GP Ansor Wajo Siap Ikuti Muktamar ke-35 NU di Jombang
Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Wajo akan berangkat ke Jombang, Jawa Timur, untuk mengikuti Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Meski tidak memiliki hak suara dalam pemilihan pimpinan PBNU, Ansor Wajo menegaskan bahwa tugas utamanya adalah mengawal persatuan ulama dan warga nahdliyin.
“Ansor bukan pemilik hak suara dalam pemilihan pimpinan PBNU, tapi memiliki tugas mengawal persatuan ulama dan warga nahdliyin, bukan mendukung kelompok tertentu,” ujar Ketua GP Ansor Wajo, Muhammad Ihwan, saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, Minggu (26/7/2026).
Menyoal figur potensial dalam bursa calon Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), GP Ansor Wajo tidak cenderung ke salah satu calon. “Secara kelembagaan terkait dinamika Muktamar atas perintah Gus Ketua Umum sampai sekarang Ansor Tidak kemana-kemana. Artinya belum ada sikap sebab kami masih tetap menunggu perintah dari atas,” tegasnya.
Meski demikian, GP Ansor Wajo dijadwalkan berangkat ke lokasi Muktamar. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
“Rencana beberapa sahabat Ansor Wajo akan berangkat ke lokasi Muktamar, namun belum jelas jumlahnya,” kata Ikhwan.
Safari Silaturahmi Tokoh Nasional ke PWNU Sulawesi Selatan
Sedikitnya lima tokoh nasional telah melakukan safari silaturahmi ke Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan. Mereka adalah KH Zulfa Mustofa, KH Yahya Staqub, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, dan KH Prof Nasaruddin Umar.
Pemilihan pimpinan tertinggi NU melalui metode pemilihan AHWA (Ahlul Halli wal ‘Aqdi). AHWA adalah sistem musyawarah khusus yang digunakan oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) untuk memilih pemimpin tertinggi atau Rais Aam.
Proses utamanya meliputi pengusulan nama ulama, pemilihan anggota AHWA oleh peserta muktamar, dan musyawarah mufakat untuk menentukan pemimpin. Peserta muktamirin memilih sejumlah anggota tim AHWA (biasanya 9 orang ulama) dari daftar nama yang ada melalui pemungutan suara atau penyerahan nama tertulis. Tim AHWA yang terpilih kemudian berunding secara tertutup dan bermusyawarah untuk mufakat memilih siapa yang akan menjadi Rais Aam.
Alasan PCNU Wajo Mendukung Prof Nasaruddin Umar
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wajo memberikan alasan memilih Prof KH Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU. Hal itu diungkap oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Wajo, Syamsul Bahri, kepada Infomalangraya.net saat dihubungi melalui telepon WhatsApp, Jumat (24/7/2026) siang usai menunaikan ibadah salat Jumat di salah satu Masjid di Thailand.
“Gurutta KH Nasaruddin Umar sangat layak menahkodai PBNU sebab ia sosok ulama, cendekiawan yang memiliki integritas, kapasitas dan visi kebangsaan maju,” ujar Sambah, sapaan akrabnya.
Lanjut, kata dia, Prof Nasaruddin Umar diyakini mampu membawa NU berdaya daya saing demi bangsa yang bermartabat di tingkat global. Olehnya itu, PCNU Wajo menyatakan siap hadir dalam Muktamar NU ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
“PCNU Wajo siap hadir dan meramaikan Muktamar,” bebernya. “Kita akan hadir sesuai permintaan panitia namun rombongan dari Wajo yang ingin berangkat secara sukarela itu tidak dibatasi,” sambung Syamsul.
Terlebih, PCNU Wajo memiliki hak suara dalam Muktamar. “Betul, kami PCNU Wajo ada hak memilih. Pada intinya kami cenderung ke Gurutta Nasaruddin Umar,” tegasnya.





