Perang di Ukraina: Tiga Perspektif yang Menggambarkan Kondisi Dunia Saat Ini
Empat tahun setelah tentara Rusia mundur dari Bucha, meninggalkan bukti kebrutalan yang mengguncang nurani dunia, perang di Ukraina masih jauh dari titik penyelesaian. Di berbagai kota besar seperti Moskow, Berlin, dan Kyiv, para ahli dan tokoh masyarakat memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana konflik ini terus berkembang dan apa implikasinya bagi dunia.
Rusia Harus Bermain Lebih Keras
Profesor Sergey Karaganov, ketua kehormatan Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Rusia, menyampaikan argumen bahwa perang dunia skala penuh telah dimulai. Bagi Karaganov, konflik yang tengah berlangsung bukan sekadar perang di Ukraina, melainkan babak terbaru dari pertarungan yang berakar sejak 1917, ketika Uni Soviet memisahkan diri dari sistem kapitalis global.
Kesalahan Rusia, menurutnya, bukan pada keputusan untuk bertindak, melainkan pada cara bertindak. Ia menyebut beberapa kekeliruan strategis yang menurutnya telah memperlemah posisi Moskow: meremehkan tekad Barat untuk menghancurkan Rusia, meremehkan kesiapan militer Ukraina, dan gagal memanfaatkan secara optimal senjata terpenting dalam arsenal Rusia, yakni pencegahan nuklir.
Resep Karaganov adalah yang paling kontroversial di antara ketiga analis ini. Ia menyerukan revisi doktrin nuklir Rusia agar secara eksplisit menyatakan kesiapan menggunakan senjata nuklir jika Barat terus meningkatkan eskalasi. “Ilusi bahwa elit politik dan militer dapat bersembunyi di bunker atau lokasi terpencil harus dihilangkan,” tegasnya. Ia bahkan menyarankan agar Rusia mempertimbangkan pengujian nuklir untuk memperkuat kredibilitas pencegahannya.
Namun Karaganov juga menawarkan dimensi yang lebih konstruktif. Ia menyerukan koordinasi yang lebih erat dengan China, stabilisasi kawasan Timur Tengah melalui pengaturan keamanan baru, dan yang menarik, ia menganjurkan Rusia untuk belajar dari Iran dalam hal serangan asimetris terhadap titik-titik lemah musuh. “Teheran mulai menyerang titik lemah musuh, dan musuh merasakan dampaknya serta terpaksa mundur,” tulisnya, melihat dalam konflik Iran-AS sebuah pelajaran yang relevan bagi Moskow.

Menhan Rusia Sergei Shoigu (tengah) meninjau industri strategis. – (EPA-EFE/RUSSIAN DEFENCE MINISTRY PRESS SERVIC)
Jerman Ingin Menjadi Kekuatan Militer, Tetapi Masyarakatnya Belum Siap
Jika Karaganov berbicara dari posisi seorang arsitek strategi, Uli Brückner dari TRT World mengajukan pertanyaan yang lebih membumi namun tak kalah penting: apakah masyarakat Jerman benar-benar siap untuk perubahan radikal yang tiba-tiba dicanangkan para politisinya?
Konteks di balik pertanyaan itu adalah ambisi yang diumumkan Kanselir Friedrich Merz: menjadikan Jerman sebagai kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa pada 2039. Bagi Brückner, pengumuman itu adalah “terobosan bersejarah,” namun ia segera menambahkan sesuatu yang para politisi Berlin tampaknya enggan akui: “Masyarakat yang seharusnya menempuh jalan ini justru tidak siap, secara politik, ekonomi, dan dalam pemahaman diri mereka sendiri.”
Brückner menelusuri akar dari ketidaksiapan itu ke dalam identitas Jerman pasca-Perang Dunia II. Pasifisme, ia tegaskan, bukan sekadar program politik di Jerman, melainkan “citra diri dan narasi resmi tentang siapa kita ingin menjadi setelah Nazisme.” Frasa “tidak pernah lagi perang, tidak pernah lagi dari tanah Jerman” bukan slogan kosong, ia terukir dalam ingatan kolektif generasi demi generasi, dan membantu Jerman mendapatkan kembali kepercayaan dari komunitas internasional setelah kehancuran yang ditimbulkannya.
Kompleksitas itu semakin dalam ketika memperhitungkan warisan perpecahan Jerman. “Di Jerman Barat dan Jerman Timur, muncul dua budaya peringatan yang sangat berbeda mengenai perang, militer, dan kekuatan nasional,” tulis Brückner. Skeptisisme mendalam warga Jerman Timur terhadap kebijakan militer, yang sering dianggap sebagai “urusan Barat,” belum pernah benar-benar teratasi.
Namun tantangan paling praktis yang Brückner soroti adalah soal orang dan uang. Jerman memiliki populasi yang menua, militer yang menghadapi masalah perekrutan serius, dan generasi muda yang tumbuh dengan iklan Bundeswehr namun jarang mempertimbangkan untuk benar-benar mengabdi. “Membentuk angkatan bersenjata profesional dengan ukuran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ini sama sekali tidak mungkin tanpa diskusi struktural di masyarakat tentang dinas militer, wajib militer, atau insentif,” tegasnya.
Yang paling menggugah dari analisis Brückner adalah kekhawatirannya tentang reaksi tetangga Jerman. “Bagi Prancis, Polandia, negara-negara Baltik, dan anggota Uni Eropa yang lebih kecil, masih belum jelas apa sebenarnya yang ingin dilakukan Jerman dengan kemampuan militernya yang terus berkembang,” tulisnya. “‘Masalah Jerman’ belum hilang. Persenjataan kembali tanpa kerangka politik bukanlah sinyal keamanan, melainkan sinyal ketidakamanan.”
Glushko: Bucha Menjawab Pertanyaan yang Masih Abstrak bagi Dunia Luar
Dari sisi yang paling langsung merasakan dampak konflik ini, Denys Glushko, pemimpin redaksi portal berita Ukraina “Apostrophe,” menawarkan perspektif yang paling konkret sekaligus paling emosional dari ketiganya.
Glushko memulai dari Bucha bukan sebagai retorika, melainkan sebagai argumen. Empat tahun setelah pembebasan kota itu, ia menegaskan bahwa apa yang terjadi di sana bukan sekadar kenangan, melainkan jawaban atas pertanyaan yang masih dianggap abstrak oleh banyak orang di luar Ukraina: “Apa arti perdamaian dengan syarat-syarat Rusia bagi Ukraina?”
Jawabannya, menurut Glushko, sudah tertulis jelas di reruntuhan Bucha: bukan hanya soal wilayah, tetapi “tentang kelangsungan hidup negara, keselamatan warga di kota-kota, dan hak negara untuk eksis dalam kondisi selain yang dipaksakan oleh Moskow.”
Glushko tidak menutup mata terhadap dinamika diplomatik yang sedang berlangsung. Ia mengakui bahwa pertemuan-pertemuan antara perwakilan Ukraina, Amerika, dan Rusia terus berlanjut, namun dengan diagnosis yang dingin: “Pertemuan-pertemuan ini semakin menyerupai diskusi paralel tanpa tujuan, alih-alih negosiasi.” Rusia, ia tegaskan, mendapat keuntungan dari penampilan diplomasi tanpa harus benar-benar berkomitmen pada penyelesaian. “Negosiasi yang terhenti memberi waktu, mengurangi tekanan, dan mempertahankan ilusi bahwa perang masih dapat diselesaikan melalui keterlibatan yang sabar.”
Satu-satunya hasil bermakna dari proses diplomatik yang ada, menurut Glushko, adalah pertukaran tahanan. Sejak awal 2026, 650 personel militer dan tujuh warga sipil Ukraina telah dipulangkan. “Ini bukanlah hal kecil bagi warga Ukraina dan keluarga mereka,” akuinya. Namun ia segera menambahkan: “Pemulangan kemanusiaan bukanlah solusi untuk mengakhiri perang.”
Di tengah kegelisahan itu, Glushko juga menyampaikan kabar yang lebih menggembirakan. Panglima Tertinggi Ukraina Oleksandr Syrskyi melaporkan bahwa pasukan Ukraina telah merebut kembali sekitar 470 kilometer persegi di selatan. Serangan drone jarak menengah ke infrastruktur minyak dan industri militer Rusia, meskipun tidak sesensasional terobosan di garis depan, “mengubah logika perang dengan cara lain: mempersulit logistik dan meningkatkan biaya agresi bagi Rusia.”
Kesimpulan Glushko adalah yang paling realistis dalam konteks perang yang sedang berlangsung: Ukraina harus terus bergerak di dua jalur sekaligus, diplomasi dan medan tempur, karena tidak ada kemewahan untuk memilih hanya satu. “Kyiv tidak punya pilihan lain selain bekerja pada dua jalur secara bersamaan: melanjutkan diplomasi, apa pun bentuknya, dan pada saat yang sama mempersiapkan diri untuk perang yang pada akhirnya akan ditentukan terutama oleh kekuatan, daya tahan, dan kemampuan negara.”
Fase yang Tak Bisa Diselesaikan dengan Cara Lama
Karaganov, Brückner, dan Glushko datang dari posisi yang berbeda secara fundamental: satu berbicara untuk Rusia, satu menganalisis Jerman, dan satu mewakili Ukraina. Namun ketiganya bertemu pada satu pengakuan yang sama: bahwa konflik ini telah memasuki fase yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan formula-formula lama.
Karaganov menunjukkan bahwa Rusia tidak bisa mengandalkan perang gesekan konvensional tanpa mengorbankan terlalu banyak dan mendapat terlalu sedikit. Brückner menunjukkan bahwa Jerman, dan secara lebih luas Eropa, tidak bisa hanya menambah anggaran pertahanan tanpa membangun konsensus sosial yang menopangnya. Dan Glushko menunjukkan bahwa Ukraina tidak bisa menerima “perdamaian” yang pada praktiknya adalah penyerahan diri bertahap.
Yang ketiga analisis ini tidak satupun menjawab dengan tuntas adalah pertanyaan yang paling mendasar: di mana titik keluar dari spiral ini? Di sanalah ruang kosong yang paling besar masih menganga, menunggu untuk diisi bukan oleh analis, melainkan oleh keputusan-keputusan politik yang konsekuensinya akan dirasakan jauh melampaui mereka yang membuatnya.





