Pengalaman Memotong Rambut Anak di Barbershop
Rambut dua anak perempuan saya sudah cukup panjang. Hampir sebahu dan poninya bisa menutupi mata saat mereka beraktifitas. Kedua anak perempuan ini tidak terlalu suka dikuncir rambutnya, meskipun sesekali mereka mau dikuncir, namun biasanya tidak bertahan lama. Mereka pasti akan membuka kunciran tersebut lagi.
Suatu sore, kami pergi ke barbershop yang biasa digunakan suami untuk mencukur rambut. Mengapa anak-anak juga dipotong rambut di sana? Karena potongan rambut yang diberikan sangat bagus dan cocok untuk anak. Selain itu, kami memang berniat untuk memotong rambut mereka lebih pendek agar tumbuh subur kembali menjelang lebaran.
Rambut yang panjang seringkali membuat anak tampak acak ketika beraktifitas jika tidak dikuncir. Selain itu, rambut yang panjang seringkali kusut saat disisir, dan anak merasa sakit jika rambutnya dibetulkan. Oleh karena itu, memotong rambut pendek menjadi pilihan yang tepat.
Saat tiba di barbershop, anak-anak tampak senang karena sekalian jalan-jalan di sore hari. Kami langsung menunjukkan model rambut yang ingin mereka dapatkan. Model yang kali ini kami inginkan adalah pendek seperti Najwa Shihab, seorang jurnalis kondang. Di kursi barbershop yang biasanya digunakan oleh pelanggan pria dewasa, tersedia kayu khusus di atas gagang tangan kursi. Nala duduk di atasnya sendirian, tanpa dipangku atau drama. Wajahnya tampak bahagia. Sebelumnya, kami sudah bertanya apakah boleh rambutnya dipotong sependek Nathan. Jawabannya adalah “Mau!” dengan senyum lesung pipitnya.
Nala yang suka bergerak-gerak saat dipotong rambut dan sering terdistraksi oleh suara kulkas yang berisi banyak makanan di sana, tetap tenang. Setelah hampir selesai, Adinda berkata, “Kakak juga mau potong rambut kayak Nala!” Ini pas sekali. Saya pikir. Lalu Dinda duduk di atas kursi khusus potong rambut. Ia tersenyum dari bayangan kaca melihat wajahnya dan mulai dipotong rambutnya. Dinda sangat kooperatif, menuruti instruksi untuk menunduk atau menutup mata.
Setelah selesai, Dinda melihat saya dan ayahnya. Kami serempak berkata, “Wah Kakak Dinda Cantik Banget…” Ia pun tersenyum sumringah. Jadi seperti versi sachet dari Najwa Shihab.
Pentingnya Mood Anak Saat Potong Rambut
Ternyata, potong rambut juga memerlukan mood anak yang baik. Kemarin, saat potong rambut ke barbershop, posisi anak sudah tidur siang, tidak lapar, dan sedang dalam suasana hati yang senang. Akibatnya, anak mau duduk sendiri tanpa menangis. Hal ini karena kepercayaan diri anak sudah ada untuk bisa duduk sendiri di atas kursi khusus potong rambut. Menambah kenangan baik, serta tidak membentuk trauma jika memaksa anak. Pastikan anak sudah tahu sebelum ke tempat cukur bahwa rambutnya akan dipotong. Karena walau hanya sekedar rambut, itu jadi bagian dari tubuh anak.
Saya teringat saat pertama kali anak-anak ini potong rambut, terutama Nathan. Ia menangis tak karuan. Bahkan saat sudah dipangku, masih meronta dan menangis. Masih takut melihat orang baru dan melihat rambutnya dipotong oleh orang lain.
Hari ini, anak-anak berani potong rambut sendiri, dengan mood yang baik dan kooperatif. Setelah selesai, kami membayar totalan. Pangkas rambut 2 orang anak plus jajanan, susu 4 dan beng-beng 4. Memang resiko kalau ke barbershop sekaligus menyediakan kulkas makanan untuk dijual, anak mana yang tak tergoda sama jajanan?
Ohya, dear Kompasianer, pernahkah Anda terpikir mengapa tempat cukur perempuan disebut salon, sedangkan lelaki disebut barbershop? Padahal fungsinya sama untuk mencukur rambut. Ternyata ini bedanya.
Secara tradisional, barbershop (tempat pangkas rambut pria) melayani klien pria, sedangkan salon (sering disebut beauty salon atau hair salon) melayani klien wanita dan terkadang pria. Perbedaan ini berasal dari pemisahan peran gender dalam masyarakat selama berabad-abad. Barbershop fokus utama layanan adalah pangkas rambut pria, merapikan janggut, kumis, dan shaving (cukur basah) menggunakan pisau lipat. Fokusnya lebih ke gaya rambut yang maskulin dan perawatan wajah pria. Sedangkan salon: Menawarkan spektrum layanan yang lebih luas, termasuk potong rambut wanita (yang sering kali lebih kompleks), styling (penataan), pewarnaan, pengeritingan, perawatan rambut intensif, hingga layanan kecantikan lain seperti manikur, pedikur, dan rias wajah.
Setelah selesai cukur, kedua anak perempuan saya tampak fresh dan enteng. Yang terpenting, mereka percaya diri dengan gaya rambut baru yang pendek ini. Setelah itu, saya inisiatif foto bersama ketiga anakku. Anak bungsu lelaki kami tidak dicukur karena baru saja dipangkas beberapa minggu lalu. Foto dengan toddler memang sulit pas gayanya ya.
Dear Kompasianer, apakah Anda memiliki pengalaman saat mengajak anak potong rambut?




