Pengertian Puasa Syawal
Setelah menjalani puasa wajib di bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan puasa sunah yang disebut dengan puasa Syawal. Puasa Syawal dilakukan pada bulan Syawal atau setelah berakhirnya bulan Ramadhan. Pelaksanaannya biasanya dilakukan satu hari setelah Idul Fitri atau tanggal 2 Syawal.
Jika berdasarkan keputusan pemerintah, Idul Fitri di tahun 2026 jatuh pada 21 Maret 2026, maka puasa Syawal bisa dilakukan pada 22 Maret. Akhir bulan Syawal akan berakhir pada 18 April 2026. Puasa Syawal disunnahkan dilakukan sebanyak 6 hari. Hal ini didasarkan pada riwayat sabda Nabi Muhammad S.A.W.:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim).
Pandangan Ulama Mengenai Puasa Syawal
Menurut Ustaz Dr. H. Ferry dari Pesantren Binsa Insan Mulia, puasa Syawal lebih baik dilakukan mulai dari tanggal 2 Syawal jika memungkinkan, tetapi jika tidak memungkinkan, boleh juga dilakukan pada tanggal-tanggal lain selama masih dalam bulan Syawal. Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa pelaksanaan puasa Syawal bisa dilakukan secara berturut-turut atau bisa juga di selang-seling.
Ustaz Dr. H. Ferry menambahkan bahwa puasa Syawal bisa digabungkan dengan puasa Senin dan Kamis. Selain itu, puasa sendiri memiliki manfaat untuk menyehatkan tubuh dan membuat diri lebih sehat baik jasmani maupun rohani.
Tata Cara Puasa Syawal
Puasa 6 hari di bulan Syawal secara umum sama dengan puasa lainnya. Puasa Syawal diawali dengan niat, makan sahur, dan kemudian berbuka puasa. Berikut adalah tata cara dan ketentuan puasa Syawal:
-
Puasa Syawal dilakukan selama enam hari
Sesuai dengan hadis, puasa Syawal dilakukan selama enam hari. Lafaz hadis tersebut adalah:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Dari hadis tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” -
Diutamakan dikerjakan berurutan
Puasa Syawal diutamakan agar dikerjakan secara berurutan. Tetapi jika tidak bisa dikerjakan berurutan, boleh dikerjakan secara terpisah-pisah. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” -
Usahakan untuk Mengganti Utang Puasa Ramadhan Lebih Dulu
Jika memiliki utang puasa Ramadhan, disarankan untuk menggantinya terlebih dulu (qodho’ puasa). Hal ini berdasarkan penjelasan Ibnu Hambali dalam kitab Lathoiful Ma’arif. Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal.”
Keutamaan Puasa Syawal
Setelah 30 hari menjalankan puasa wajib di bulan Ramadhan, umat Islam pun disunnahkan untuk melaksanakan ibadah puasa Syawal sebanyak 6 hari. Hal tersebut berdasarkan riwayat sabda Nabi Muhammad S.A.W.:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim).
Ustaz Dr. H. Ferry mengatakan bahwa ada puasa lain yang disunnahkan selain puasa asyura dan puasa syaban, yaitu puasa 6 hari di bulan Syawal. Secara matematika, puasa satu hari di bulan Ramadhan dan puasa dalam bulan Syawal diibaratkan seperti berpuasa 10 hari.
Jadi, hitungannya apabila melakukan puasa Ramadhan ada 30 hari kemudian dikali 10, maka jumlahnya adalah 300 hari. Kemudian, ditambah dengan 6 hari puasa dikali 10, maka 300 ditambah dengan 60, totalnya adalah 360 hari. Dalam ajaran agama Islam, bila dalam 1 tahun itu ada 365 hari maka ada 5 hari yang diharamkan untuk berpuasa.
Lima hari yang diharamkan untuk umat Islam berpuasa, yaitu:
– Dua hari raya yakni Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
– Tiga hari tasyrik yakni tanggal 10, 11, dan 12 dzulhijah pada saat musim haji.
Niat Puasa Syawal
Berikut ini niat untuk puasa sunnah di bulan Syawal:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.”
Artinya:
“Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT.”





