Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius: Situasi yang Mengkhawatirkan
Beberapa warga Amerika Serikat yang kembali ke rumah dari kapal pesiar MV Hondius, yang terinfeksi hantavirus, saat ini sedang dipantau karena berpotensi tertular penyakit mematikan tersebut. Para turis dari tiga negara bagian AS berada di atas kapal ketika wabah penyakit itu terjadi bulan lalu. Tiga penumpang di atas kapal tersebut kemudian meninggal dunia, sementara lima lainnya jatuh sakit setelah menunjukkan gejala hantavirus, yaitu keluarga virus langka yang disebarkan oleh hewan pengerat.
Departemen Kesehatan Masyarakat Georgia mengatakan bahwa mereka sedang memantau dua warga yang “saat ini dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.” Departemen Kesehatan Masyarakat California juga mengatakan bahwa mereka telah diberitahu bahwa ada warga yang berada di atas kapal tersebut, tetapi para pejabat tidak merinci berapa banyak warga yang mereka pantau. Selain itu, Departemen Layanan Kesehatan Arizona mengatakan telah menerima pemberitahuan bahwa seorang warga adalah penumpang kapal pesiar tersebut, meskipun seorang juru bicara mengatakan bahwa “individu tersebut tidak menunjukkan gejala, dan sedang dipantau.”
Kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik Selatan menjadi sorotan dunia setelah wabah hantavirus merebak di atas kapal. BBC melaporkan sedikitnya delapan kasus hantavirus telah teridentifikasi sejauh ini, terdiri dari tiga kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan. WHO kini turun tangan untuk menyelidiki kemungkinan penyebaran virus antar manusia di atas kapal.
Lima Fakta Penting Mengenai Wabah Hantavirus di MV Hondius
1. Tiga Penumpang Dilaporkan Tewas di Tengah Pelayaran
Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius mengejutkan dunia internasional setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia selama perjalanan di Samudra Atlantik Selatan. BBC melaporkan korban pertama adalah seorang pria asal Belanda yang meninggal pada 11 April saat kapal masih berada di tengah pelayaran. Saat itu, penyebab kematiannya belum diketahui secara pasti sehingga perjalanan kapal tetap berlanjut sesuai rute awal. Namun situasi berubah drastis setelah istrinya yang ikut dalam pelayaran juga jatuh sakit. Perempuan berusia 69 tahun itu kemudian dievakuasi ke Johannesburg, Afrika Selatan, tetapi akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. WHO kemudian mengonfirmasi bahwa korban positif terinfeksi hantavirus. Beberapa hari kemudian, seorang warga negara Jerman juga meninggal dunia sehingga total korban tewas bertambah menjadi tiga orang.
2. WHO Selidiki Dugaan Penularan Antar Manusia
WHO kini menaruh perhatian serius terhadap wabah di MV Hondius karena adanya indikasi penularan antar manusia. BBC melaporkan WHO menduga virus kemungkinan telah menyebar di antara para penumpang selama pelayaran berlangsung. Kementerian Kesehatan Afrika Selatan menyebut galur Andes hantavirus ditemukan pada dua pasien yang dievakuasi dari kapal. Galur Andes merupakan salah satu jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia melalui kontak dekat. Temuan itu meningkatkan kekhawatiran karena sebagian besar hantavirus umumnya menyebar melalui paparan kotoran tikus yang terinfeksi. Para ahli kesehatan kini masih menyelidiki bagaimana virus pertama kali muncul di kapal tersebut.
3. Penumpang Mengaku Hidup dalam Ketidakpastian
Di tengah penyelidikan wabah, para penumpang mengaku mengalami tekanan mental akibat ketidakjelasan situasi. Sekitar 150 penumpang dari 23 negara kini masih berada di kapal yang terdampar di dekat Tanjung Verde, wilayah kepulauan di barat Afrika. Salah satu penumpang yang paling banyak menarik perhatian publik adalah Jake Rosmarin, seorang vlogger perjalanan asal Amerika Serikat. Rosmarin aktif membagikan kondisi di atas kapal melalui video media sosialnya. Dalam salah satu video, ia terlihat menangis saat menceritakan situasi yang dihadapi para penumpang.
4. Tidak Semua Penumpang Menganggap Situasi Darurat
Meski banyak penumpang merasa takut, sebagian lainnya menilai situasi di kapal masih terkendali. Seorang influencer perjalanan lain bernama Kasem Hato mengatakan kepanikan yang beredar di media sosial terlalu berlebihan. Ia mengatakan sebagian besar penumpang tetap tenang dan mencoba menjalani aktivitas sehari-hari seperti membaca buku, menonton film, hingga menikmati minuman hangat di atas kapal.
5. Perjalanan Wisata Impian Berubah Jadi Mimpi Buruk
MV Hondius awalnya menawarkan pelayaran wisata eksklusif melintasi kawasan terpencil Atlantik Selatan yang jarang dijangkau wisatawan umum. Kapal itu berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April lalu. Perjalanan tersebut dijanjikan sebagai pengalaman mewah dengan panorama alam liar, pegunungan bersalju, dan koloni penguin di South Georgia. Namun perjalanan impian tersebut berubah menjadi situasi mencekam setelah wabah hantavirus merebak di tengah laut.





