Minuman Kopi yang Terinspirasi dari Melbourne
Banyak minuman kopi populer seperti Flat White, Magic, Mont Blanc, dan Dirty -85 Degrees, mungkin sudah tidak asing bagi para pecinta kopi di Indonesia. Meski memiliki rasa dan cara penyajian yang berbeda, ketujuh minuman ini sama-sama populer di Melbourne, Australia.
Mont Blanc, misalnya, adalah minuman kopi dingin yang disajikan dengan lapisan tebal krim, kulit jeruk, dan pala. Minuman ini dipopulerkan oleh kafe Good Measure di Melbourne. Kini, Mont Blanc juga bisa ditemukan di sejumlah kafe di Indonesia, termasuk Gould Coffee & Eatery Jakarta.
Vanessa Rae, salah satu pemilik kafe tersebut, mengatakan bahwa mereka sudah mengenal Mont Blanc sejak dua tahun lalu. “Kita sudah coba bikin [tapi] kita masih ragu nih orang Indonesia paham atau enggak,” katanya. Ia juga menyebutkan kekhawatiran bahwa budaya Australia belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia.
Namun, setelah menyesuaikan selera orang Indonesia, Mont Blanc diterima dengan baik. “Mungkin orang Indonesia sukanya lebih kuat ya kopinya di kita, dan enggak terlalu manis,” kata Vanessa. Saat ini, Mont Blanc sudah cukup populer dan orang-orang sudah tahu bagaimana rasanya.
Vanessa dan Marvy Jonathan, pemilik kafe yang pernah tinggal di Melbourne selama lima tahun, mengatakan bahwa selera orang Melbourne dan Indonesia “tidak terlalu berbeda.” “Karena Melbourne itu memang banyak orang-orang dari berbagai macam negara, jadi the palate is actually international palate. Jadi it’s very well accepted as is,” katanya.
Selain Mont Blanc, menu makanan yang dijual di Gould Coffee & Eatery juga membawa kenangan tersendiri bagi Vanessa dan Marvy. Contohnya gyudon dan pie daging yang menjadi makanan sehari-hari saat mereka kuliah, ‘jam doughnut’ atau donat selai yang dijual di Queen Victoria Market, serta ricotta hotcakes. “Masih banyak banget yang pengen kita bawa,” ujar Marvy. “Cuma kan ya kita harus mikir apa ya yang kira-kira orang Indonesia suka.”
Asal Mula Mont Blanc
Brandon Jo, salah satu pendiri Good Measure, mengatakan Mont Blanc terinspirasi dari kedai kopi yang menjual ‘signature drinks’ yang ditemukannya ketika berwisata ke Asia. “Inspirasinya sebenarnya dari minuman yang saya lihat di Korea, di kafe namanya Milo Coffee Roasters, Milo Tea House,” katanya kepada ABC Indonesia. “Jadi dasarnya adalah kopi filter dengan krim di atasnya … saya mengambil format itu, dan mengembangkannya bersama mitra bisnis saya untuk menu kami saat membuka kafe ini.”
Brandon mengaku tidak menyangka minuman tersebut menjadi viral usai ada yang mem-posting Mont Blanc di media sosial, beberapa bulan setelah mulai dijual. “Kami hanya ingin [menyediakan] sesuatu yang berbeda dalam menu kami, sedikit bersenang-senang, dan menyajikan sesuatu yang berbeda,” katanya.
Kini, Good Measure menjual 500-600 gelas Mont Blanc per hari pada hari biasa, dan ribuan pada akhir pekan. Ia merasa senang karena minuman racikannya “diterima dengan sangat baik”, namun berharap orang lain bisa “menambahkan sedikit sentuhan berbeda.” “Karena pada akhirnya saya merasa kalau semuanya melakukan hal yang sama, akan terasa membosankan,” ujarnya.
Minuman Populer Lainnya
Selain Mont Blanc, kedai kopi yang mengusung tema budaya Melbourne juga mulai menjual variasi dari minuman bernama Tiger Bomb. Misalnya La Trobe Coffee & Brunch, yang berlokasi di Jakarta. Kerinduan terhadap pengalaman kuliner di Melbourne mendorong pemilik kafe Ridwan Heisel dan Catherine Isabel untuk membuka kafe tersebut.
“Melbourne, the coffee, the people, the ambience … terus kita mikir, ‘kenapa kita enggak bawa saja Melbourne ke Jakarta?” ujar Heisel Ketika ditanya tentang alasan membuka kafe bernuansa Melbourne. “Kita juga membawa memorinya juga. Makanya ada banyak memori di sini. Ini foto-foto yang di mana memang dari saudara kita fotografer, mereka pajang fotonya di sini.”
Restoran tersebut juga menjual makanan yang disajikan kafe-kafe Melbourne, seperti Avocado on Toast, Eggs Benedict, bagel, hingga Lamington Cake, dan Halal Snack Pack. “Pendekatannya itu selalu berdasarkan ingatan nostalgia … tapi kami berusaha menghormati dengan tidak [menjual produk yang] sama persis,” kata Heisel soal menu mereka.
Termasuk menu minuman Tiger Coffee, yang terinspirasi dari Tiger Bomb milik Caleb. “Kita merasa kayak kita tuh perlu ya ke sana [Melbourne] untuk lihat ‘what’s the hype’ … makanan apa yang lagi hits, atau minuman yang lagi hits,” kata Catherine. “Misalnya Tiger Coffee, intinya dari Mont Blanc misalnya, dari orange zest-nya gitu, krimnya. Jadi kayak di situ nanti kita pulang kita R&D untuk coba yang memang cocok di lidah kita.”
Di Yogyakarta, versi lain dari Tiger Bomb juga dijual di Wombats Coffee, kafe dengan konsep ‘open bar’ yang didirikan oleh Farchan Noor Rachman. Sebelum membuka bisnis tersebut, Farchan sempat belajar dan bekerja sebagai barista di Melbourne. Ia mengganti nama versi Tiger Bomb-nya menjadi “Melbourne Finest” setelah sempat meminta izin kepada pembuatnya di Melbourne.
Farchan mengatakan menu tersebut menjadi yang “paling ramai” dipesan untuk saat ini, di samping Magic, yang juga merupakan kesukaan pelanggannya. Ia juga ingin mempertahankan nuansa kafe Melbourne, dengan menjual ‘pastry’, atau kue-kue kering dan roti pisang. “Memang kiblat kopi Indonesia kebanyakan di Australia, sih,” kata Farchan kepada ABC Indonesia. “Sebagai orang yang berbisnis kopi, kami tidak bisa memungkiri influence-nya besar sekali, baik dari sisi culture, rasa, maupun menu.”
Tidak jarang Farchan juga melayani pelanggan Australia yang sedang berwisata di Yogyakarta.
Peniru Bisa Merusak Reputasi
Meski semakin populer di Indonesia, Caleb mengatakan terkejut ketika mengetahui bahwa kedai kopi di negara tetangganya menjual minuman seperti Tiger Bomb. Caleb, yang berasal dari Korea, mengatakan ia menciptakan nama “Tiger Bomb” pada tahun 2016. Kata “harimau” dalam bahasa Korea terdengar mirip dengan “bom.” “Jadi Tiger Bomb berarti ‘harimau harimau’,” katanya.
Ia mengatakan selama pandemi, ia mulai bereksperimen untuk menciptakan minuman baru yang sesuai dengan namanya. “Butuh waktu 100 hari untuk menyempurnakan resepnya,” katanya. Mantan Juara Dunia Latte Art tersebut meluncurkan minuman ini saat membuka kafe Tone Coffee di Melbourne pada tahun 2023.
Caleb mengatakan pada hari pertama pembukaan kafenya, seorang pelanggan memposting Tiger Bomb di platform media sosial China, Little Red Book, yang menyebabkan produk tersebut langsung “viral.” “Tiba-tiba, semua orang datang untuk mencicipi kopi itu dan tidak pernah berhenti.”
Caleb mengatakan khawatir orang-orang yang menjual versi Tiger Bomb yang tidak enak akan merusak citra minumannya. “Pemakaian nama itu untuk menu mereka bisa merusak reputasi saya,” katanya. Ia mengatakan telah memberi tahu beberapa pemilik kafe ia menganggap minuman itu sebagai kekayaan intelektualnya dan kini sedang mencari cara untuk melindungi nama minuman buatannya secara hukum.
“Saya memiliki pengacara, ia memberi nasihat tentang banyak hal, jadi kami masih membicarakannya,” kata Caleb. “Kami masih mengumpulkan informasi; bagaimana ini memengaruhi bisnis saya, bagaimana mereka menghasilkan uang dari nama itu. Ketika pengacara saya memberi instruksi, ‘Oke, ini saatnya untuk melakukannya’, saya akan melakukannya.”
Di Indonesia, keributan terkait Hak Kekayaan Intelektual sebelumnya pernah terjadi dengan Geprek Bensu, di mana Ruben kalah ketika menggugat kepemilikan merek dagang dengan nama tersebut. Putusan tersebut merupakan hasil atas gugatan yang dilayangkan Ruben Onsu kepada PT Ayam Geprek Benny Sujono selaku pemegang merek I Am Geprek Bensu Sedep Beneerrr.
Apakah Bisa Melindungi Resep Secara Hukum?
Menurut pakar Hak Kekayaan Intelektual dari University of Technology Sydney (UTS) Dr Sarah Hook, di Australia, resep tidak dapat dipatenkan kecuali “inovatif.” “Sangat tidak mungkin di industri makanan, kecuali bila bereksperimen dengan beberapa bahan kimia yang sangat tidak dikenal dan sejenisnya, kita dapat mematenkan resep untuk secangkir kopi, atau latte,” katanya.
“Jadi pilihannya cuma hak cipta (copyright) atau merek dagang (trade marks).” Dr Hook mengatakan nama sebuah produk dapat dilindungi dengan mendaftarkannya sebagai merek dagang. Namun, ia mengatakan nama tersebut harus baru, bukan sesuatu yang sudah umum digunakan, seperti “latte.”
“Setelah mendaftarkan merek dagang [nama tersebut], hal ini tidak menghentikan pesaing dari membuat produk kopi yang sama, tetapi menghentikan mereka untuk mengiklankan produk itu sebagai produk kopi yang telah Anda bangun merek dan reputasinya.” Menurut situs web IP Australia, permohonan merek dagang dapat diajukan secara online dan membutuhkan waktu setidaknya tujuh bulan untuk diproses.
Dr Hook mengatakan permohonan merek dagang juga dapat diajukan di yurisdiksi lain tetapi tidak akan memberikan banyak perlindungan. “Ada yang namanya teritorialitas,” katanya. “Jadi, pengadilan Australia kita tidak bisa benar-benar melihat dan mengawasi hal-hal yang dilakukan di yurisdiksi lain.”





