Kronologi Pengeroyokan Guru SMK di Tanjab Timur
Kejadian yang melibatkan seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, telah menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Peristiwa ini berawal dari sebuah teguran yang tidak sopan yang diberikan oleh seorang siswa kepada guru bernama Agus Saputra saat proses belajar mengajar sedang berlangsung.
Pada waktu itu, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB, Agus Saputra menerima teguran yang tidak pantas dari salah satu siswanya. Teguran tersebut disampaikan dengan nada kasar dan tidak hormat, bahkan sempat direkam oleh guru tersebut. Mengetahui hal tersebut, Agus memutuskan untuk masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan siapa yang melakukan pengucapan kata-kata tidak sopan tersebut.
Siswa tersebut langsung menantang Agus, sehingga guru tersebut secara refleksif menampar wajah siswa tersebut. Kejadian ini menjadi awal dari konflik yang akan berlanjut selama beberapa jam.
Konflik Berlarut Hingga Siang Hari
Setelah kejadian pertama, Agus Saputra menjelaskan bahwa pada jam istirahat, dirinya kembali ditantang oleh siswa tersebut. Peristiwa ini berlangsung hingga pukul 13.00 sampai 16.00. Dalam waktu tersebut, Agus mencoba untuk tetap tenang dan melakukan mediasi dengan siswa tersebut.
Menurutnya, selama mediasi, siswa meminta agar ia meminta maaf atas sesuatu yang tidak dilakukannya. Agus memberikan alternatif, yaitu membuat petisi jika siswa tersebut tidak ingin dia terus mengajar di sekolah tersebut atau mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik.
Agus juga mengungkap bahwa setelah mediasi, ia diajak oleh komite sekolah masuk ke ruang kantor. Di sinilah terjadi pengeroyokan oleh siswa-siswa kelas 1, 2, dan 3. Video yang menampilkan kejadian ini telah viral di media sosial.
Penggunaan Senjata Tajam dalam Peristiwa
Dalam video yang viral, terlihat Agus Saputra membawa senjata tajam jenis celurit untuk mengejar beberapa siswanya. Namun, ia menjelaskan bahwa SMK Negeri 3 Tanjab Timur adalah SMK Pertanian, sehingga peralatan pertanian seperti cangkul dan alat lainnya tersedia di kantor.
Agus menyatakan bahwa penggunaan senjata tajam hanya untuk menggertak siswa agar bubar. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat jahat di balik tindakannya. Ia juga mengklaim bahwa dirinya hanya bertindak untuk membela diri setelah dilempari batu dan benda-benda anarkis oleh para siswa.
Kebijakan dan Tindakan Selanjutnya
Agus masih mempertimbangkan untuk melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Ia merasa bahwa siswa tersebut memerlukan bimbingan psikologis karena sudah lama ia didik. Meski tidak merupakan anak kandung, Agus menganggap siswa tersebut sebagai bagian dari keluarga besar sekolah.
Ia juga membenarkan bahwa dirinya pernah menyampaikan ucapan yang diduga menyinggung perasaan siswa. Menurutnya, ucapan tersebut diberikan sebagai motivasi agar siswa yang kurang mampu tidak bertingkah sembarangan.
Agus berharap adanya pihak yang dapat memediasi kasus ini, khususnya dinas pendidikan atau pihak berwenang, agar tidak berlarut-larut. Ia juga berharap kejadian ini bisa diselesaikan dengan bijak dan damai.
Tanggapan Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi menyayangkan kejadian ini. Pihak Disdik mengatakan bahwa tim dari Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) akan segera melakukan penyelidikan di SMKN 3 Tanjab Timur. Mereka juga mengimbau pihak sekolah agar dapat berlaku bijak dan menjamin pelaksanaan pembelajaran tetap berjalan lancar.





