:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Latar-Belakang-Keluarga-Dwi-Bagus-Bunuh-Istri-Anak-di-Madiun-Orang-Tuanya-Tokoh-Agama-Terpandang.jpg)
Ringkasan Berita:
- Dwi Bagus Martono (40), tersangka pembunuhan istri siri Dini Hardiyanti (30) dan anaknya, AGEF (4), berasal dari keluarga terpandang.
- Ketua RT mengaku warga terkejut karena Dwi Bagus tidak pernah terlibat kriminal dan baru saja menunaikan ibadah haji; ia diduga membunuh korban karena masalah asmara dan kecemburuan.
- Dwi Bagus mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada keluarga serta masyarakat, sementara polisi menjeratnya dengan pasal pembunuhan berencana.
Infomalangraya.net – Kasus pembunuhan sadis dilaporkan terjadi di Madiun, Jawa Timur.
Tersangka dalam kasus ini diketahui bernama Dwi Bagus Martono (40), sementara korbannya istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), dan anaknya, AGEF (4).
Aksi keji Dwi Bagus membuat para tetangganya di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, dibuat kaget tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
Semua dikarenakan selama ini Dwi Bagus dikenal sebagai pribadi baik, bahkan berasal dari keluarga terpandang.
Fakta tersebut dibenarkan oleh seorang narasumber internal kepolisian.
Usai ditangkap dan diperiksa petugas, Dwi Bagus lebih banyak diam.
“Dia ini orangnya pendiam, keluarganya tokoh orang terpandang agama.”
“Masyarakat kaget kok dia sampek bertindak di situ.”
“Orang tua pelaku dianggap orang terpandang, ya orang mampu, agamais, tokoh lah,” ujarnya, dikutip dari TribunJatim.com, Rabu (28/10/2026).
Pengakuan Pak RT
Hal senada juga disampaikan oleh Agung Rusmanto, Ketua RT 24, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, yang merupakan lingkungan tempat tinggal tersangka.
Menurut Agung, selama ini warga tidak pernah menaruh curiga terhadap perilaku Dwi Bagus.
Tersangka bahkan dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak pernah tersangkut kasus kriminal.
Oleh karena itu, aksi Dwi Bagus yang tega menghabisi nyawa istri siri dan anaknya membuat warga terkejut sekaligus bertanya-tanya.
Mereka tak menyangka sosok yang selama ini dikenal baik justru melakukan perbuatan keji tersebut.
“Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang tahu.”
“Makanya kemarin kaget di sini kok ada penangkapan. Itu bikin warga bertanya-tanya,” kata Agung, dikutip dari TribunJatim.com.
Agung menjelaskan, salah satu rumah yang berkaitan dengan kasus tersebut berada di Gang Tentrem, Jalan Doho, Kelurahan Winongo.
Bangunan itu merupakan rumah peninggalan orang tua Bagus yang telah lama kosong sejak kedua orang tuanya meninggal dunia beberapa tahun silam.
Meski masih tercatat sebagai warga setempat, Bagus tidak lagi tinggal di rumah tersebut.
Ia hanya sesekali datang untuk membersihkan bangunan peninggalan keluarganya.
Adapun tempat tinggal Bagus sehari-hari berada di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, bersama istri sahnya.
“Di sini itu biasanya dia datang, mungkin bersih-bersih. Tapi kalau tempat tinggal enggak, kosong,” jelas Agung.
Rumah di Jalan Doho diketahui menjadi lokasi pembunuhan terhadap AGF.
Sementara itu, rumah Bagus di Jalan Kunir menjadi lokasi mutilasi dan pembakaran jenazah dalam perkara tersebut.
Agung mengaku tidak mengetahui secara mendalam kehidupan pribadi Bagus, termasuk persoalan rumah tangganya.
Ia pun tidak dapat memastikan kapan terakhir kali Bagus mengunjungi rumah orang tuanya.
Selama berinteraksi dengan warga, Bagus dinilai tidak menunjukkan perilaku yang menimbulkan kecurigaan.
Tidak ada pula laporan dari masyarakat setempat mengenai dugaan aktivitas kriminal yang melibatkan dirinya.
Bahkan, Agung menyebut Bagus baru saja menunaikan ibadah haji.
Hal itu semakin membuat warga sulit menerima kabar bahwa pria yang selama ini mereka kenal baik diduga terlibat dalam tindak kejahatan serius.
“Kalau yang saya tahu, orangnya baik. Di lingkungan sendiri dia tidak pernah terlibat kriminal atau apa. Jadi, basic-nya itu orang baik,” ujar Agung.
Ia mengatakan, kabar tersebut membuat masyarakat sekitar terkejut karena selama ini Bagus tidak pernah dikenal bermasalah dengan hukum.
“Rata-rata lingkungan syok, pasti kaget. Basic-nya dia enggak pernah terlibat kriminal, orangnya baik, kemarin habis haji juga. Jadi, masyarakat masih kaget, tidak menyangka,” tuturnya.
Agung juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya persoalan antara Bagus dan Dini.
Ia tidak bisa memastikan apakah masalah dalam hubungan rumah tangga, baik dengan istri siri maupun istri sahnya, berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Informasi tambahan, Dwi Bagus tega membunuh kedua korban karena masalah asmara dan emosi akibat kecemburuan.
Sementara Dini Hardiyanti berstatus istri siri karena dinikahi tanpa sepengetahuan istri pertama tersangka.
Dwi Bagus Minta Maaf
Tersangka di hadapan media mengakui telah membunuh kedua korban.
Ia berdalif khilaf, sehingga meminta maaf atas perbuatan kejinya.
“Saya minta maaf pada keluarga dan masyarakat, saya mengaku salah, dan menyesal. Menyesal banget,” ujarnya, dikutip dari TribunJatim.com.
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim, Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata Sihombing menjelaskan soal motif tersangka.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara peristiwa tersebut dilatarbelakangi perselisihan dalam hubungan pribadi antara tersangka dengan korban Dini.
“Kemudian kami tegaskan bahwa pendidik juga masih terus mendalami motif secara keseluruhan rangkaian peristiwa tersebut berdasarkan alat bukti yang kami peroleh,” katanya dalam konferensi pers.
Polisi kini telah menahan Dwi Bagus dan menjeratnya dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman  dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun
“Terhadap tersangka pendidik menerapkan pasal yang utama yaitu pembunuhan berencana,” tegasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Klarifikasi Dwi Bagus Martono Pembunuh Ibu dan Anak di Madiun: Saya Menyesal dan Khilaf
(Infomalangraya.net/Endra)(TribunJatim.com/Luhur Pambudi)




