Renungan Harang Katolik: Tuhan Datang Mengundang Kita Masuk Dalam Kerahiman-Nya
Dalam renungan harian Katolik pada Minggu Paskah Kedua, 12 April 2026, Pater Fransiskus Funan Banusu SVD menyampaikan pesan yang dalam dan penuh makna. Tema renungan kali ini adalah “Tuhan Datang Undang Dia Masuk Dalam Kerahiman-Nya”, yang merujuk pada bacaan-bacaan kitab suci seperti Kisah Para Rasul 2:42-47, Mazmur 118:2-4,13-15,22-24, 1 Petrus 1:3-9, dan Yohanes 20:19-31.
Salah satu ayat yang menjadi fokus dalam renungan ini adalah, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku, dan janganlah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yoh. 20:27). Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengundang setiap orang untuk mempercayai-Nya, bahkan ketika ada keraguan atau ketidakpercayaan.
Di era digital yang kaya akan bukti, fakta, dan data, pentingnya bukti sebagai alat kontrol semakin meningkat. Namun, bukti juga bisa direkayasa, sehingga muncul tantangan baru dalam menilai kebenaran. Dunia ini penuh dengan trik manipulasi, dan bukti menjadi salah satu cara untuk mengurangi penipuan yang semakin canggih. Anak-anak dunia lebih mudah bersekongkol dalam kegelapan dibandingkan anak-anak terang. Hal ini menjadi cerminan bahwa iman yang menuntut kepasrahan total sering kali diuji oleh pikiran kritis dan keraguan.
Tomas, salah satu murid Yesus, merupakan contoh nyata dari seseorang yang awalnya ragu akan kebangkitan Sang Guru. Meski mendengar kabar tentang kebangkitan Yesus dari teman-temannya, ia tetap tidak percaya. Ia membutuhkan bukti langsung dari Yesus sendiri. Dengan tegas, Tomas menuntut agar Tuhan datang menjumpainya dan mengundangnya masuk ke dalam kerahiman-Nya. Dan akhirnya, Yesus hadir, memberi kesempatan bagi Tomas untuk menyentuh luka-Nya, yang menjadi simbol kerahiman Ilahi yang tak terbatas.
Ketika Tomas menyentuh lambung Yesus, ia bertobat, percaya, dan berserah sepenuhnya. Ia mengaku dengan mulutnya, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Dari situ, ia hidup damai dan penuh kasih kepada sesamanya. Ini menunjukkan bahwa iman yang tulus dan berani dapat membawa seseorang ke dalam pengalaman kerahiman yang mendalam.
Dalam konteks umat perdana, mereka memberi kesaksian iman yang indah dalam kebersamaan hidup mereka. Mereka hidup tekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, takut akan Tuhan, rajin hadir dalam perjamuan bersama/Ekaristi, dan selalu berdoa bersama. Mereka juga hidup dalam semangat cinta kasih yang murni, saling berbagi, dan menjaga ikatan mesra kasih Tuhan Yesus.
Pemazmur dalam Mazmur 118 menyampaikan tanggapan yang penuh syukur, “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik. Batu-batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.” (Mzm. 118:22-24).
Allah Maha Rahim, dan berkat kerahiman-Nya kita telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Dengan demikian, kita hidup penuh harapan untuk menerima harta Surgawi, warisan yang tak dapat binasa, tak tercemar, dan tak layu.
Pencobaan, penyakit, bahkan dukacita dari pihak Tuhan merupakan jalan pemurnian iman yang harus disyukuri. Bekas-bekas luka yang tak tertutup adalah tanda kerahiman Tuhan untuk membenamkan rasa pedih, bahkan luka-luka batin yang dalam ke dalam luka-luka dan lambung kudus-Nya yang tetap terbuka.
Keragu-raguan dan ketidakpercayaan bukanlah hal negatif di mata Tuhan. Iman butuh pendirian yang kokoh, teguh, dan tak tergoyahkan. Saatnya akan tiba, Tuhan memberi keteduhan dalam hidup, “Damai bagimu.” Tuhan Yesus yang bangkit tidak menggugat, bahkan mengusir kita keluar dari lingkaran kerahiman-Nya, karena bersikap kritis menuntut kebenaran dari Dia.
Meskipun kita berada pada level paling bawah atau dalam ketakpantasan sekali pun, Tuhan selalu punya waktu untuk menjumpai kita. Hidup baik, rukun, saling berbagi dengan tulus dan penuh kasih merupakan ciri khas orang percaya bahwa Tuhan tidak mati, tetapi hidup dan berbelas kasih kepada siapa pun yang bertobat dan percaya.
Akhirnya, dalam spirit mencari kebenaran iman yang murni, sifat ragu-ragu bukanlah hal buruk bagi Tuhan, tetapi akan menjadi musuh iman jika tidak bertobat dan menjadi percaya. Dengan bimbingan Roh Kudus, kita berani menjadi motor Kerahiman Ilahi Allah dan Tuhan Yesus akan bertemu kita dan berkata, “Damai bagimu.” Teruslah berbuat kasih, biarlah orang bersaksi bahwa “Tuhan itu hidup.”





