Kiprah Indang Maryati dalam Dunia Pendidikan dan Keputusan Berani Menghadapi Polemik LCC Empat Pilar
Indang Maryati, seorang kepala sekolah yang kini menjadi sorotan publik, telah menunjukkan keberanian dan integritas dalam menghadapi kontroversi di ajang LCC 4 Pilar MPR RI. Sejak menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Pontianak sejak Juni 2023, ia dikenal memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang sosial. Indang adalah lulusan Magister Ilmu Sosial dari Universitas Tanjungpura (Untan) tahun 2013, dengan fokus pada pola asuh orang tua dan perilaku sosial remaja dalam tesisnya.
Dedikasinya tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah. Ia sering kali dipercaya menjadi narasumber dalam berbagai forum strategis, mulai dari sosialisasi Sekolah Ramah Anak (SRA) hingga dialog lintas agama. Indang juga dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya pendidikan multikultural bagi Generasi Z. Dalam sebuah forum FKUB Kalbar pada Juli 2024 lalu, ia menegaskan bahwa:
“Sekolah-sekolah dan universitas harus mengintegrasikan kurikulum yang mempromosikan toleransi dan dialog antaragama.”
Kontroversi Penjurian dalam LCC Empat Pilar
Ketegasan Indang muncul usai polemik penjurian yang tidak adil dalam LCC Empat Pilar tingkat Provinsi pada Sabtu (9/5/2026). Saat itu, jawaban siswa didiknya, Josepha Alexandra, dinyatakan salah oleh juri, namun jawaban yang identik dari sekolah lain justru dianggap benar. Meskipun MPR RI menawarkan opsi babak final ulang sebagai solusi, Indang secara resmi menyatakan bahwa institusinya tidak akan mengambil tawaran tersebut.
Baginya, martabat pendidikan jauh lebih penting daripada memaksakan pertandingan kembali. Dalam pernyataan resmi di akun Instagram sekolah, ia menjelaskan bahwa langkah protes yang dilakukan siswanya sejak awal murni untuk mencari keadilan prosedural, bukan untuk merusak kemenangan pihak lain.
“Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan.”
Mendukung SMAN 1 Sambas
Menunjukkan sikap ksatria, Indang memastikan bahwa sekolahnya memberikan restu dan dukungan penuh kepada sang pemenang, SMAN 1 Sambas, untuk bertarung di level nasional mewakili Kalimantan Barat.
“SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada ajang LCC 4 Pilar tingkat nasional,” tutupnya.
Meski tahun ini diwarnai kontroversi, Indang memastikan bahwa SMAN 1 Pontianak tidak akan kapok. Ia menegaskan sekolah top di Pontianak tersebut akan kembali bersaing dengan semangat baru pada ajang LCC Empat Pilar tahun 2027 mendatang.
Keputusan MPR untuk Mengulang Babak Final
Sebelumnya, MPR telah memutuskan untuk mengulang babak final LCC Empat Pilar tingkat Provinsi Kalbar. Ketua MPR, Ahmad Muzani, menuturkan keputusan ini dilakukan setelah adanya diskusi sebelumnya. Namun, dia mengungkapkan, terkait jadwal, masih didiskusikan.
“Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang dalam waktu yang segera akan diputuskan,” katanya dalam konferensi pers di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/5/2026).
Muzani juga mengumumkan, juri sebelumnya tidak akan dilibatkan kembali. Dia menyebut juri yang akan melakukan penilaian akan berasal dari pihak independen alih-alih dari pihak MPR. Dia turut menegaskan pimpinan MPR akan mengawasi langsung jalannya kompetisi LCC Empat Pilar Provinsi Kalbar.
“Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat akan mengawasi jalannya pertandingan tersebut dari awal sampai akhir,” tuturnya.
Lebih lanjut, Muzani berterimakasih kepada peserta dari SMAN 1 Pontianak yang telah menggunakan haknya untuk mengajukan protes ketika ada keputusan juri yang dianggap merugikan. Hal itu, sambungnya, menjadi contoh penerapan demokrasi yang baik.



