Wisata trekking, petualangan jalan kaki ke kawasan Pegunungan Himalaya sangat populer di Nepal. Tiap tahun belasan ribu turis jalan-jalan ke gunung salju itu.
Penulis: A. Hery Suyono | tayang di Majalah Intisari edisi Mei 1996 dengan judul “Trekking ke Rumah Salju di Desa Atap Dunia”
—
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
—
Intisari-Online.com –Wisata trekking, petualangan jalan kaki ke kawasan Pegunungan Himalaya semakin populer di Nepal. Tiap tahun belasan ribu turis jalan-jalan ke gunung salju itu.
Selain jalan bareng orang “gunung” Sherpa, mereka juga mengincar Puncak Everest yang tertinggi di dunia, meski cuma melihat dari kakinya. WartawanIntisari A. Hery Suyono ikutan melancong ke sana. Inilah rekaman ceritanya.
===
Nepal hanyalah negara kecil – luas 147.181 km2, terselip dan berbatasan dengan negara besar Cina dan India. Meski begitu, kerajaan Hindu satu-satunya di dunia ini, memiliki sekitar 110 puncak gunung tinggi-tinggi. Salah satunya Puncak Everest (8.848 m).
Sebagai negara tanpa pelabuhan laut, Nepal memiliki pagar Pegunungan Himalaya sepanjang 800 km. Himalaya (hima =salju,alaya = kediaman) begitu kata Sansekerta,Chomolungma kata orang Tibet, atauChu-mu-lang-ma feng dalam bahasa Cina, atau Sagarmatha dalam bahasa Nepal, memang ciri khas Nepal dibandingkan dengan negara lainnya.
Pesawat Twin Otter yang kami tumpangi menderu-deru siap lepas landas menuju Lukla. Seorang pramugari cantik semampai, menawarkan gula-gula dan kapas.
Gula-gula manis untuk diisap. Kapas buat menyumpal lubang kuping.
Saat pesawat melayang konstan, mata mencoba mengintip dari balik kaca jendela pesawat. Sederet puncak Himalaya nampak di kejauhan, namun kurang jelas yang mana Puncak Everest.
Tiga perempat jam berlalu, pesawat kecil berpenumpang tidak penuh 19 orang mendarat mulus di Lukla. Landasan bertanah bebatuan kerikil itu, berada di mulut lembah dan tebing setinggi 2.806 m.
Namaste!Namaste! Sapaan akrab terlontar dari mulut orang-orang di pintu pesawat.
Mereka memberikan salam khas Nepal, yang berarti “salam dan berkat bagi Anda”. Pokoknya, tiap ketemu orang baru, harus bilangnamaste sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Aklimatisasi dulu
Lukla ideal sebagai titik start paratrekker (pejalan kaki ke gunung) yang mau ke kawasan Khumbu. Perjalanan hari pertama belum menemukan tanjakan yang berarti, justru sebaliknya.
Apalagi kami ditemani Tendi Sherpa (39) sebagaisirdar atau kepala pemandu, berikut juru masak, tim pembawa perbekalan, termasuk tiga ekordzum ataudzopkio (peranakanyak dan sapi) pengangkut alat perkemahan dan barang lainnya.
Kurang dari dua jam, rombongan kami (Don Hasman, Rudi Nurcahyo, Edison Nazar, Rudy Badil, dan saya) tiba di Phakding, desa di ketinggian 2.640 m. Hari menjelang senja, suhu dingin mulai terasa menusuk kulit.
Semalaman kami tidur di tenda sempit. Untuk mengantisipasi suhu yang sering anjlok di bawah nol derajat, tubuh harus dibungkus rapat-rapat.
Segala pakaian anti-dingin dikenakan, termasuk jaket berlapis bulu angsa. Kantung tidur tebal beralas matras, membuat malam sedingin -5°C itu, berlalu penuh keresahan.
Soalnya, badan betul-betul terbungkus macam mumi Mesir kuno. Bergerak susah, membuka kantung tidur, dingin. Juga panas tubuh membuat tenda berisi 2 orang itu, betul-betul sumpek. Terpaksa pintu tenda dibuka sedikit.Brrr, angin dingin pun masuk.
Malam pertama, yang menurut Rudi Nurcahyo dari Equator Tour, Jakarta, sebagai malam aklimatisasi itu, berlalu dengan sukses … dinginnya. Entah jam berapa esok paginya, mata masih enak terkatup, tahu-tahu terdengar teriakan “Tea time, tea time,good morning!” Wallah, itu teriakan Dil Kumar Rai (18) yangkitchen boy, menawarkan teh panas tanpa dipesan.
“Silakan cuci muka, di sana ada baskom isi air panas,” lagi bujukan Dil Kumar yang dirinya sendiri anti-cuci muka. Tak lama sarapan alabreakfast hotel bintang 3 tersedia. Inilah sarapan pertama di pelataran bekas kebun kentang, di samping kandang hewan.
Usai berkemas, rombongantrekker Jakarta bergerak lagi. Rupanya Phakding itu desa berumah penduduk sekitar 20 bangunan.
Rumah berdinding susunan batu campur papan itu, kebanyakan disulap menjadi hotel atau lodge. Hebatnya, salah satu penginapan itu memasang merek: Hotel 5 Stars Phakding.
“Hari ini tujuan kita Namche Bazaar, di atas lembah pada ketinggian 3.440 m,” kata Rudi Nurcahyo.
Ke Pasar Bubar
Sepanjang jalan setapak bertepian ngarai, tebing batu yang curam, juga rumah penduduk dengan hamparan kebun kosong. Satu-dua petak nampak tumbuh kubis, sawi, dan buncis. Ada juga kebun apel dengan beberapa pohon meranggas tanpa daun, tanpa buah.
Jalan setapak tunggal itu, tidak pernah lengang dari lalu-lalang masyarakatnya, juga barisantrekker dari berbagai negara. Mereka ada yang berduaan, atau bertigaan, dengan satu-dua porter yang memikul ransel.
Namun ada rombongan berkekuatan satu peleton lebih yaitu grup asal Swedia yang mungkin sekitar 50 orang (berikut iringan pengangkut barang, serta belasan ekoryak; sejenis sapi Himalaya yang bertampang seram dan berbulu lebat). “Ini mau transmigrasi atau pergi perang?” tanya “Oom” Don Hasman, pendaki dan fotografer senior dari Jakarta.
Di kejauhan, sekali-sekali nampak deretan puncak Pegunungan Himalaya. Samar-samar terlapisi kabut tipis.
Sementara bukit-bukit di sisi kanan-kiri jalan, seolah-olah tak berjarak lagi. Padahal terpisah lembah dalam yang ditumbuhi pepohonan dan semak.
Separuh lebih dari jalan setapak berada di bibir jurang. Zig-zag, berkali-kali memotong aliran Sungai Dudh Kosi (dudh = susu;kosi = sungai). Hampir setiap setengah jam, ketemu jembatan di atas sungai yang sama berair biru jernih.
Ada sekitar 10 jembatan gantung yang menjuntai dengan kawat baja, menjulur panjang dengan papan pijakan selebar tak lebih dari semeter. Ada yang panjangnya 30-an m, tapi di Jorsale sampai 121,61 m.
Jembatan ini selalu bergoyang. Semakin berat bebannya, kian kencang goyangannya. Ngeri melongok ke sungai yang jauh di bawah.Singunen, gamang!
Di Beberapa tempat, umumnya di jalan setapak dekat desa, kami sering menemukan tumpukan batu atau batu sebesar gajah, berinskripsi artistik. Itu batu mani atau doa dengan inskripsi Buddha “om mani padme hum“.
Masyarakat setempat selalu berjalan di sebelah kiri batu mani, maksudnya untuk menghormati Sang Buddha, karena masyarakat Sherpa umumnya penganut agama Buddha yang patuh. Untuk menghargai mereka, kami pun ikutan mengambil jalur kiri. Katanya, itu konsep pradaksina atau “mengkanankan”.
Hari itu rupanya pasar mingguan (di hari Sabtu) di Namche Bazaar. Kami berpapasan dengan seratusan penduduk asli, bergegas turun sambil menggendong ransel atau keranjang di punggungnya, ditemani beberapa ekoryak.
Tapi ada belasan lelaki, menapak perlahan sambil membawa barang besar. Ada satu orang memikul 24 balok kayu ukuran 10 x 8 x 300 cm.
Tendi goyang kepala. Dia bilang mungkin beratnya lebih dari 50 “ke-ji” (maksudnya kg alias kilogram).
Namche atau Nauje, terletak di lembah yang dikelilingi bukit, akhirnya terjejaki juga. Kami hanya kebagian suasana pasar bubar.
Desa atau “Kota” Namche itu, karena letaknya strategis di pertemuan jalur ke beberapa desa di atas maupun di bawah, mungkin disepakati menjadi pasar tiap hari Sabtu. Pasar “kaget” itu, selain arena bisnis juga ajang ngerumpi ratusan pria-wanita dari pelbagai daerah, termasuk beberapa desa kecil di perbatasan Tibet.
Dulu, mereka saling barter barang. Rata-rata memanggulceu (keranjang anyaman bambu), berisi macam-macam komoditi untuk dijual di pasar.
Biasanya membawa beras, garam, minyak goreng, kentang, jagung, gandum, gula, teh, dll. Juga minuman ringan, macam Coca-Cola, Fanta, dsb. Sebagian besar barang tersebut, diangkut di punggungyak.
Ngos-ngosan kurang O2
Tanjakan tajam tidak terhitung jumlahnya. Kemiringannya tak tanggung-tanggung, tidak pernah kurang dari 30°.
Paling sering sekitar 45° – 60°, dengan panjang tanjakan sekitar 20 – 50 m. Menyusuri tanjakan tajam tanpa ampun. Terseok-seok. Sendi dan otot kaki penat, tambah lagi napasngos-ngosan berat, pasti!
Oksigen di udara berkurang, tubuh mati-matian menyesuaikan diri. Akibatnya, napas terengah-engah dan jantung berdetak semakin kencang.
Kalau perlu langkah pun dihitung, dan berhenti setelah 20 langkah. Maksudnya ya untuk istirahat sesaat, menyedot udara dalam-dalam, dan memberi kesempatan jantung agar detaknya kembali mendekati normal.
Sekalian minum, meski tidak terasa haus. Penting untuk menghindari tubuh dehidrasi, dan agar buang air seni normal.
Cadangan oksigen (O2) di udara terbuka menipis, sudah hukum alam. Makin tinggi suatu lokasi, berkurang pula jumlah O2 di udara.
Tak lagi 21% dari seluruh komponen udara yang ada. Meski sudah menarik napas kuat-kuat, O2 yang tersedot sedikit. Terasa dari tarikan napas yang enteng,plong, kosong!
Sementara konsumsi O2 saat itu bisa mencapai 4.000 ml/kg bb/jam. Seumpama bb (berat badan) 6O kg, berarti butuh pasokan O2 sebanyak 240.000 ml/jam, atau sekitar 4 liter/menit. Bukan cumangos-ngosan. Gara-gara kurang O2,trekker juga bisa terserang mountainsickness, penyakit ketinggian yang mematikan.
Di tanjakan kami tidak pernah bisa jalan cepat. Apalagi menyalip porter. Mereka yang berasal dari kelompok etnik Sherpa, Rai, dan Tamang sudah terbiasa dengan kondisi pegunungan. Secara generis lebih mampu beradaptasi dengan minimnya oksigen.
Konon, volume paru-paru mereka lebih besar daripada kebanyakan orang dataran rendah. Kalau mereka tidak cepat ngos-ngosan, ya maklum.
Stok oksigen di paru-paru mereka lebih banyak. Kami pun tidak memaksa diri berjalan tergesa-gesa, apalagi mendahului mereka. “Go slowly! Don’t try to race the sherpas…!” begitu tulis buku panduan Jerman. Jangan sok mengejar Sherpa!
Pagi beku, malam ingusan
Salju mulai menumpuk di tanah Namche Bazaar (3.440 m), tentu membuat dingin udara. Tiap ketinggian bertambah 100 m, suhu udara turun sekitar 0,65°C. Seumpama pada ketinggian 3.000 m suhu udara -10°C, pada ketinggian 4.000 m bisa anjlok menjadi -16,5°C.Hiih, lemari es saja kalah dingin!
Udara malam di Namche diperkirakan -5°C hingga -10°C. Dari atas bukit, pemukiman berpenduduk 3.000-an jiwa itu nampak serba putih. Sementara, ada kabar, di Tengboche, lokasi yang akan kami tuju hari itu, semalam juga turun salju sampai 6 inci (± 15 cm) tebalnya.
Dinginnya suhu menyebabkan hidung ingusan melulu, padahal tidak sedang sakit flu. Lebih menyiksa ketika malam tiba.
Sesak napas karena hidung tersumbat cairan yang membeku di dalam. Ingus dibiarkan tidak bisa bernapas lega, dikeluarkan kadang berakibat mimisan. Jadi serba salah.
Dua malam menginap di Namche, cukup untuk aklimatisasi. Esok hari butiran uap air beku berserakan di jalanan setapak menuju Tengboche (3.867 m).
Sekitar pukul 08.00, matahari mulai bersinar. Sedikit demi sedikit salju mulai mencair, dan tetap saja licin.
Udara pagi masih dingin. Apa boleh buat, mesti mengenakan “seragam kebesaran” serba wol.
Bibir pun diolesilip-gloss supaya tak pecah-pecah kedinginan. Juga kulit wajah disapu krimsunblock, agar tidak gosong terbakar.
Juga tak lupa mengenakan kacamata gelap antisinar ultraviolet (UV). Sebab hamparan salju putih bersih itu memiliki daya pantul tinggi, 40 – 80%, terhadap sinar matahari. Sinar ultraviolet memantul amat tajam dan menyilaukan, dan dapat mengakibatkansnowblind, radang yang “membutakan” mata beberapa hari.
Sekitar 6 jam kami tempuh Tengboche dari Namche. Sisa salju kemarin masih mengeras, teronggok beku di pelataran biara Buddha, ataugompa yang sempat terbakar habis tahun 1989.
Dari lokasi ini, Puncak Everest kelihatan anggun dengan awan tipis yang selalu memayungi. Juga Puncak Ama Dablam yang kokoh, menjadi latar belakang Tengboche, pusatnya kuil Buddha masyarakat Sherpa.
Tengboche memang lokasi paling cocok untuk memandang Everest dan puncak es lainnya. Puncak itu cukup jelas, malah rasanya dekat. Padahal Tengboche belum setengah mainnya Puncak Everest.
Makin ke atas naik 10 rupee
Esok harinya, kami menapak turun ke Khumjung (3.790 m) yang terkenal dengan Hillary School. Waktu tempuhnya lumayan. Sekitar 6 jam. Itu pun sempat berleha-leha, sambil memasak nasi goreng sebelum masuk desa.
Seperti halnya desa lain, orang Sherpa di Khumjung juga seperti tak kenal kata “kedinginan”. Pagi buta sudah bangun dan masak air. Lalu masing-masing mencari kesibukan.
Ada yang membuka toko, mengambil air, menggembalakan ternak di lereng terjal. Ada yang berjalan sambil memikul keranjang, entah pergi ke mana. Atau anak-anak ribut bermain bola salju.
Dari pengamatan selama turun-naik antara ketinggian sekitar 2.500 sampai 4.000 m, boleh dikata di perkampungan Sherpa itu bertebarantea house yang menjualchiya alias teh,chhang atau arak ketan. Juga pasti ada restoran, lodge, hotel dengan kamar mandi panas.
Soal makanan, jangan tanya. Sebut saja nama makanan dan minuman terkenal, pasti di sana ada (meski harus cermat membaca tanggal kedaluwarsanya).
Ini uniknya. Semakin tinggi lokasi, semakin tinggi harga barang.
Di Lukla (2.806 m) harga per botol Coca-Cola, misalnya, Rs (rupee) 50. Di Jorsale (2.776 m) menjadi Rs 60. Restoran di Namche (3.440 m) Rs 70, Khumjung (3.790 m), dan di Tengboche (3.867 m) Rs 80. Makin ke atas, harganya ikut naik Rs 10.
Wajar dan beralasan. Biaya mengangkut hingga ke tempat tinggi perlu diperhitungkan. Sementara harga telur (ayam) rebus Rs 15 sebutir.
Murah, karena di sana, terutama pada ketinggian di atas 3.000 m, tak ada ayam. Kalaupun ada, tidak bakal bisa bertelur. Apa sebabnya, belum diselidiki. Mungkin saking dinginnya.
Di restoran besar untuk ukuran sana, harga makanan biasanya tertera dalam nilai dolar AS. Bervariasi sekitar AS $ 2 – 10.
Itu belum seberapa. Harga menu di Hotel Everest View, yang berlaku mulai 1 Oktober 1995 hingga 31 Mei 1996: sarapan AS $ 7, makan siang AS $ 12, dan makan rrialam AS $ 16.
Everest View adalah hotel “tertinggi” kedua di dunia, terletak pada ketinggian 3.870 m, di kawasan Taman Nasional Sagarmatha. Dari tiap kamarnya, sang tamu sambil tiduran bisa menyaksikan pemandangan panorama Everest, juga Puncak Ama Dablam (6.856 m), Nuptse (7.879 m), dan Cholatse (6.440 m).
Dari Kathmandu, ibu kota Nepal, helikopter atau pesawat mesin tunggal selama 45 menit akan mendarat di landasan tanah di Syangboche (3.760 m). Tiketnya AS $ 160.
Memang banyak jalan ke Everest. Juga banyak cara menuju Himalaya. Ada yang kelaslow budget, ada yang kelas Everest View. Ada yang ngos-ngosan berjalan kaki dari bawah ke atas. Ada yang naik pesawat, tiba-tiba sampai di atas.
“Risiko tamu yang langsung ke lokasi di atas 3.500 m, amat besar. Bagi yang tak baik kondisi fisiknya, atau tak terbiasa hidup.di dataran tinggi, mereka sering terkena sakit ketinggian,” kata Tendi membesarkan hati rombongannya. “Tahun depan kita jalan ke Kala Pattar (5.545 m) atau Gokyo (4.791 m). Waktu tempuhnya 18-20 hari.” Tawaran ini enak didengar. Benar.





