Pergerakan Valuta Asing Pasca Pernyataan Trump
Pergerakan valuta asing (valas) utama mengalami perubahan yang beragam setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan memberi tarif dagang tambahan ke sejumlah negara di Eropa terkait isu Greenland. Hal ini memicu ketegangan geopolitik antara AS dan Eropa, yang berdampak pada pergerakan nilai tukar beberapa mata uang utama.
Menurut data dari Trading Economics, pada Senin (20/1/2026) pukul 16.45 WIB, pasangan valas EUR/USD naik 0,69% secara harian menjadi 1,1726. Sementara itu, GBP/USD meningkat 0,37% menjadi 1,3474, dan AUD/USD menguat 0,19% menjadi 0,6726. Di sisi lain, USD/JPY terkoreksi 0,25% menjadi 157,72, sedangkan USD/CHF turun 0,91% menjadi 0,7900.
Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX, menyatakan bahwa pernyataan Trump tentang Greenland berpotensi meningkatkan tensi geopolitik antara AS dan Eropa. Meskipun pernyataan tersebut masih bersifat retoris, ia menilai pasangan valas seperti EUR/USD dan USD/CHF menjadi fokus utama. Euro cenderung sensitif terhadap risiko politik di kawasan Eropa, sementara Swiss franc sering kali menjadi aset safe haven saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Selain itu, USD/JPY juga penting untuk diamati karena yen Jepang sering menjadi tujuan lindung nilai global ketika risiko meningkat.
Kondisi Eksternal dan Dalam Negeri Australia
Taufan menjelaskan bahwa AUD/USD berpotensi bergerak stabil hingga menguat terbatas. Dukungan datang dari prospek permintaan komoditas Asia dan stabilisasi ekonomi Tiongkok. Namun, ruang penguatan dibatasi oleh kebijakan moneter global yang masih ketat.
Dari sisi eksternal, Dolar Australia mendapatkan dukungan dari rilis data ekonomi China yang relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) China kuartal IV – 2025 tumbuh 1,2% secara kuartalan, melampaui ekspektasi pasar. Pertumbuhan tahunan tercatat 4,5%, lebih baik dari perkiraan meski sedikit melambat dari kuartal sebelumnya. Hubungan dagang Australia–China yang erat memberikan dorongan moderat bagi AUD, meski belum cukup kuat untuk mendorong reli yang agresif.
Dari dalam negeri, Taufan melihat ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) menjadi faktor penopang tambahan bagi AUD. Kenaikan TD-MI Inflation Gauge ke level 3,5% secara tahunan serta lonjakan inflasi bulanan menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat. Hal ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.
Pergerakan EUR/USD dan GBP/USD
EUR/USD cenderung bergerak volatil dengan bias melemah terbatas. Risiko geopolitik Eropa dan perbedaan arah kebijakan moneter European Central Bank (ECB) dan The Fed masih menjadi faktor penekan euro. Penguatan EUR/USD terjadi akibat memburuknya sentimen terhadap Dolar AS setelah Presiden Trump meningkatkan eskalasi konflik dagang dengan Eropa terkait isu Greenland.
Ancaman tarif terhadap sejumlah negara Uni Eropa dan Inggris memicu kekhawatiran akan perang dagang lintas Atlantik yang lebih luas, menghidupkan kembali ketidakpastian kebijakan yang selama ini menjadi kelemahan struktural AS. Dalam kondisi ini, pasar mulai mempertanyakan kembali posisi Dolar AS sebagai safe haven utama, karena sumber risiko justru berasal dari kebijakan Washington sendiri.
Sementara itu, GBP/USD berpeluang relatif lebih resilien dibanding euro, ditopang oleh stabilitas domestik Inggris dan sikap Bank of England yang cenderung berhati-hati. Namun, penguatan diperkirakan tidak agresif. GBP/USD bergerak naik terutama akibat aksi jual Dolar AS secara luas, bukan karena kekuatan fundamental Inggris yang dominan. Ancaman tarif AS terhadap Inggris menempatkan Poundsterling dalam pusaran konflik geopolitik, namun reaksi pasar justru menunjukkan bahwa investor lebih fokus pada dampak negatif kebijakan tersebut terhadap AS sendiri.
USD/JPY dan USD/CHF
Taufan memperkirakan bahwa USD/JPY berpotensi melemah terbatas seiring meningkatnya minat terhadap aset safe haven yen. Terutama jika volatilitas global meningkat dan kebijakan Jepang mulai lebih fleksibel. USD/JPY melemah karena kombinasi pelemahan USD dan meningkatnya permintaan terhadap Yen Jepang sebagai aset lindung nilai. Konflik AS–Eropa yang dipicu kebijakan tarif Trump telah menciptakan lingkungan global yang defensif, di mana investor mencari perlindungan di mata uang dengan stabilitas eksternal yang kuat.
Di sisi lain, spekulasi mengenai potensi penyesuaian kebijakan Bank of Japan turut membantu menopang Yen. Pernyataan pejabat Jepang yang menegaskan kesiapan menjaga stabilitas nilai tukar memperkuat kepercayaan pasar. “Dalam konteks ini, Yen kembali menarik meskipun Jepang menghadapi tantangan fiskal dan politik domestik,” ucap Taufan.
Selanjutnya, valas USD/CHF cenderung tertekan dengan potensi penguatan franc Swiss. Ini sejalan dengan meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik global. USD/CHF melemah tajam karena meningkatnya arus masuk ke Swiss Franc sebagai aset lindung nilai. Ketegangan AS–Eropa terkait Greenland memicu kekhawatiran akan konflik dagang yang lebih luas dan berkepanjangan.
Proyeksi dan Strategi Investasi
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan valas USD/CHF pada kuartal I – 2026 di kisaran 0,78566 – 0,80967. Valas AUD/USD diproyeksi dilevel 0,66486 – 0,68104, valas USD/JPY diperkirakan dikisaran 156,500 – 159,400. Lalu, valas GBP/USD dikisaran 1,33066 – 1,35803, dan valas EUR/USD diproyeksikan di level 1,16379 – 1,17018 pada kuartal I – 2026.
Yang paling menarik dicermati saat ini adalah EUR/USD dan GBP/USD karena bersamaan dengan sentimen dagang AS – Eropa. Taufan menyarankan investor menerapkan strategi selektif dan defensif, dengan fokus pada manajemen risiko. Diversifikasi pada pasangan valas berbasis safe haven seperti JPY dan CHF dapat menjadi langkah antisipatif.
Untuk tujuan jangka pendek, strategi trading berbasis sentimen global dan dinamika geopolitik dapat dimanfaatkan, sementara untuk jangka menengah, investor perlu mencermati perbedaan arah kebijakan bank sentral utama sebagai penentu tren utama pergerakan valas.





