Pengenalan Materi IPS Kelas 10
Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas 10 SMA halaman 156 Kurikulum Merdeka, siswa mempelajari tentang Dinamika Masyarakat dan Lingkungan Indonesia. Pada materi IPS kelas 10 halaman 156 kali ini, siswa diminta untuk mengerjakan soal Aktivitas 3.7. Materi ini terdapat dalam buku IPS kelas 10 halaman 156 terbitan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah edisi revisi 2025.
Kunci jawaban IPS kelas 10 halaman 156 pada materi Dinamika Masyarakat dan Lingkungan Indonesia hanya digunakan sebagai referensi untuk belajar siswa di rumah. Berikut adalah kunci jawaban buku IPS kelas 10 halaman 156 yang dapat menjadi panduan bagi siswa dan orang tua.
Kunci Jawaban IPS Kelas 10 Halaman 156
Aktivitas 3.7: Analisis Sejarah Masa Kerajaan Islam di Nusantara
Jenis Kegiatan: Tugas Kelompok
Petunjuk Pengerjaan:
Pada aktivitas ini, kamu diajak untuk menganalisis sejarah masa kerajaan Islam di Nusantara menggunakan konsep dasar ilmu sejarah, yaitu manusia, ruang, waktu, kronologi/diakronis, sinkronis, sebab-akibat, perubahan, dan keberlanjutan. Untuk membantu proses analisis, pada tabel berikut telah disajikan pertanyaan panduan berdasarkan setiap konsep dasar ilmu sejarah yang digunakan. Jawablah pertanyaan tersebut untuk melakukan analisis. Tulislah hasil analisismu secara detail. Kamu dapat menggunakan berbagai sumber tepercaya untuk memperkaya analisis yang dilakukan.
Pertanyaan dan Hasil Analisis
-
Konsep Manusia
Pertanyaan: Siapa saja pihak yang terlibat dalam sejarah masa kerajaan Islam di Nusantara?
Kunci Jawaban:
Pihak yang terlibat dalam sejarah kerajaan Islam di Nusantara terdiri atas raja atau sultan, bangsawan, ulama, pedagang, masyarakat, serta para pendatang dari berbagai wilayah. Para raja dan sultan memiliki peran penting dalam mendirikan, mengembangkan, dan memperluas kerajaan Islam. Contohnya adalah Sultan Malik al-Saleh dari Samudra Pasai, Sultan Agung dari Mataram Islam, Sultan Hasanuddin dari Gowa-Tallo, serta Sultan Baabullah dari Ternate.
Ulama juga memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam melalui pendidikan, dakwah, perdagangan, dan pendekatan budaya. Di Jawa, penyebaran Islam antara lain dilakukan oleh Wali Songo. Para pedagang Muslim dari Arab, Persia, Gujarat, dan wilayah lainnya turut berperan dalam memperkenalkan Islam melalui hubungan perdagangan dengan masyarakat Nusantara.
Selain itu, masyarakat Nusantara sendiri memiliki peran aktif. Mereka tidak hanya menjadi penerima pengaruh, tetapi juga ikut mengembangkan Islam dan menyesuaikannya dengan kebudayaan setempat. Dengan demikian, proses Islamisasi Nusantara merupakan hasil interaksi berbagai kelompok manusia, baik dari dalam maupun luar Nusantara. -
Konsep Ruang
Pertanyaan: Bagaimana proses masuknya pengaruh Islam ke wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku?
Kunci Jawaban:
Pengaruh Islam masuk dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, pendidikan, politik, dan hubungan antarkerajaan. Prosesnya berlangsung secara bertahap dan memiliki karakteristik yang berbeda di setiap wilayah.
Di Sumatra, Islam berkembang cukup awal karena wilayah ini berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Salah satu pusat awal perkembangan Islam adalah Samudra Pasai di Aceh. Kerajaan tersebut berkembang menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat penyebaran Islam.
Di Jawa, Islam berkembang melalui aktivitas perdagangan di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Demak, Tuban, dan Cirebon. Para pedagang dan ulama menyebarkan Islam kepada masyarakat. Para Wali Songo juga menggunakan pendekatan budaya, pendidikan, dan kesenian dalam berdakwah. Perkembangan Islam kemudian semakin kuat dengan berdirinya Kesultanan Demak, Cirebon, Banten, dan Mataram Islam.
Di Kalimantan, Islam berkembang melalui hubungan perdagangan dan politik dengan kerajaan-kerajaan di pesisir. Kesultanan Banjar menjadi salah satu kerajaan Islam penting di wilayah tersebut. Islam semakin berkembang setelah penguasa dan sebagian masyarakat menerima Islam.
Di Sulawesi, Islam berkembang terutama melalui jaringan perdagangan antarpulau. Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi pusat penting perkembangan Islam. Raja Gowa, Sultan Alauddin, memeluk Islam pada awal abad ke-17. Setelah itu, Islam semakin berkembang di wilayah Sulawesi melalui hubungan politik, perdagangan, dan dakwah.
Di Maluku, Islam berkembang melalui jalur perdagangan rempah-rempah. Kerajaan Ternate dan Tidore menjadi pusat kekuasaan sekaligus pusat penyebaran Islam. Hubungan perdagangan dengan pedagang Muslim membuat Islam berkembang di wilayah tersebut. Para penguasa kerajaan kemudian memainkan peran penting dalam memperluas pengaruh Islam. -
Konsep Waktu
Pertanyaan: Kapan masa kerajaan Islam dimulai di Sumatra? Kapan masa kerajaan tersebut dimulai di wilayah-wilayah lainnya?
Kunci Jawaban:
Kerajaan Islam di Nusantara berkembang secara bertahap sejak sekitar abad ke-13. Di Sumatra, salah satu kerajaan Islam yang paling awal dan memiliki bukti sejarah kuat adalah Kesultanan Samudra Pasai, yang berkembang sekitar abad ke-13. Sultan Malik al-Saleh dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kerajaan tersebut.
Di Jawa, kerajaan Islam mulai berkembang lebih kuat sekitar akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Kesultanan Demak menjadi salah satu kerajaan Islam awal yang penting di Jawa. Setelah itu muncul kerajaan-kerajaan Islam lainnya seperti Cirebon, Banten, dan Mataram Islam.
Di Kalimantan, perkembangan kerajaan Islam semakin terlihat sekitar abad ke-16, salah satunya melalui Kesultanan Banjar. Di Maluku, kerajaan-kerajaan seperti Ternate dan Tidore mulai berkembang sebagai kerajaan Islam sejak sekitar abad ke-15 hingga ke-16.
Sementara itu, di Sulawesi, perkembangan Islam sebagai kekuatan politik semakin kuat pada awal abad ke-17, terutama setelah penguasa Gowa-Tallo memeluk Islam. Dengan demikian, perkembangan kerajaan Islam di Nusantara tidak berlangsung secara bersamaan, tetapi terjadi secara bertahap sesuai dengan kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya masing-masing wilayah.
Kesimpulan
Perkembangan kerajaan Islam di Nusantara merupakan proses panjang yang berlangsung dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Sumatra menjadi salah satu wilayah awal berkembangnya kerajaan Islam, kemudian pengaruh Islam semakin meluas ke Jawa, Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi. Proses tersebut tidak hanya dilakukan melalui penaklukan, tetapi lebih banyak berlangsung melalui perdagangan, dakwah, pendidikan, perkawinan, hubungan politik, dan interaksi budaya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki peran aktif dalam menerima, mengembangkan, dan menyesuaikan Islam dengan kebudayaan lokal.





