Angka Kematian dan Masalah yang Dihadapi Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri
Disnakertrans Jawa Tengah mencatat sebanyak 26 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Tengah meninggal dunia di luar negeri. Dalam tahun 2025, terdapat total 118 kasus PMI yang dilaporkan, termasuk 26 orang yang meninggal dunia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Ahmad Aziz.
Selain kasus kematian, Disnakertrans Jawa Tengah juga menerima laporan mengenai berbagai masalah lain yang dialami PMI. Di antaranya adalah 10 orang yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), 19 orang terkena Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), 36 orang mengalami Overstay (tinggal melebihi izin), dan sisanya merupakan kasus-kasus lainnya.
Aziz menjelaskan bahwa beberapa PMI yang meninggal bisa dibawa pulang, sementara yang lain tidak dapat dibawa pulang. Ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat Jawa Tengah yang ingin bekerja ke luar negeri. Salah satu poin utama yang harus diperhatikan adalah memilih negara tujuan yang sudah bekerja sama dengan Indonesia. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak mudah tergiur oleh gaji besar dan menggunakan agen penyalur resmi.
“Cara memastikan semua itu gampang. Cukup datang atau minta informasi ke Dinas Keenagakerjaan terdekat,” ujarnya.
Minat Bekerja di Luar Negeri Mengalami Penurunan
Disnakertrans Jawa Tengah mencatat sebanyak 57.924 warga Jateng memilih berangkat bekerja ke luar negeri pada tahun 2025. Kabupaten Cilacap menjadi salah satu daerah dengan jumlah PMI terbanyak, dengan tujuan favorit yaitu Taiwan.
“Catatan kami 57.924 warga Jateng kerja keluar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI),” jelas Aziz.
Rincian dari jumlah tersebut adalah sebagai berikut:
* Kabupaten Cilacap: 11.822 orang
Kabupaten Kendal: 6.218 orang
Kabupaten Brebes: 5.743 orang
Kabupaten Banyumas: 3.768 orang
Kabupaten Grobogan: 5.730 orang
* Sisanya berasal dari 30 kabupaten/kota lainnya
Negara tujuan yang paling banyak adalah Taiwan dengan 19.831 orang, diikuti Hongkong (17.951 orang), Jepang (5.203 orang), Singapura (3.880 orang), Malaysia (3.846 orang), Korea Selatan (3.669 orang), dan Turki (1.297 orang). Turki menjadi tujuan baru untuk bisnis perhotelan, serta ada juga tujuan lain seperti Eropa.
Dari segi sektor kerja, 23.976 pekerja bekerja di sektor formal, sedangkan 33.948 pekerja bekerja di sektor informal. PMI di Jawa Tengah masih didominasi oleh pekerja perempuan sebanyak 38.760 orang, sementara laki-laki hanya 19.164 orang.
Jawa Tengah masih menjadi tiga besar nasional dalam pengiriman PMI ke luar negeri. Namun, jumlah PMI dari Jawa Tengah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 66.610 orang.
Pada tahun 2024, jumlah PMI yang bekerja di sektor formal mencapai 29.693 orang, sedangkan sektor informal sebanyak 36.917 orang. Dari segi gender, perempuan mendominasi dengan 45.947 orang, sementara laki-laki sebanyak 20.663 orang.
Negara tujuan PMI pada tahun 2024 tidak jauh berbeda dengan tahun 2025, yakni Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korea, Jepang, Singapura, dan Brunei. Perbedaannya adalah pada tahun 2025, tujuan PMI lebih dominan ke Turki daripada Brunei Darussalam.
Faktor penurunan minat warga Jateng bekerja di luar negeri adalah karena semakin banyaknya peluang kerja di dalam negeri khususnya di Jawa Tengah.





