Prosesi Pemakaman Mantan Pemimpin Tertinggi Iran
Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mencapai puncaknya dengan iring-iringan jenazah yang berlangsung di Teheran pada Senin (6/7/2026). Malam harinya, rombongan tiba di kota suci Qom, sekitar 150 km dari Teheran, dan disambut puluhan ribu pelayat. Sebelumnya, jutaan orang telah memadati jalan-jalan Teheran untuk mengantarkan pemimpin mereka, dengan televisi pemerintah menayangkan gambar udara lautan manusia membawa bendera Iran dan foto Khamenei.
Perubahan Narasi Media Internasional
Memasuki hari keempat dari prosesi pemakaman almarhum Ayatullah Ali Khamenei, narasi media global telah bergeser dari melaporkan skala kerumunan yang luar biasa besar menjadi menganalisis simbolisme politik dan geopolitik yang mendalam dari sebuah bangsa yang berduka atas pemimpinnya yang telah dibunuh. Apa yang telah terjadi di jalan-jalan Teheran selama empat hari belakangan ini telah digambarkan oleh media internasional sebagai “pemakaman abad ini”.
Media Barat juga mengulas tentang sebuah tontonan duka, kemarahan, masyarakat Iran terhadap gugurnya pemimpin mereka. Sejak awal, tema dominan dalam liputan internasional—dari Reuters hingga Associated Press (AP), Al Jazeera, dan Deutsche Welle (DW)—adalah gelombang manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya yang membanjiri ibu kota Iran. Rekaman drone yang disiarkan ke seluruh dunia menunjukkan sungai pelayat berpakaian hitam memenuhi jalan-jalan utama Teheran, lautan manusia yang begitu luas sehingga tampak menelan seluruh kota.
Reuters mengatakan upacara tersebut merupakan demonstrasi nasional tentang keberlanjutan setelah salah satu momen paling penting dalam sejarah Republik Islam. AP, yang meliput secara langsung, menggambarkan jumlah pelayat lebih besar daripada yang hadir pada prosesi tahun 2020 untuk Jenderal Qassem Soleimani. Kepadatan kerumunan begitu besar sehingga pihak berwenang harus menyemprotkan air dari truk pemadam kebakaran untuk mendinginkan para pelayat dari panas terik bulan Juli, sebuah pemandangan duka yang luar biasa, hampir mencekik.
“Ini terakhir kalinya saya melihatnya,” kata Maryam Alizadeh, sambil menangis, kepada AP. “Generasi kita hidup bersamanya selama beberapa dekade.”
Manifesto Geopolitik
Meskipun kesedihan itu tulus dan nyata, pers internasional telah fokus secara intens pada pesan politik yang tertanam dalam duka cita massal tersebut. Upacara-upacara tersebut telah berfungsi sebagai platform yang kuat untuk sentimen anti-Amerika dan anti-Israel, sebuah fakta yang banyak dilaporkan oleh media-media besar. Daily Mail mencatat bahwa para pelayat terlihat membakar bendera Inggris dan Amerika dan melemparkan batu ke gambar Presiden AS Donald Trump, dengan spanduk bertuliskan “Bunuh Trump” berjajar di jalanan.
Patung tiruan Trump digantung di Lapangan Imam Hussein, sementara poster-poster bergambar wajah Trump, Pete Hegseth, JD Vance, dan Benjamin Netanyahu, masing-masing ditandai dengan bidikan sasaran, diarak di tengah kerumunan. Tim CNN di lapangan menyaksikan para pelayat bersumpah akan membalas dendam. Seorang pelayat mengatakan kepada jaringan tersebut, “Hari ini kami berada di sini untuk pemakaman pemimpin kami, ini adalah hari yang sangat berat. Kami tidak di sini untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, kami di sini untuk membalas dendam.”
Sementara Al Jazeera melaporkan bahwa “ribuan orang memenuhi Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei,” termasuk delegasi dari Hamas dan Hizbullah yang menghadiri upacara tersebut.
Panggung Internasional untuk Solidaritas
Secara diplomatik, pemakaman ini merupakan peristiwa penting. Xinhua melaporkan bahwa para pejabat dan perwakilan dari lebih dari 100 negara hadir, termasuk delegasi dari Rusia, Tiongkok, Pakistan, dan Arab Saudi. Kehadiran internasional yang besar ini, yang terjadi meskipun ada tekanan dari Departemen Luar Negeri untuk mencegah para pejabat asing berpartisipasi, dipandang sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran dan pengingat yang jelas tentang keterbatasan pengaruh Amerika.
Al Jazeera melaporkan bahwa kehadiran perwakilan dari lebih dari 100 negara mengubah ibu kota menjadi pusat solidaritas. Surat kabar Lebanon Al-Akhbar menggambarkan peristiwa itu sebagai “Pemakaman Abad Ini” karena bobot politiknya yang sangat besar.
Bergerak Menuju Qom, Najaf, dan Karbala
Masih mengutip laporan Tehran Times, perjalanan jenazah Ayatullah Ali Khamenei dan keluarganya dilanjutkan melalui kota-kota suci Qom, Najaf, dan Karbala, sebelum pemakaman terakhir di Mashhad, tempat kelahirannya, di makam Imam Reza (As). Prosesi ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol politik yang menegaskan ketahanan bangsa.
Seorang pelayat yang diwawancarai Financial Times menegaskan tekad rakyat Iran untuk melanjutkan jalan perjuangan sang pemimpin, dengan seruan balas dendam atas ribuan martir perang. Menurut Washington Post, prosesi besar-besaran di Teheran pada Senin pagi dipadati jutaan orang yang ingin mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin yang telah memerintah selama 37 tahun.
Saat hari ketiga berkabung berakhir, jalan-jalan Teheran mulai kosong, namun gema seruan pembalasan masih terasa. “Pemakaman ini menjadi lebih dari sekadar perpisahan: ia adalah deklarasi ketahanan, bukti kemampuan bangsa untuk berduka sekaligus menunjukkan pembangkangan yang tak tergoyahkan. Warisan Khamenei diyakini akan terus membentuk takdir Iran dan Asia Barat untuk generasi mendatang,” tutup laporan Tehran Times.





