Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo: Dua Bintang yang Berbeda dalam Sepak Bola Dunia
Lionel Messi tampil luar biasa dalam pertandingan melawan Aljazair dengan mencetak tiga gol (hattrick). Ini menjadi kemenangan pertama bagi Conmebol di fase grup. Hingga babak 32 besar, Messi telah mengumpulkan total 20 gol sepanjang penampilannya di berbagai Piala Dunia, termasuk tujuh gol di Piala Dunia 2026.
Messi mencatatkan sejarah sebagai top skor Piala Dunia, menggeser rekor Miroslav Klose. Tidak ada isu main mata FIFA seperti pada Piala Dunia sebelumnya, meskipun ada beberapa pelanggaran keras yang terjadi, seperti serangan ke betis Aissa Mandi, bek lawan. Peristiwa ini akan dibahas lebih lanjut nanti.
Sementara itu, Cristiano Ronaldo baru mencetak tiga gol dari empat penampilan Portugal. Dua di antaranya terjadi saat melawan Uzbekistan, dan satu gol penalti penting saat menghadapi Kroasia. Jika sistem VAR tidak terlalu ketat, gol pengaman Kroasia setelah duel dengan Renato Veiga mungkin tidak akan dianulir. Ingatlah bahwa Ronaldo pernah menjadi bulan-bulanan netizen karena mencetak gol menggunakan rambut melawan Uruguai di Piala Dunia musim lalu.
Apakah ada sinyal lain di balik keputusan jeli tersebut? Misalnya, wacana memuluskan Portugal melaju ke final? Sepak bola tidak pernah kekurangan berita. Ronaldo dan Messi tetap menjadi topik utama.
Gairah permainan sepak bola lebih kental di tubuh Ronaldo dibandingkan Messi. Hal ini jelas tidak terbantahkan. Dari tribun penonton, reaksi pendukung Paris Saint-Germain (PSG) terlihat hambar ketika Messi memasuki Stadion Parc des Princes akhir musim 2021, dibanding gemuruh penonton di Allianz Stadium saat Ronaldo mengenakan kostum Juventus yang memberi kesan kepada Liga Italia setelah sekian lama mati suri seolah bangkit kembali.
Yang pertama, lihatlah euforia Al Nassr sejak kedatangan Ronaldo yang dulu tidak diperhitungkan oleh publik sepak bola dibandingkan saat Messi berangkat ke Inter Miami. Gelar mesin gol Liga Arab begitu mudah didapat setelah mencetak 100 gol dalam 105 kali tampilan. Artinya, hampir setiap tampilan dirinya berkontribusi mencetak gol.
Namun, kali ini jelas segala “pujian disertai tetapi” akan terus menyertai Ronaldo.
Lain lubuk, lain ikan. Lain di liga, lain pula di timnas. Bersama Portugal baru mencetak tiga gol setelah melewati 13 pertandingan penting sejak Piala Dunia 2022, EURO 2024, hingga Piala Dunia 2026. Artinya, hampir setiap laga Ronaldo tidak mencetak gol. Terakhir, bersama Republik Demokratik Kongo. Anda tidak salah membaca, Republik Demokratik Kongo.
Negara yang terakhir berpartisipasi di Piala Dunia lebih dari setengah abad silam. Bagaimana bisa negara dengan latar belakang segudang masalah pelik menahan imbang timnas semakmur Portugal?
Memang tidak aneh Portugal bermain seri atas Kongo. Tanjung Verde juga sempat bikin Spanyol frustrasi. Juara bertahan Prancis pun pernah tumbang oleh tim debutan Senegal pada Piala Dunia 2002. Bahkan, dunia menahan napas mendapati kenyataan Italia tiga kali beruntun absen di Piala Dunia.
Itulah sepak bola, dengan segala kekonyolan dan lingkaran setan yang terus mewarnai. Tim-tim kecil menghalangi tim-tim besar, tim-tim tanggung menyingkirkan tim-tim kecil, tim-tim besar menyingkirkan tim-tim tanggung, lalu tim-tim besar yang tersisa bertarung dengan tim-tim besar yang tersisa.
Salah satu wakil benua Eropa atau Amerika keluar sebagai juara. Sejarah mencatatnya hampir 100 tahun. Bukan bermaksud memperpanjang paragraf siapa kalah siapa menang. Hanya menguak sisi gelap-terang Ronaldo dan Messi di lingkaran timnas.
Sekali lagi, gairah permainan sepak bola lebih kental di tubuh Ronaldo dibandingkan Messi. Menguasai berbagai pola permainan juga refleks cepat terhadap serangan lawan serta fokus tingkat tinggi.
Kondisi ini membuat keegoannya subur. Rekan setim kerap terbatas ruang gerak bila misalnya, berhadapan dengan situasi gagal melakukan tembakan ke gawang lawan seperti pengalaman Cancelo saat EURO 2024 tatkala gagal memanfaatkan umpan dari Ronaldo agar menjebol gawang Turkiye. Apa yang terjadi? Sang kapten mengamuk.
Pertanyaannya, mengapa dirinya tidak menembak langsung bola ke gawang dalam jarak lumayan dekat? Sorotan kamera menggiring saya ke sebuah opini bahwa insting dan akurasi Ronaldo tak lagi tajam. Sesegar apa pun tampilannya, faktor usia tetap terbaca. Namun, kemarahan berlebihan kepada sesama rekan sungguh meruntuhkan kecemerlangannya sebagai pemain bintang.
Adu mulut dengan Diogo Costa. Menudingnya lalai mengawal pertahanan. Padahal, kemenangan 1-0 Portugal sebelum imbang atas Kongo di fase grup bukan karya Ronaldo, melainkan Nuno Mendes.
Masih ingat final EURO 2016? Jika bukan karena Ronaldo cedera diduga terus bermain tanpa jeda, Ederzito tak memiliki tempat di timnas Portugal. Apalagi meraih gelar ‘supersub’. Benar. Di kaki pemain cadangan mati itulah Portugal meraih trofi paling bergengsi seantero benua Eropa berkat gol semata wayangnya. Sederhananya, Portugal menang setelah Ronaldo pergi dari lapangan. Portugal bermain tanpa masalah begitu berarti, komunikatif, dan terpenting saling menghargai.
Bukankah pemandangan serupa terjadi lagi ketika pasukan Roberto Martinez menghadapi Kroasia? Portugal berhasil merebut tiket 16 besar setelah Ronaldo memilih istirahat di bangku cadangan.
Dari fenomena di atas tak sedikit pelajaran bisa dipetik. Betapa rentannya kerja sama pemain Portugal di bawah kepemimpinan mantan penyerang Real Madrid tersebut.
Mari kita saksikan bagaimana perannya melawan Spanyol!
Sepanjang tampilan Portugal yang centang perenang, lebih dari 2.000 kolom komentar berisi kritikan ditujukan kepada Bruno Fernandez agar terus mengumpan bola ke Ronaldo yang masih digadang sebagai masa depan Selecao. Dampak kritikan ini sempat membuahkan hasil kala berhadapan dengan Uzbekistan. Dan, sejarah kembali terulang kontra Kolombia yang membukukan catatan akhir dengan skor kacamata kuda alias 0-0.
Percaya atau tidak, Argentina bermain sepak bola untuk Messi, bukan untuk diri sendiri. Kekalahan demi kekalahan lama mengiringi. La Pulga—julukan Lionel Messi—terlihat tenang tanpa secuil drama pun, meski dicap akan mandul bersama timnas.
Bagaimana dengan Aguero Cs? Tertunduk lesu seolah kagagalan tim Tango dosa besar yang harus ditebus kepada Lionel Messi seorang, apalagi Ronaldo, sang rival abadi tahun 2016 telah lebih dahulu memberi gelar Eropa untuk negaranya, sementara di waktu yang sama Messi gagal membawa trofi Coppa Amerika ke Argentina.
Angel Di Maria terharu setelah melepas tendangan ke gawang Hugo Lloris. Dalam wawancara singkat pascafinal Piala Dunia 2022, alih-alih promosi diri sehabis juara, jawabannya justru menohok. Juara tersebut adalah kado terindah untuk Lionel Messi.
Di balik semua kelebihan, satu kekurangan memang bukanlah dosa besar. Masalahnya, sepak bola dimainkan oleh sebelas orang, bukan satu orang. Sedikit cela merusak segalanya. Bila Ronaldo tidak mampu mengontrol ego di tubuh timnas, karier Portugal bisa kita prediksi. Itulah mengapa loyalitas rekan tim model Argentina yang dimiliki Lionel Messi adalah modal. Dan, loyalitas inilah belum dimiliki kubu Portugal bersama Ronaldo-nya.




