Pengertian Bulan Zulhijah dan Ibadah Haji
Bulan Zulhijah merupakan bulan ke-11 dalam penanggalan Hijriyah, yang juga dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram. Bulan ini menjadi bulan istimewa bagi Nabi Muhammad SAW, karena beliau sering menjalankan ibadah umrah di bulan ini. Dalam bulan Zulhijah terdapat hari-hari besar, termasuk Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Lebaran Haji atau Idul Qurban.
Pada hari raya tersebut, sebagian umat Islam melaksanakan ibadah haji dan memperingati hari raya dengan penyembelihan hewan kurban. Hal ini berkaitan dengan perjalanan ibadah para jemaah haji. Selain itu, dalam rangkaian ibadah haji, wukuf di Arafah menjadi penentu dan keabsahan ibadah seseorang.
Fase Puncak Haji Armuzna
Salah satu fase paling penting dalam rangkaian ibadah haji adalah puncak haji Armuzna, yakni prosesi ibadah yang berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tahapan ini menjadi inti pelaksanaan haji sekaligus penentu kesempurnaan ibadah para jemaah.
Armuzna sendiri merupakan singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang menjadi lokasi utama pelaksanaan ibadah haji. Ketika di Arafah, jemaah menjalani wukuf yang menjadi rukun haji paling utama. Setelah itu, jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam sambil mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumrah. Lalu selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah dan mabit selama hari tasyrik.
Rangkaian Armuzna dikenal sebagai fase yang cukup berat karena jemaah harus menghadapi cuaca panas ekstrem dan kepadatan jutaan orang. Oleh sebab itu, kesiapan fisik dan mental sangat diperlukan agar ibadah berjalan lancar.
Jadwal Puncak Haji Armuzna 2026
Tahapan Puncak Haji Armuzna 2026 akan dilaksanakan mulai 8 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Dalam kalender Masehi diperkirakan berlangsung pada 25 Mei hingga 30 Mei 2026. Berikut jadwal penanggalannya:
- 25 Mei 2026 (8 Dzulhijjah): Jemaah bergerak dari Makkah menuju Mina.
- 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah): Pelaksanaan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.
- 27 Mei 2026 (10 Dzulhijjah): Hari Raya Idul Adha, lempar jumrah aqabah, penyembelihan kurban, tahalul, dan tawaf ifadah.
- 28 Mei 2026 (11 Dzulhijjah): Hari Tasyrik pertama dan lempar tiga jumrah.
- 29 Mei 2026 (12 Dzulhijjah): Hari Tasyrik kedua dan pilihan nafar awal.
- 30 Mei 2026 (13 Dzulhijjah): Hari Tasyrik ketiga atau nafar tsani.
Selain jadwal puncak Armuzna, pemerintah juga telah menyusun jadwal lengkap perjalanan haji 2026. Disamping itu, tak hanya puasa Ramadan sebelum masuk Lebaran Idul Fitri, pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah juga terdapat puasa Tarwiyah pada 8 Zulhijah dan puasa Arafah pada 9 Zulhijah, sebelum Idul Adha.
Puasa Arafah dan Tarwiyah 2026
Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan kedua puasa tersebut, karena begitu besar keutamaan yang terkandung di dalamnya. Puasa ini bertepatan dengan berkumpulnya jemaah haji di Padang Arafah, dan hanya dianjurkan bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Hingga detik ini, belum ada pengumuman resmi dari Pemerintah, mengenai kapan awal bulan Zulhijah 1447 H akan dimulai. Pasalnya, ketetapan tersebut akan diambil berdasarkan hasil sidang isbat di penghujung bulan Zulkaidah nanti. Meski begitu, merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia terbitan Kementerian Agama (Kemenag) RI, Hari Raya Idul Adha 1447 H diprediksi akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Bolehkah Kerjakan Puasa Arafah Meski Masih Ada Utang di Ramadhan
Puasa Arafah disebut dalam hadits mengandung keutamaan sehingga dianjurkan pengamalannya pada bulan Dzulhijjah. Namun, bagaimana hukum pengamalan puasa Arafah bagi mereka yang belum selesai melunasi utang puasa Ramadan?
Rasulullah SAW pernah menyebutkan puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Beliau bersabda:
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharam) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Selain itu, dalam riwayat lain disebutkan, puasa Arafah disebut sebagai amalan yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW. Landasannya didasarkan dari salah satu riwayat hadits yang dikisahkan oleh Hafshah bin Umar bin Khattab RA.
“Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW yaitu, puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan An Nasa’i).
Hal ini, memungkinkan para muslim yang memiliki uzur mengerjakan puasa Ramadan tidak ingin ketinggalan dengan keutamaan yang dikandung puasa Arafah.
Bolehkah Puasa Arafah Tapi Masih Ada Utang di Ramadan?
Mengenai perkara mengamalkan puasa sunnah sebelum melunasi utang puasa Ramadan masih diperselisihkan di kalangan ulama. Sebagian ulama membolehkannya sementara sebagian lainnya mengharamkannya karena dianggap memulai yang wajib daripada sunnah lebih utama.
Syeikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin berpendapat, bila didasarkan dengan syariat, memang sudah seyogianya amalan wajib seperti puasa Qadha Ramadan didahulukan dibandingkan dengan puasa sunnah. Sebab, muslim dapat berdosa bila utang puasa wajib tidak dikerjakan sementara amalan sunnah hanya berupa anjuran.
“Salat wajib misalnya, jika seseorang melaksanakan salat sunnah sebelum salat wajib dengan waktu yang masih leluasa, maka boleh-boleh saja,” jelas dia.
Selain itu, Syeikh Muhammad mengatakan, ada kesempatan bagi muslim untuk mendapatkan dua pahala bila berniat untuk melakukan puasa Qadha Ramadan pada hari Arafah. Hal ini berlaku karena puasa sunnah Arafah adalah puasa mutlak yang tidak berkaitan dengan puasa Ramadan.
“Jika dia berniat pada hari itu untuk puasa Qadha Ramadan maka dia akan mendapatkan dua pahala; pahala hari Arafah atau hari Asyura dan pahala puasa Qadha, hal ini jika puasa sunnahnya tersebut adalah puasa muthlak tidak ada kaitannya dengan Ramadan,” beber Syeikh Muhammad.
Senada dengan itu, Ustaz Adi Hidayat dalam arsip detikcon, juga berpendapat bahwa muslim bisa memperoleh dua pahala dalam satu kali puasa sekaligus. Utamanya, bila puasa tersebut diamalkan dengan niat menunaikan utang puasa Qadha Ramadan namun berkeinginan kuat untuk mengamalkan puasa Arafah secara bersamaan.
“Kalau pun niatnya menunaikan puasa wajib, tapi punya keinginan kuat untuk puasa Arafah dan tak mampu melakukannya karena alasan yang dibenarkan syar’i, maka berpeluang juga dapat pahala dari puasa Arafah,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
Meski demikian, Ustaz Adi Hidayat tetap menekankan pentingnya untuk melakukan puasa Qadha Ramadan terlebih dahulu karena bersifat wajib. Jadi, kata dia, lebih utama untuk mendahulukan puasa Qadha Ramadan.





