Kapolsek Cileungsi Kompol Edison Berperan dalam Pemulangan Susanah
Kompol Edison, Kapolsek Cileungsi, menjadi perhatian publik setelah mengantarkan Susanah kembali ke kampung halamannya. Susanah, seorang warga Kampung Ciuncal RT 01, RW 04, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhirnya kembali ke rumah setelah sempat menjadi viral karena dianggap sebagai pengupas bawang yang menerima upah Rp700 ribu per kilogram.
Sebelumnya, Susanah dan suaminya, Didim, mengikuti rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta. Sebelum menjadi sorotan publik, Susanah menjalani kehidupan sebagai warga biasa. Ia bekerja sebagai pencuci ompreng di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Klapanunggal sejak 2026. Selain itu, ia juga bekerja sebagai penjahit kain lap majun.
Kondisi kehidupan Susanah menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi Kementerian Sosial untuk mewakili Jawa Barat menghadiri upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Jakarta. “Tanggal 12 Agustus 2026, dijemput tim dari BAKOM Istana untuk berangkat ke Istana mengikuti upacara,” terang Edison.
Perjalanan tersebut membuat kehidupan keluarga Susanah mendapat lebih banyak perhatian setelah namanya disebut dalam konteks pengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram. Isu ini kemudian memicu perhatian media dan masyarakat luas.
Garis Polisi di Rumah Susanah
Sebelumnya, kabar mengenai adanya garis polisi di rumah Susanah memang dibenarkan oleh Iis Isnawati, istri Ketua RT setempat. Namun, Iis menjelaskan bahwa garis polisi tersebut tidak membentang di depan rumah Susanah. Menurut dia, garis polisi hanya terdapat di beberapa bagian tertentu. Gulungan garis polisi serupa juga terlihat di bangunan tempat warga berkumpul yang menyerupai pos kamling di ujung gang menuju rumah Susanah.
Iis menyebut pemasangan garis polisi dilakukan beberapa hari sebelum Senin (17/8/2026), ketika Susanah dan Didim masih berada di Jakarta. Menurut Iis, pemasangan tersebut dibicarakan oleh Ketua RW, kepala desa, dan kepala dusun setempat. Salah satu pertimbangannya adalah banyaknya awak media yang datang ke rumah Susanah setelah keluarga tersebut menjadi viral. “Takutnya, khawatirnya mungkin jiwa anak-anaknya belum siap dengan kondisi yang tiba-tiba orang tuanya viral,” kata Iis.
Iis juga mengatakan wartawan yang hendak meliput Susanah diminta berkoordinasi dengan perangkat lingkungan setempat. Ia menyebut pihak pemerintah, termasuk Kementerian Sosial (Kemensos), pernah mengambil gambar kondisi keluarga Susanah tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat setempat. Menurut Iis, pemasangan garis polisi tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi keramaian di sekitar rumah Susanah sekaligus mempertimbangkan kondisi psikologis anak-anak setelah kedua orang tuanya menjadi sorotan publik.
Pengecekan Langsung oleh Kompol Edison
Di tengah munculnya informasi mengenai garis polisi tersebut, Edison memilih melakukan pengecekan langsung. Kunjungan tersebut membuat posisi Edison menjadi salah satu figur penting dalam memastikan informasi mengenai kondisi rumah Susanah tidak hanya berhenti pada kabar yang beredar. Setelah sampai di lokasi, Edison menyatakan tidak menemukan garis polisi di halaman rumah Susanah.
Pengecekan langsung tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi terkini rumah keluarga Susanah setelah kepulangannya dari Jakarta. Bagi kepolisian di tingkat wilayah, situasi seperti ini menjadi tantangan tersendiri. Perhatian publik yang besar dapat membawa dampak terhadap lingkungan sekitar, terutama ketika keluarga yang menjadi sorotan memiliki anak-anak yang masih harus menjalani aktivitas sehari-hari.
Kepulangan Susanah mendapat perhatian dari Kapolsek Cileungsi Kompol Edison. Ia turut mengantar Susanah dan Didim kembali ke Kampung Ciuncal. Tidak hanya mengawal kepulangan, Edison juga langsung mengecek kondisi rumah Susanah. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul kabar bahwa rumah Susanah sempat dipasangi garis polisi ketika dirinya dan suami masih berada di Jakarta.
Edison memastikan kondisi rumah secara langsung untuk mengetahui apakah benar terdapat garis polisi di lokasi. Saat tiba di rumah Susanah, ia tidak menemukan garis polisi yang masih terpasang. “Di halaman rumahnya (Susanah) tidak ditemukan adanya garis police line,” kata Edison dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Profil Kompol Edison
Nama Kompol Edison muncul di tengah perhatian publik terhadap Susanah, warga Cileungsi yang sebelumnya disebut sebagai pengupas bawang dengan bayaran Rp 700 ribu per kilogram. Sebagai Kapolsek Cileungsi, Edison tidak hanya berada pada posisi untuk memastikan keamanan wilayah. Dalam situasi ketika sebuah keluarga menjadi sorotan secara tiba-tiba, kepolisian juga perlu memastikan kondisi lingkungan tetap terkendali.
Edison menjelaskan, Susanah sebelumnya terpilih sebagai salah satu perwakilan Jawa Barat untuk menghadiri acara HUT ke-81 RI di Istana Jakarta. Susanah terpilih berdasarkan hasil seleksi Kementerian Sosial dengan mengacu pada data penerima Program Keluarga Harapan (PKH) serta survei rumah tidak layak huni. Menurut Edison, data yang dilaporkan Kementerian Sosial tersebut sesuai dengan kondisi Susanah di lapangan. Hal itu diketahui setelah Edison melihat langsung kondisi rumah Susanah ketika mengantarkan kepulangannya.
Kompol Edison merupakan perwira menengah Polri yang saat ini menjabat sebagai Kapolsek Cileungsi, Polres Bogor, Jawa Barat. Dalam perannya, ia bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah yang dikenal cukup padat serta memiliki tingkat kerawanan kriminalitas yang tinggi. Nama lengkapnya adalah Edison, dan ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam operasi penegakan hukum.
Namanya menjadi perhatian publik setelah terlibat langsung dalam pengungkapan kasus perampokan terhadap pasangan lansia di Cileungsi. Dalam operasi tersebut, Kompol Edison menerapkan strategi taktis dengan menyamar sebagai petugas PLN untuk mendekati pelaku utama. Metode penyamaran ini terbukti efektif hingga akhirnya polisi berhasil menangkap tersangka. Langkah tersebut mencerminkan gaya kepemimpinannya yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga turun langsung ke lapangan dengan pendekatan operasional yang terukur.
Keberhasilan ini sekaligus menegaskan komitmennya dalam penegakan hukum dan perlindungan masyarakat di wilayah hukumnya. Dalam situasi tersebut, peran Kompol Edison tidak sebatas mengawal kepulangan seorang warga. Pengecekan langsung ke rumah Susanah menunjukkan pentingnya memastikan kondisi lapangan sesuai dengan informasi yang beredar. Di sisi lain, perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak Susanah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Ketika sebuah keluarga mendadak viral, rumah yang sebelumnya merupakan ruang privat dapat berubah menjadi lokasi yang didatangi banyak orang.



