Sektor otomotif di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama dalam hal ekspor mobil utuh. Namun, tren ini mulai menghadapi tantangan karena peningkatan impor mobil yang membanjir. Hal ini menyebabkan surplus dari perdagangan otomotif semakin berkurang, meskipun nilai ekspor terus meningkat setiap tahun.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebelumnya surplus dari ekspor dan impor produk otomotif (kode HS 87) mencapai hingga US$2 miliar per tahun. Pada tahun 2021, surplus tersebut masih tercatat sekitar US$1,93 miliar atau sekitar Rp32,74 triliun. Namun, pada Januari-November 2025, surplus tersebut hanya tersisa US$1,18 miliar atau sekitar Rp20,12 triliun. Tren penurunan ini telah berlangsung sejak 2022, meskipun nilai ekspor tetap tumbuh secara signifikan.
Nilai ekspor mobil utuh pada tahun 2021 mencapai US$8,64 miliar. Angka ini naik menjadi US$10,97 miliar pada 2022, lalu mencapai US$11,15 miliar pada 2023, dan mencapai US$11,011 miliar pada 2024. Hingga November 2025, nilai ekspor mobil utuh sudah mencapai US$11,14 miliar. Namun, surplus yang terus tergerus disebabkan oleh kenaikan nilai impor yang tinggi.
Pada 2021, nilai impor mobil utuh mencapai US$6,7 miliar. Sementara itu, pada Januari-November 2025, nilai impor tersebut meningkat menjadi US$9,96 miliar. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) juga menunjukkan lonjakan volume impor mobil utuh pada tahun lalu. Total impor mobil utuh selama Januari-November 2025 mencapai 15.495 unit, meningkat 66,3% dibandingkan 91.085 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, ekspor mobil utuh selama Januari-November 2025 tercatat sekitar 473.971 unit, naik 10,6% dibandingkan 428.613 unit pada periode yang sama di tahun 2024. Data kode HS 87 tidak hanya mencakup mobil utuh, tetapi juga kendaraan bermotor lainnya serta aksesoris otomotif.
Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara, mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan komentar terkait data BPS. Menurutnya, Gaikindo hanya fokus pada volume unit. “Kami tidak punya expertise untuk mengomentari hal itu,” ujarnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
Namun, ia menyebutkan bahwa kinerja ekspor pada tahun lalu merupakan yang tertinggi dalam sejarah. “Ini yang tertinggi dalam sejarah, hingga Desember itu tembus lebih dari 500 ribu unit,” tambahnya. Mengenai impor yang meningkat, terlebih dengan penerapan insentif mobil listrik, Kukuh belum dapat memastikan dampaknya. “Kami tidak punya kapasitas untuk menilai hal tersebut,” katanya.
PROYEKSI PENJUALAN MOBIL 2026
Terkait proyeksi penjualan mobil pada tahun 2026, Gaikindo berharap ada banyak perbaikan. Menurut Kukuh, saat ini pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. “Dengan pertumbuhan hingga 6%, seharusnya pasar otomotif juga bisa lebih baik,” ujarnya.
Selain itu, ia menjelaskan ada beberapa faktor pendorong lain yang menjadi sentimen positif. Salah satunya adalah realisasi produksi lokal mobil listrik yang sebelumnya mendapat insentif impor. “Dengan produksi lokal, maka itu akan meningkatkan tenaga kerja dan memperbesar geliat ekonomi yang pada akhirnya mendorong pasar domestik,” tegas Kukuh.





