Ringkasan Berita:
- USS Abraham Lincoln akhirnya berlabuh di Thailand setelah menghabiskan 286 hari di laut, jauh lebih lama dibandingkan penugasan kapal induk AS pada umumnya.
- Sejumlah pelaut menyebut penugasan tersebut sebagai yang terburuk yang pernah mereka jalani, dengan keluhan terkait kondisi buruk, makanan, sanitasi, dan kelelahan.
- Penugasan berkepanjangan juga dikhawatirkan merusak moral serta retensi personel Angkatan Laut AS.
Infomalangraya.netPara pelaut yang baru saja turun dari kapal induk USS Abraham Lincoln memiliki sejumlah keluhan serius terkait penugasan mereka yang berlangsung lebih lama dari seharusnya.
Jurnalis Priya Sridhar dari MS NOWberbicara dengan sejumlah pelaut dari sekitar 5.000 personel yang bertugas selama hampir 300 hari di atas kapal induk tersebut, saat kapal akhirnya melakukan kunjungan pelabuhan yang telah lama ditunggu-tunggu di Pattaya, Thailand.
“Banyak dari mereka mengatakan kepada saya bahwa ini sebenarnya adalah penugasan terburuk yang pernah mereka alami,” kata Sridhar.
“Ini sangat sulit. Dan banyak dari mereka mengungkapkan kepada saya bahwa mereka sebenarnya berharap tidak perlu melakukan kunjungan pelabuhan. Saat ini, mereka ingin langsung pulang.”
Para pelaut juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa di tengah perang AS yang sedang berlangsung dengan Iran, penugasan yang lebih lama akan menjadi hal yang biasa dan berdampak buruk terhadap retensi personel Angkatan Laut, terutama di kalangan anggota militer junior, kata Sridhar.
Keluarga para pelaut di atas kapal Lincoln juga telah menyampaikan laporan mengenai pengalaman kerabat mereka terkait kondisi buruk, kekurangan makanan, dan masalah sanitasi.
Insiden di Atas Kapal
Selama penugasan Lincoln, terdapat beberapa kejadian ketika para pelaut mencoba melompat ke laut.
Seorang pelaut yang mencoba melompat ke laut dilaporkan menghadapi tindakan disiplin dan dapat kehilangan setengah dari gajinya.
Namun, masalah yang dihadapi Angkatan Laut lebih luas daripada sekadar persoalan di kapal Lincoln.
Kampanye militer AS yang berkepanjangan di Timur Tengah dan pengabaian terhadap kondisi yang dihadapi anggota militer AS disebut sangat merusak moral.
Kepemimpinan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang dinilai kurang memuaskan tentu tidak membantu memperbaiki situasi tersebut.
Tampaknya masalah ini hanya akan terus meningkat, karena Trump dilaporkan berencana meningkatkan aksi militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu.
Singgah Sementara di Thailand
Kapal induk Angkatan Laut AS Abraham Lincoln berlabuh di Laem Chabang, Thailand, pada 2 September setelah 286 hari berada di laut, USA Todaymelaporkan.
Didampingi kapal-kapal Angkatan Laut AS lainnya, kapal induk bertenaga nuklir tersebut singgah di Thailand, satu-satunya mitra perjanjian Amerika Serikat di daratan Asia Tenggara.
Mereka akan tinggal selama lima hari untuk beristirahat dan memulihkan kondisi, kata para pejabat Thailand.
Kapal Lincoln dikerahkan pada November tahun lalu. Penugasan Angkatan Laut biasanya berlangsung selama enam hingga sembilan bulan, tetapi dapat diperpanjang dalam situasi konflik.
Thailand menjadi sekutu perjanjian AS pada 1954 sebelum ditetapkan sebagai sekutu utama non-NATO pada 2003.
Militer kedua negara mempertahankan hubungan yang kuat dan menggelar latihan bersama setiap tahun.
Thailand telah menjelaskan bahwa kunjungan tersebut tidak terkait dengan konflik di Timur Tengah.
Kunjungan pelabuhan itu dilakukan untuk memberikan waktu istirahat, pemulihan, dan dukungan logistik, sesuai dengan komitmen kedua negara dalam perjanjian tersebut.
Kedatangan ribuan personel militer telah meningkatkan harapan akan adanya peningkatan ekonomi bagi kota resor Pattaya di dekatnya, yang juga memiliki reputasi lama sebagai tujuan wisata dewasa.
Sekitar 40 bus akan mengangkut personel militer antara Pattaya dan Laem Chabang, tempat kapal-kapal tersebut berlabuh, kata Wali Kota Pattaya, Poramase Ngampiches.
Pattaya terletak sekitar 150 km di tenggara Bangkok, dengan waktu tempuh rata-rata 2 jam lewat jalan tol.
9 Bulan di Atas Kapal
Mengutip Task & Purpose, USS Abraham Lincoln memulai penugasannya pada akhir November 2025 dengan meninggalkan San Diego dan berlayar melintasi Samudra Pasifik.
Pada Januari 2026, kapal induk dan kelompok tempur pendukungnya tiba di Timur Tengah sebagai bagian dari “armada” yang dikirim ke wilayah tersebut ketika pemerintahan Trump mengancam Iran terkait kekerasan terhadap para pengunjuk rasa.
Ketika perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari, kapal dan sayap udara kapal induk tersebut menjadi bagian dari operasi, dengan jet tempur menyerang berbagai target di sekitar Iran.
Lincoln telah menjadi salah satu unsur utama dalam perang tersebut, dengan mengambil bagian dalam Operasi Epic Fury, blokade Selat Hormuz, serta pertempuran yang kembali terjadi dalam sebulan terakhir dan disebut Pentagon sebagai “operasi luar negeri”.
Dua kapal induk lainnya juga telah berpartisipasi dalam operasi tempur di wilayah tersebut sebagai bagian dari perang.
Namun, salah satunya telah meninggalkan kawasan, sementara kapal lainnya tiba beberapa minggu setelah kedua kapal tersebut.
USS Abraham Lincoln telah menghabiskan sebagian besar dari sembilan bulan terakhir di laut.
Antara persinggahan di Guam pada Desember dan kunjungan singkat ke Oman pada Juni, kapal tersebut menghabiskan 208 hari berturut-turut di laut.
Berapa Lama Biasanya Penugasan Kapal Induk?
Mengutip Newsweek, sebagian besar penugasan kapal induk berlangsung selama enam hingga tujuh bulan, meskipun dapat diperpanjang dalam keadaan tertentu.
Biasanya, kapal akan melakukan kunjungan ke sejumlah pelabuhan selama periode tersebut untuk mengisi bahan bakar sekaligus memberikan kesempatan kepada awak kapal untuk beristirahat.
Penugasan USS Abraham Lincoln dijadwalkan berakhir pada Mei lalu.
Namun, kapal tersebut baru dipulangkan pada awal September ini.
(Infomalangraya.net, Tiara Shelavie)





