Tradisi Bubur Asyura di Aceh
Di tengah masyarakat Aceh, terdapat tradisi unik yang dikenal dengan nama bubur Asyura. Tradisi ini memiliki makna spiritual dan keagamaan yang dalam. Dalam pandangan masyarakat Aceh, Hikayat Hasan-Husein termasuk hikayat yang suci (sakral). Di bagian penutup hikayat ini terdapat anjuran kepada para pembaca/pendengar sebagai berikut:
“Bak buleuen Muharam uroe Jeumeu’at, teupangge rahmat Tuhanku Rabbi
(Di bulan Muharam hari Jumat, syahidlah Husein kehendak Rabbi)
Bak siploh uroe geukheun Asyura, soetem puwasa deungon khanduri
(Pada tanggal sepuluh disebut Asyura, siapa yang puasa serta kenduri)
Tuhan neuampon sibarang deesya, dalam syuruga n’iekmat Tuhan bri.
(Tuhan ampunkan semua dosa, dalam surga nikmat Tuhan beri).”
Tradisi memasak bubur Asyura ini dilakukan oleh kaum ibu secara besar-besaran di setiap kampung, bertempat di meunasah atau rumah seorang tokoh setempat. Namun, seiring waktu, tradisi ini mulai pudar. Meskipun demikian, bubur Asyura tetap dibuat secara pribadi per keluarga hingga sekarang.
Kenduri bubur itu diniatkan sebagai kenduri kesyahidan Saidina Husein di Padang Karbala pada 10 Muharam tahun 61 Hijriah. Kalender Aceh bahkan menamakan bulan Muharam dengan bulan Asan-Usen (Hasan-Husein).
Perubahan dalam Hikayat Hasan-Husein
Pada pengamatan tradisi bubur Asyura pada tanggal 10 Muharam tahun 1447 H (6 Juli 2025 M) lalu di Lamceu dan Gampong Tampok Gunong, Aceh Besar, warga di sana nyaris tak mengenal lagi “seumpeuna syahid Husein” dalam acara bubur Asyura mereka. Kenduri bubur itu lebih ke perayaan lepasnya para nabi terdahulu (dari Nabi Muhammad saw) nibak (daripada) segala bencana dan dosa yang dialami para nabi itu.
Menurut saya, hal demikian bisa terjadi karena masyarakat Aceh sekarang tidak pernah lagi membaca dan mendengar Hikayat Hasan-Husein. Hikayat Hasan-Husein yang saya alih aksarakan ini berbeda jauh isinya dari Hikayat Hasan-Husein versi lama. Hikayat jenis lama lebih kental bersifat sejarah (menyejarah), sedangkan hikayat ini hanya pokok ceritanya yang masih kekal sebagai sejarah. Adapun cabang dan rantingnya sudah berunsur keacehan. Misalnya, nama para panglima perang di pihak Raja Yazid sudah berbau Aceh.
Fokus pada Semangat Jihad
Hikayat Hasan-Husein ini ditulis dalam rangka mempertinggi semangat jihad masyarakat di Aceh Barsela (barat dan selatan) untuk melawan Belanda. Nama judul hikayat pun berganti dari Hikayat Hasan-Husein ke nama Hikayat Prang Sabi.
Banyak hal yang ditempuh sang pengarang untuk menjernihkan “semangat perang suci” dalam hikayat ini. Misalnya, beberapa tokoh tua peperangan dikurangi kisah tindakannya, sehingga ceritanya menjadi singkat. Sebaliknya, sejumlah tokoh muda, bahkan seusia anak balita, yang perannya dapat meningkatkan semangat juang para pemuda Aceh yang sedang melawan Belanda, diuraikan secara panjang lebar hingga sedetail-detailnya.
Kisah Pahlawan Muda
Sebaliknya, pengarang hikayat segera memperpanjang kisah para pahlawan muda yang menuntut bela kesyahidan Husein. Kisah jenis ini kita jumpai pada keemapat tokoh muda, yaitu Haris (Aceh: Hareh), Kaka Musyik, Hasyem bin Hasan, dan Zainal Abidin bin Husain yang masih balita (bawah lima tahun).
Haris adalah putra Ibrahim Astra, yaitu kakanda dari Saidina Husein yang lain ibu. Haris, remaja pemberani. Kisah kepahlawanannya diceritakan cukup panjang oleh pengarang. Muda belia ini berani bertanding perang dengan pahlawan penuh pengalaman perang di pihak Yazid.
Kaka Musyik adalah putra Musyik Kaka, yang juga abang lain ibu dari Husein. Remaja ini juga amat tangkas dalam pertempuran melawan musuh yang berkali lipat lebih terampil berperang daripada dia. Namun, semua dia kalahkan. Kepahlawanannya dikisahkan lumayan panjang.
Kisah “Pahlawan Cilik”
Dalam gendongan
Menarik pula sekilas kita kutip secara acak kisah “pahlawan cilik” Zainal Abidin, putra Husein, sebagai berikut:
“Zainal ‘Abidin that bertangisan, bak ek lon lawan siraja pindoe
(Zainal Abidin sambil bertangisan, agar sanggup kulawan siraja jahat)
Lon lakee tulong kanibak Tuhan, aneuk raja nyan ulon wiet jaroe
(Saya mohon tolong kepada Tuhan, siraja itu saya patahkan tangan)
Adatkon ubit lam tingkue bunda, lonjak pohbila lon tinggai nanggroe
(Sekiranya bukan balita digendong bunda, saya pergi tuntut bela kutinggalkan negeri)
Bak puteh mata got puteh tuleueng, bahle teugageueng di ateueh bumoe
(Daripada putih mata lebih baik putih tulang, biar terpanggang di atas bumi).”
Begitulah hebatnya sang penyusun ulang Hikayat Hasan-Husein memuncahkan emosi para pembaca dan pendengar hikayat itu. Darah para pejuang Aceh “mendidih” menggelegak setelah membaca atau mendengarnya. Taruhan maut bukanlah lagi jadi penakut dan kecut. Pahala syahidlah yang diidam-idamkan para “muslimin Aceh” saat mereka menyerbu pasukan Marsose Belanda.
Dalam masa perang sekarang, rakyat Iran pun menopang perjuangan mereka dengan “semangat kesyahidan Husein” di Padang Karbala.




