Bacaan Injil Katolik untuk Hari Biasa Pekan III Paskah
Bacaan injil katolik lengkap dan renungan harian katolik disiapkan khusus untuk hari biasa pekan III Paskah. Dalam liturgi, hari ini memiliki warna putih yang melambangkan kekudusan dan kesucian. Bacaan-bacaan yang dibacakan pada hari Senin mencakup beberapa kitab suci seperti Kitab Kisah Para Rasul, Mazmur, dan Injil Yohanes.
Bacaan Hari Senin
-
Kitab Kisah Para Rasul 6:8–15
Stefanus, seorang pria yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Namun, muncul perlawanan dari kelompok tertentu, termasuk orang-orang dari jemaat Libertini, Kirene, Aleksandria, Kilikia, dan Asia. Mereka menantang Stefanus, tetapi tidak mampu melawan hikmatnya dan Roh yang mendorongnya berbicara. Akhirnya, mereka menghasut orang-orang untuk menyaksikan bahwa Stefanus menghina Musa dan Allah. Mereka membawanya ke Mahkamah Agama, dan semua orang yang duduk dalam sidang itu terkesima oleh wajah Stefanus yang seperti malaikat. -
Mazmur Tanggapan (Mzm 119:23–24,26–27,29–30)
Mazmur ini mengingatkan kita bahwa meskipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan kita, kita tetap merenungkan ketetapan Tuhan. Peringatan-peringatan-Nya menjadi kegemaran dan penasihat bagi kita. Kami memohon agar Tuhan memberi kami kebijaksanaan untuk mengerti petunjuk-Nya dan menjalani kebenaran. -
Injil Yohanes 6:22–29
Setelah hari sebelumnya, orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di tempat mereka. Mereka kemudian mencari-Nya di Kapernaum. Ketika bertemu, mereka bertanya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab bahwa mereka mencari-Nya bukan karena iman, tetapi karena telah kenyang dengan roti. Ia mengingatkan mereka untuk bekerja bukan untuk makanan yang akan binasa, tetapi untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal. Pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Dia yang diutus-Nya.
Renungan Harian Katolik
Dalam bacaan hari ini, kita melihat dua gambaran iman yang sangat berbeda. Di satu sisi, Santo Stefanus menunjukkan iman yang teguh, penuh Roh Kudus, dan berani bersaksi tentang kebenaran meskipun menghadapi fitnah dan ancaman. Wajahnya tetap damai karena hatinya selalu tertuju pada Allah. Di sisi lain, orang banyak mencari Yesus hanya karena mereka kenyang dengan roti, bukan karena iman.
Yesus dengan tegas mengingatkan: “Jangan bekerja untuk makanan yang akan binasa, tetapi untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.” Ini adalah undangan untuk memurnikan motivasi kita dalam beriman. Terkadang kita datang kepada Tuhan hanya saat membutuhkan sesuatu—saat sakit, saat kesulitan, atau saat hati gelisah. Kita mencari Tuhan karena “roti”—karena berkat, kenyamanan, atau solusi cepat. Namun, Yesus mengajak kita melampaui itu. Ia menghendaki kita mencari Dia sendiri, bukan hanya apa yang bisa Ia berikan.
Santo Stefanus menjadi teladan iman yang sejati. Ia tidak mencari keuntungan duniawi, melainkan setia pada kebenaran. Bahkan dalam penderitaan, ia tetap memancarkan damai. Ini menunjukkan bahwa “makanan rohani” yang sejati—iman kepada Kristus—memberi kekuatan yang tidak tergoyahkan oleh keadaan apa pun.
Hari ini kita diajak untuk bertanya dalam hati:
– Apakah aku mencari Tuhan hanya saat butuh?
– Apakah imanku bertumbuh atau hanya berjalan di tempat?
– Sudahkah aku mengutamakan “makanan rohani” dalam hidupku?
Percaya kepada Yesus bukan hanya soal kata-kata, tetapi sikap hidup: setia, tekun, dan tetap berharap, bahkan saat jalan terasa sulit.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk tidak hanya mencari berkat-Mu, tetapi mencari Engkau sendiri. Kuatkan imanku agar tetap setia seperti Santo Stefanus, dan tuntunlah aku untuk selalu mengutamakan hal-hal yang membawa hidup kekal. Amin.





