pengawet alami.”
Selain itu, ia pantang menggunakan plastik untuk kemasan. “Kami gunakan kertas roti untuk bagian dalam dan kertas tebal untuk luar. Karena kue ini dibungkus saat panas, plastik akan membuat uap tidak keluar dan kue menjadi lembab serta cepat berjamur.”






