Tren Impor Truk China yang Mengancam Industri Kendaraan Niaga dan Karoseri Lokal
Tren impor truk utuh dari Tiongkok semakin mengkhawatirkan industri kendaraan niaga dan karoseri di dalam negeri. Menurut data yang dikumpulkan oleh Asosiasi Karoseri Indonesia (ASKARINDO), sepanjang tahun 2025, sekitar 14.000 unit truk impor asal Tiongkok masuk ke pasar domestik. Banyak dari truk tersebut sudah lengkap dengan karoseri, sehingga langsung siap digunakan oleh pengguna.
Ketua ASKARINDO, Jimmy Tenacious, menyatakan bahwa meskipun persentase pangsa pasar dari truk impor ini belum terlalu besar, tren ini telah mulai memengaruhi peluang industri karoseri nasional. Ia menilai bahwa masuknya truk impor yang lengkap dengan karoseri memberikan tekanan signifikan terhadap bisnis lokal.
“Truk impor China yang masuk utuh dengan karoserinya itu kurang lebih 14.000 unit. Kalau diprosentasekan memang belum terlalu besar, tapi ini sangat mengganggu iklim usaha di dalam negeri,” ujar Jimmy kepada Infomalangraya.net, Senin (21/1/2026).
Jimmy juga menyampaikan bahwa prospek industri karoseri pada tahun 2026 masih dibayangi ketidakpastian. Hal ini disebabkan oleh kondisi global yang belum stabil dan berdampak pada pasar domestik. Ia berharap pemerintah dapat memberikan regulasi yang lebih pro terhadap industri dalam negeri.
Untuk sementara, ASKARINDO masih bersikap wait and see menghadapi situasi di tahun 2026. Menurut Jimmy, para pelaku industri menunggu arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait pengaturan impor kendaraan niaga utuh.
Pengaruh Impor Truk China pada Produsen Kendaraan Niaga
Selain berdampak pada karoseri, impor truk China juga dirasakan oleh produsen kendaraan niaga. Rian Erlangga, Business Strategy Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia, menyatakan bahwa Isuzu terus memantau tren masuknya truk impor asal Tiongkok. Ia menekankan pentingnya agar setiap merek dan produk yang dipasarkan di Indonesia mematuhi seluruh regulasi.
Meski persaingan meningkat, Isuzu tetap mampu menjaga performa penjualan berkat kualitas produk, layanan purna jual, dan jaringan distribusi. Untuk tahun 2026, Isuzu melihat potensi pasar kendaraan niaga, terutama dari sektor logistik, distribusi, dan infrastruktur.
“Untuk menjaga daya saing, kami meningkatkan efisiensi produksi di Isuzu Karawang Plant, mengembangkan produk sesuai kebutuhan konsumen Indonesia, serta memperkuat layanan purna jual berbasis Total Support,” kata Rian.
Tekanan Impor Truk China pada Pabrik Hino
PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) juga mengakui tekanan impor truk yang semakin kuat. Direktur HMMI, Harianto Sariyan, mengatakan bahwa tekanan impor mulai terasa pada utilisasi pabrik Hino yang rata-rata hanya 35%–40% per tahun, bahkan turun menjadi sekitar 25% pada 2025.
Wibowo Santoso, Supply Chain, Marketing & Communication Division Head HMSI, menjelaskan bahwa produk impor bisa masuk dengan beban biaya yang jauh lebih ringan. Sementara itu, Hino harus membayar bea masuk sebesar 5%–10% hanya untuk membeli baja.
“Ini tentu membuat produk lokal tertekan,” ujarnya.
Hino berharap ada diferensiasi kebijakan antara produk impor dan produksi lokal agar keberlanjutan industri manufaktur nasional tetap terjaga.
Strategi Perusahaan Otomotif Lainnya
Dari sisi prinsipal lain, Christine Arifin, Marketing and Business Development Head UD Trucks Astra Motor Indonesia, menyatakan bahwa hingga awal 2026 masih banyak truk China yang masuk ke pasar. Ia menegaskan bahwa strategi perusahaan tetap sama, karena percaya bahwa layanan ke pelanggan adalah yang paling penting.
“Bisnis kami adalah memastikan operasional pelanggan berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Pelaku industri berharap pemerintah segera merumuskan kebijakan yang lebih seimbang antara keterbukaan pasar dan perlindungan industri nasional, agar tekanan impor tidak semakin menggerus basis produksi dan karoseri dalam negeri.





