Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang Mencengangkan
Pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen menjadi tanda kuatnya daya tahan ekonomi nasional. Angka ini bahkan melampaui beberapa negara besar seperti Amerika Serikat dengan pertumbuhan sekitar 2,7 persen, Korea Selatan 3,6 persen, dan China sekitar 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang dalam kondisi yang stabil dan berkembang pesat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dibanding beberapa negara G20. “Pertumbuhan kita 5,61 persen ini di atas beberapa negara G20,” ujarnya dalam Taklimat Media di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (5/5/2026) sore.
Menurut dia, capaian tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat, terutama saat momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang meningkatkan mobilitas dan belanja. Selain itu, belanja pemerintah juga menjadi penopang penting. Realisasi belanja negara meningkat signifikan pada awal tahun, antara lain melalui program stimulus dan penyaluran tunjangan hari raya.
Namun, pemerintah mengakui tantangan menjaga laju pertumbuhan pada kuartal II tidak ringan. Tanpa momentum musiman seperti Lebaran, aktivitas konsumsi berpotensi melandai. Untuk itu, pemerintah akan mengandalkan belanja negara serta menjaga daya beli masyarakat, antara lain melalui penyaluran gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN) dan berbagai insentif.
Rupiah Terus Melemah
Selain itu, nilai tukar rupiah juga terus menunjukkan pelemahan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo angkat bicara soal rupiah yang menembus level Rp 17.400-an per dolar AS pada Selasa (5/5/2026). Menurutnya, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh faktor global serta faktor musiman.
“Kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua, yaitu faktor global dan faktor musiman. Faktor globalnya adalah, satu, harga minyak yang tinggi; dua, suku bunga AS yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen,” ungkap Perry bersama jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Negara, Jakarta, Selasa malam.
Selain itu, penguatan dolar AS juga menyebabkan rupiah tertekan. Terjadi arus keluar modal atau capital outflow yang cukup masif dari emerging market, termasuk Indonesia. Tak ayal, Mata Uang Garuda mengalami koreksi.
“(Mengenai faktor musiman) Memang secara musiman, April, Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, serta untuk kebutuhan jamaah haji,” jelasnya.

Warga bersiap melakukan penukaran uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. – (Infomalangraya.net/Prayogi)
Kendati demikian, Perry berujar, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, kondisi ketika rupiah masih lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Artinya, masih ada peluang bagi rupiah untuk menguat.
“Nilai tukar sekarang ini undervalue. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan Pak Menko (Airlangga Hartarto), fundamental kita kuat, pertumbuhan ekonomi sangat tinggi 5,61 persen (kuartal I 2026), inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” terang Perry.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,17 persen menuju level Rp 17.423,5 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Level tersebut merupakan posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah.
Anomali Pertumbuhan Ekonomi
Sementara itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan pemerintah telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 dengan angka yang sangat tinggi, yakni 5,61 persen. Huda menyebut angka tersebut tertinggi sejak 2012 dan dua periode pemerintahan Jokowi pun tidak mampu mencapai 5,6 persen.
“Namun demikian, ada anomali kondisi terhadap hasil perhitungan pemerintah tersebut,” ujar Huda saat dihubungi Infomalangraya.net di Jakarta, Selasa.
Anomali pertama, ucap Huda, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2025, yakni tumbuh sebesar 5,52 persen (2026) dari 4,96 persen (2025). Padahal, berdasarkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Maret 2026 sebesar 122,9 basis poin atau turun dibandingkan Januari 2026 sebesar 127,0 basis poin.
“Tahun lalu juga mengalami penurunan serupa meskipun lebih tajam. Biasanya, IKK ini mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga, namun menurut data BPS, ternyata tidak,” sambung Huda.
Lebih menarik lagi, lanjut Huda, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya mengalami perlambatan dibandingkan kuartal I 2025. Padahal, ada momen Ramadhan-Lebaran yang seharusnya dapat mendongkrak.
“Sedangkan tahun lalu tumbuh 6,86 persen, tapi konsumsi rumah tangga jauh lebih lambat. Jadi ada anomali dalam perhitungan konsumsi rumah tangga yang dilakukan oleh BPS,” ungkap Huda.

Perangkat desa mengendarai mobil saat pembagian mobil Koperasi Desa Merah Putih di Kodim 0724/ Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). – (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)





