Pergerakan Pasar Saham Eropa yang Menurun
Pasar saham Eropa mengalami penurunan dari level tertingginya setelah meningkatnya indikator risiko kredit. Hal ini terjadi karena Presiden AS, Donald Trump, kembali memicu perang dagang dengan ancaman pengenaan tarif baru terhadap delapan negara di Benua Biru terkait sengketa wilayah Greenland.
Data perdagangan yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa indeks Stoxx Europe 600 turun sebesar 1,28% pada perdagangan Senin (19/1) siang di Paris. Penurunan ini dipimpin oleh koreksi tajam pada sektor-sektor yang sensitif terhadap pasar AS, seperti industri otomotif dan barang mewah.
Sektor Pertahanan Mengalami Peningkatan
Di tengah eskalasi geopolitik, saham sektor pertahanan justru melonjak. Sementara itu, bursa saham AS ditutup karena hari libur nasional, meskipun kontrak berjangka ekuitasnya terpantau memerah.
Kekhawatiran pasar terlihat dari indeks iTraxx Crossover, yang merupakan indikator risiko kredit utama. Indeks tersebut melonjak hingga 8,5 basis poin. Kenaikan serupa juga terjadi pada instrumen credit default swap (CDS) perusahaan berperingkat tinggi, yang menunjukkan kecemasan investor terhadap stabilitas utang di tengah ketegangan transatlantik.
Ancaman Tarif Trump terhadap Eropa
Trump sebelumnya mengumumkan akan menerapkan bea masuk 10% mulai 1 Februari bagi negara-negara Eropa yang mendukung Greenland melawan klaim AS. Dia bahkan mengancam untuk menaikkan tarif hingga 25% pada Juni mendatang, kecuali tercapai kesepakatan bagi Amerika Serikat untuk mencaplok wilayah tersebut secara penuh.
“Ketegangan baru ini memicu aksi ambil untung massal,” ujar kepala strategi investasi di ING Brussels, Vincent Juvyns. Ia menambahkan bahwa meski kenaikan tarif secara ekonomi mungkin masih bisa diserap, perpecahan aliansi Barat akan membawa konsekuensi luas yang sulit diprediksi skalanya.
Pergerakan Pasar Valuta Asing dan Obligasi
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang G10. Sementara Franc Swiss yang bersifat safe-haven justru menguat. Di pasar obligasi, yield atau imbal hasil surat utang Jerman bertenor dua tahun turun ke level 2,08% lantaran investor mencari perlindungan pada aset aman.
Respons Uni Eropa terhadap Ancaman Trump
Uni Eropa merespons keras ancaman Trump dengan menyiapkan langkah balasan berupa tarif senilai 93 miliar euro (sekitar US$ 108 miliar) terhadap barang-barang AS. Selain itu, pihak Uni Eropa dilaporkan bakal menangguhkan perjanjian perdagangan Juli dengan Washington DC jika ancaman yang dilontarkan pemimpin Negeri Paman Sam itu benar-benar direalisasikan.
Dampak pada Emiten Besar
Sentimen negatif ini memukul emiten raksasa seperti LVMH yang ambruk lebih dari 4%, serta Volkswagen (VW) dan Mercedes-Benz yang merosot sedikitnya 3%. Analis Bloomberg Intelligence, Laurent Douillet, memperingatkan bahwa eskalasi ini berpotensi menghapus pertumbuhan laba emiten Eropa sepanjang tahun ini.
Proyeksi Ekonomi Goldman Sachs Group Inc
Ekonom Goldman Sachs Group Inc memproyeksikan bahwa tarif 10% Trump dapat memangkas PDB riil negara Eropa yang terdampak sebesar 0,1% hingga 0,2%. Jerman diperkirakan akan menjadi negara yang menanggung beban ekonomi terberat jika kepercayaan pasar terus tergerus.
Pengaruh Tarif Trump terhadap Pasar Saham Eropa
Ancaman tarif Trump menghambat reli pasar saham Eropa yang sebelumnya sempat mengungguli bursa AS. Akibat lonjakan signifikan sejak awal tahun, indeks acuan Eropa kini berada dalam posisi jenuh beli alias overbought tertinggi dalam 26 tahun terakhir, sehingga sangat rentan terhadap koreksi.
“Kegelisahan pasar sangat nyata. Dengan bertumpuknya isu mulai dari suku bunga hingga tarif, sulit menemukan alasan bagi pasar untuk terus mencetak rekor baru,” ungkap analis dari perusahaan layanan keuangan IG Paris, Alexandre Baradez.
Rasio P/E Stoxx 600
Saat ini, valuasi indeks Stoxx 600 diperdagangkan pada rasio P/E 16 kali, melampaui rata-rata historisnya.
Prediksi Deutsche Bank
Meskipun demikian, Deutsche Bank memperkirakan dampak sentimen tarif Trump ini terhadap mata uang euro akan terbatas karena besarnya ketergantungan modal AS di Eropa.
Penilaian Analis Evercore ISI
Di sisi lain, analis dari Evercore ISI, Krishna Guha, menilai putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump mendatang berpotensi membatasi kewenangan presiden Amerika itu dalam memberlakukan besaran bea impor secara sepihak.





