Perayaan Isra Miraj 2026 dan Maknanya dalam Islam
Isra Miraj adalah peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 2026, perayaan ini akan jatuh pada tanggal 16 Januari. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Muslim, tetapi juga dianggap sebagai hari besar yang dirayakan secara nasional di Indonesia.
Peristiwa Isra Miraj mencakup perjalanan satu malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh untuk menerima wahyu tentang perintah sholat lima waktu. Meskipun peristiwa ini terjadi atas kuasa Allah SWT, hal tersebut tidak bisa dijelaskan secara akal manusia.
Di Indonesia, Isra Miraj diperingati setiap tahun dan menjadi salah satu Hari Libur Nasional PBHI (Peringatan Hari Besar Islam). Banyak kalangan Muslim menjadikan hari ini sebagai momen khusus untuk merayakan dan memperingati peristiwa agung ini.
Hukum Merayakan Isra Miraj dalam Islam
Dalam pandangan Islam, hukum merayakan Isra Miraj menjadi topik yang sering dibahas oleh para ulama. Salah satu ulama terkenal dari Madinah, Syeikh Sulaiman ar Ruhaili Hafizhahullah, mengatakan bahwa tidak ada riwayat dari Al-Quran maupun hadis yang secara pasti menentukan bulan terjadinya Isra Miraj.
Bahkan, para ulama memiliki pendapat berbeda dalam menentukan bulan terjadinya peristiwa ini. Hal ini disebabkan karena tidak adanya riwayat shahih yang dapat dijadikan pegangan. Oleh karena itu, umat Muslim dilarang menetapkan hari ke-27 bulan Rajab sebagai hari Isra dan Miraj.
Ada dua alasan utama mengapa umat Muslim tidak dianjurkan merayakan hari Isra Miraj:
- Pertama, karena tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa 27 Rajab adalah hari Isra dan Miraj.
- Kedua, karena Nabi Muhammad SAW yang diberi nikmat oleh Allah untuk mengalami peristiwa agung ini, tidak pernah merayakan malam Isra Miraj atau mengkhususkannya dengan sholat atau puasa tertentu.
Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang paling banyak bersyukur dan selalu menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh. Beliau bahkan mendirikan sholat sampai pecah telapak kakinya. Namun, beliau tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan sunnahnya.
Pandangan Islam Mengenai Ibadah yang Tidak Ada Dasarnya
Dalam aspek kehidupan, umat Muslim dituntut untuk meneladani sikap Rasulullah SAW. Setiap amalan ibadah yang dikerjakan tanpa dasar dari Nabi Muhammad SAW tidak diterima di sisi Allah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa umat Muslim harus berhati-hati dalam melakukan amalan ibadah yang tidak didasarkan pada ajaran Nabi.
Kesimpulan
Isra Miraj adalah peristiwa yang sangat berharga dalam sejarah Islam. Meski begitu, umat Muslim perlu memahami hukum merayakan peristiwa ini dengan benar. Dengan memperhatikan petunjuk Nabi Muhammad SAW dan menghindari amalan yang tidak ada dasarnya, kita dapat menjadi hamba Allah yang bertakwa dan menjauhi larangan-Nya.





