
Infomalangraya.net– Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 tak sekadar menguji penguasaan materi pelajaran. Siswa juga ditantang membaca stimulus, menganalisis informasi, hingga menarik kesimpulan melalui variasi soal yang lebih beragam.
Model tersebut disiapkan untuk memetakan kemampuan akademik siswa secara lebih terstandar di seluruh Indonesia.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati menjelaskan, TKA menjadi instrumen untuk mengukur hasil pembelajaran dengan standar yang sama.
Selama ini, penilaian siswa di sekolah dapat berbeda karena standar yang digunakan masing-masing guru dan satuan pendidikan tidak selalu seragam.
”Kurikulum sama dari Sabang sampai Merauke, target pembelajaran juga seragam. Nah, lewat TKA ini kita mau lihat, seberapa jauh hasilnya? Dulu memang ada pengukuran, tapi sifatnya subjektif karena standarnya beda-beda tergantung sekolah atau guru yang mengajar,” urai Rahmawati dilansir dari Antara.
Menurut dia, TKA dirancang untuk mendorong kemampuan siswa melampaui sekadar mengingat materi.
Karena itu, bentuk soal dibuat lebih bervariasi, mulai dari pilihan ganda kompleks hingga analisis infografis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
”Belajar itu levelnya harus sampai paham, bisa mempraktikkannya, dan mampu bernalar. Pola pikir itulah yang ingin kita bawa lewat TKA ini,” cetus Rahmawati.
Rahmawati juga meluruskan anggapan bahwa TKA merupakan pengulangan Ujian Nasional (UN). TKA tidak wajib diikuti dan hasilnya bukan penentu kelulusan siswa.
Meski demikian, sertifikat hasil TKA dapat menjadi nilai tambah ketika siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN) maupun melamar pekerjaan.
Tantangan menghadapi model soal tersebut mulai dipetakan sekolah melalui gladi bersih TKA yang berlangsung pada 5–18 Oktober 2026.
Tahap ini bukan hanya untuk memeriksa kesiapan perangkat dan jaringan, tetapi juga membiasakan siswa dengan mekanisme ujian sebelum pelaksanaan utama.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar I Wayan Mawa mengatakan, gladi bersih dibuat semirip mungkin dengan kondisi ujian sebenarnya.
Berbeda dari simulasi awal pada 21–27 September yang berfokus pada pemeriksaan infrastruktur dasar, tahap ini juga menguji kesiapan sistem dan siswa.
”Di Gianyar, semuanya berjalan tanpa hambatan. Anak-anak SMA dan SMK ikut ambil bagian. Esensi dari gladi bersih ini memang murni untuk melihat sejauh mana sistem kita kuat dan mental anak-anak siap sebelum bertempur di ujian utama,” tutur Mawa.
Mawa mengingatkan sekolah agar memastikan jaringan tetap stabil ketika digunakan ratusan siswa secara bersamaan.
Petugas di lapangan juga perlu memahami alur pengawasan agar kendala yang ditemukan selama gladi bersih dapat diminimalkan saat ujian utama.
Dari sisi sekolah, Kepala SMA Negeri 56 Jakarta Dewi Retno Lestari menilai tantangan siswa bukan semata-mata penguasaan materi, melainkan juga kemampuan membaca dan mengolah informasi.
Siswa perlu bertahan membaca stimulus soal sebelum memilah informasi yang relevan dan menarik kesimpulan.
”Karena dari soal TKA itu, anak itu harus tahan dulu membaca stimulusnya. Nah, ketika siswa sudah memiliki ketahanan membaca, maka dari situ dia bisa langsung menarik informasi, dia bisa mengekstrak,” ungkap Dewi Retno Lestari.
Untuk membiasakan siswa menghadapi soal dengan format berbeda, sekolah menggelar pendampingan setiap Jumat.
Siswa diperkenalkan dengan model multiple choice multiple answer, yakni pilihan ganda yang memungkinkan lebih dari satu jawaban benar.
Guru juga mendampingi siswa memilih mata pelajaran sesuai minat dan rencana masa depan.
Pelaksanaan TKA utama dijadwalkan pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, sedangkan ujian susulan berlangsung pada 16–29 November 2026.
Setelah gladi bersih berakhir, sekolah memiliki waktu sekitar satu minggu untuk memperbaiki kekurangan teknis sekaligus mematangkan persiapan siswa.
Siswa juga dapat berlatih melalui fitur Ayo Coba TKA milik Pusat Asesmen Pendidikan di laman https://pusmendik.kemendikdasmen.go.id/tka/simulasi_tka.





