Sejarah dan Keunikan Rapai Raja Buwah yang Menggema di Aceh Utara
Rapai Raja Buwah adalah salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Aceh Utara. Sebelum tampil di panggung nasional maupun internasional, rapai ini lahir dari perjalanan panjang melalui hutan-hutan lebat di daerah Pase. Baloh rapai tersebut dibuat dari kayu tualang pilihan dengan proses ritual adat yang ketat. Tidak hanya sebagai alat musik tradisional, rapai ini juga menjadi simbol sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat Aceh Utara selama ratusan tahun.
Hingga kini, salah satu rapai tertua yang masih tersisa tetap dijaga oleh para pewarisnya di Kemukiman Buwah, Kecamatan Baktiya Barat. Dari sana bermula kisah sebuah rapai legendaris yang suaranya pernah menggetarkan panggung budaya, bahkan melahirkan berbagai cerita yang masih hidup dalam ingatan masyarakat Pase.
Suara yang Mampu Menggetarkan
Dentuman Rapai Raja Buwah konon pernah memecahkan kaca sebuah toko dan merobohkan hamparan pohon talas yang berjarak ratusan meter dari lokasi pertunjukan. Meskipun kisah ini mungkin hanya mitos, tidak dapat dipungkiri bahwa suara rapai ini memiliki kekuatan luar biasa. Suara itu pernah menggema dalam berbagai perhelatan budaya dan acara kenegaraan, mulai dari penyambutan Presiden Republik Indonesia hingga tampil di panggung nasional dan internasional.
Pada 2023, Grup Rapai Raja Buwah dipercaya mengisi pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta. Setahun sebelumnya, grup tersebut tampil dalam International Ethnic Music Festival di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, bersama kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.
Proses Pembuatan yang Penuh Ritual
Untuk menelusuri sejarah Rapai Raja Buwah, Infomalangraya.net mendatangi langsung Kemukiman Buwah dan mewawancarai sejumlah tokoh yang masih menyimpan cerita tentang rapai legendaris tersebut. Mereka antara lain Muhammad Yusuf (75), Abdul Hadi atau Apied Syekh yang merupakan asisten syekh grup, serta Syekh Tayuddin (56), pimpinan Grup Rapai Raja Buwah saat ini.
Menurut Muhammad Yusuf, sejarah Rapai Raja Buwah diperoleh dari cerita para pendahulu, terutama Keuchik Te atau Muhammad Te, seorang syekh rapai yang pernah memimpin kelompok itu pada masa kejayaannya. “Berdasarkan cerita Keuchik Te, Rapai Raja Buwah dibuat oleh Utoh Baha,” ujar Muhammad Yusuf.
Kisah pembuatannya bermula dari perjalanan panjang ke tengah hutan untuk mencari kayu yang dianggap layak dijadikan rapai. Namun pencarian itu tidak dilakukan sembarangan. Sebelum menebang pohon, Utoh Baha dan rombongannya terlebih dahulu menjalani serangkaian ritual adat. Mereka meminta izin kepada pohon yang akan ditebang dan menunggu petunjuk melalui mimpi.
Jika dalam mimpi pohon tersebut dianggap layak dijadikan rapai, barulah dilakukan prosesi peusijuek sebagai tanda dimulainya pekerjaan. “Kalau dalam mimpi dianggap layak dijadikan rapai, baru dilakukan peusijuek. Itu bisa dilakukan berkali-kali, bahkan sampai tujuh hari,” kata Muhammad Yusuf.
Setelah mendapatkan pohon yang dianggap tepat, mereka memilih kayu tualang berukuran besar. Dari satu batang kayu tersebut berhasil dibuat 12 baloh atau badan rapai. Beberapa di antaranya kemudian diberi nama seperti Raja Muda Buwah dan Sidara Buwah.
Namun proses pembuatan tidak berjalan sepenuhnya mulus. Saat mengerjakan rapai ke-12, serpihan kayu hasil pahatan mengenai mata kiri Utoh Baha hingga menyebabkan cedera serius. Peristiwa itu membuat pengerjaan rapai terakhir dihentikan. Utoh Baha dan rombongannya kemudian membawa pulang 11 rapai yang telah dibentuk dari tengah hutan menuju Raja Buwah dengan berjalan kaki menembus rimba.
Keistimewaan dan Tradisi yang Masih Dipertahankan
Keistimewaan rapai tersebut tidak hanya terletak pada bahan kayunya, tetapi juga pada proses pemilihan kulit lembu yang digunakan sebagai membran penutup. Menurut Muhammad Yusuf, pemilihan kulit dilakukan secara khusus agar menghasilkan suara yang kuat dan bergemuruh. “Kalau tidak salah, syaratnya saat itu harus lembu berwarna hitam dan matanya buta sebelah,” ujarnya.
Kulit tersebut kemudian dijemur selama enam bulan dan diasapi selama enam bulan berikutnya hingga benar-benar kering. Tingkat kekeringan kulit, kekuatan ikatan, dan ketegangan pemasangan sangat menentukan karakter suara yang dihasilkan.
Setelah bulu dibersihkan dan posisi kulit ditentukan, proses pemasangan kembali diawali dengan ritual peusijuek yang dipimpin imam gampong atau tokoh adat. Tradisi tersebut masih dipertahankan hingga sekarang. Syekh Tayuddin mengatakan, setiap kali grup akan tampil di hadapan masyarakat, prosesi peusijuek tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Cerita Legenda yang Masih Hidup
Di tengah masyarakat, berbagai cerita tentang kedahsyatan suara Rapai Raja Buwah masih terus hidup. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah pecahnya kaca sebuah toko di kawasan Sampoenit saat pertunjukan berlangsung. “Setelah dicek, ternyata posisi lubang rapai mengarah ke toko yang berdinding kaca,” ujar Tayuddin.
Muhammad Yusuf yang saat itu sudah menjadi anggota grup pada era Syekh Te mengaku pernah mendengar langsung cerita tersebut dari para pelaku yang menyaksikannya. Cerita lain yang juga masih sering dituturkan masyarakat adalah tumbangnya hamparan pohon talas di kawasan Lapang yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pertunjukan meuroh.
“Ini bukan tamsilan. Orang-orang yang melintas ketika itu mendengar bunyinya sangat kuat. Besok paginya dicek, ternyata pohon talas memang tumbang,” kata Syekh Tayuddin.
Meski karakter suara Rapai Raja Buwah saat ini berbeda dibanding era Syekh Te, Syekh Abdul Samadi, dan Syekh Raman, Tayuddin menegaskan bahwa kelompok tersebut tetap menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Pase. Baginya, rapai bukan sekadar alat musik tradisional. Rapai adalah simbol sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah gempuran modernisasi dan munculnya berbagai kelompok seni baru, Rapai Raja Buawah tetap bertahan sebagai salah satu harta budaya tersembunyi dari pedalaman Aceh. Dari kawasan yang dahulu dikelilingi rimba lebat itu, dentuman rapai masih terus bergema, menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta menjaga ingatan kolektif masyarakat Pase tentang warisan leluhur mereka.



