Kehidupan di Pos Kesehatan Desa Sumingkir Berubah
Setiap Senin, Rabu, dan Sabtu, Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, tidak lagi seperti biasanya. Ruangan yang dulu cenderung sepi kini dipenuhi oleh suara anak-anak dan para ibu yang saling bertanya. Di sudut ruangan, ada anak yang masih malu-malu, ada juga yang mulai berani mencoba permainan edukatif. Para kader dan tenaga kesehatan bergantian mendampingi, lalu mengajak orang tua mempraktikkan aktivitas sederhana untuk merangsang gerak, bicara, fokus, hingga interaksi sosial anak.
Rutinitas baru ini adalah kelas stimulasi perkembangan anak usia 0–6 tahun yang dijalankan melalui Program SPRING (Early Stimulation in Primary Health Service Integration). Program ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Tegal dan Tanoto Foundation untuk memperkuat layanan stimulasi anak usia dini di Pustu (Puskesmas Pembantu) dan PKD sebagai bagian dari penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP).
“Posyandu itu waktunya terbatas dan sasarannya banyak. SPRING melengkapi agar layanan stimulasi lebih terjadwal dan lebih fokus,” ujar Siti Mafruroh, Bidan Desa Sumingkir sekaligus Koordinator Program SPRING di lapangan.
Pelatihan Intensif Lintas Unsur
Fondasi kegiatan ini dimulai dari pelatihan intensif pada 15–19 Desember 2025. Pelatihan digelar di Puskesmas Kedungbanteng dan PKD Sumingkir, diikuti 35 peserta lintas unsur: kader posyandu, tenaga kesehatan Pustu dan PKD, petugas promosi kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta unsur pemerintah desa.
Pelatihan juga dihadiri Kepala Desa Sumingkir Khasan Ali, Kepala Puskesmas Kedungbanteng Muhtamar, S.Kep., Ners., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dr. Ruszaeni, S.H., M.M., serta Project Manager SPRING Tanoto Foundation Rakhmawati. “Untuk kader posyandu dan tenaga kesehatan, pelatihan teknis berlangsung tiga hari di PKD kami, setelah sebelumnya materi umum dua hari di puskesmas,” kata Siti.
Selain memperkuat pemahaman tentang stimulasi perkembangan anak, pelatihan juga menekankan kemampuan komunikasi antarpribadi dan penggunaan media KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi). Peserta juga dibekali pemanfaatan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) serta Alat Permainan Edukatif (APE) sesuai tahapan perkembangan.
Kelompok Usia dan Keterlibatan Orang Tua
Sejak Januari 2026, kelas stimulasi di PKD Sumingkir mulai berjalan rutin. Anak dikelompokkan dalam enam kelompok usia: 0–1 tahun, 1–2 tahun, 2–3 tahun, 3–4 tahun, 4–5 tahun, dan 5–6 tahun. Pembagian ini membuat aktivitas di kelas lebih tepat sasaran karena kebutuhan anak tidak disamaratakan.
Sebagai percontohan, satu kelas diisi 10–12 ibu beserta anaknya, dengan sasaran perwakilan dari empat posyandu yang ada di desa. Setiap sesi berlangsung sekitar satu jam dan difokuskan pada praktik stimulasi, bukan hanya penyuluhan. “Setiap usia beda perlakuannya. Semua sudah ada panduannya di buku KIA dan buku pedoman dari SPRING. Kader tinggal menyesuaikan dengan umur anak,” jelas Siti.
Orang tua atau pengasuh tidak hanya mendampingi, tetapi ikut menjadi bagian penting kelas. Selain praktik selama sesi, orang tua juga diberi “PR” agar stimulasi dilanjutkan di rumah. Targetnya, interaksi yang mendukung perkembangan anak bisa terjadi berulang dan tidak berhenti saat pertemuan di PKD.
Perubahan Awal yang Terlihat
Program ini baru berjalan tiga kali pertemuan, tetapi Siti menyebut sudah ada perubahan awal yang terlihat. “Sudah kelihatan bedanya. Anak yang awalnya malu-malu, sekarang sudah mulai aktif bersosialisasi dan bisa memainkan APE sesuai usianya. Yang lebih menggembirakan, para ibu mulai paham dan aktif bertanya,” tutur Siti.
Menurutnya, orang tua tidak hanya datang untuk “menghadiri kegiatan”, tetapi mulai membawa pulang praktik yang bisa diulang di rumah, dengan rujukan buku KIA dan pedoman yang digunakan kader saat kelas berlangsung.
Dukungan dari Pemerintah Desa
Dukungan juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Sumingkir, Khasan Ali, menyebut stimulasi perkembangan anak sebagai bagian dari prioritas pembangunan desa. “Program ini berbeda dengan program kesehatan sebelumnya. Bukan hanya fisik, tapi juga perkembangan otak anak sejak dini,” ujar Khasan Ali.
Ia mengatakan Desa Sumingkir mengalokasikan anggaran kesehatan 2026 sekitar Rp100 juta dari dana desa. Anggaran itu mencakup Posyandu ILP, pelayanan kesehatan dasar, serta dukungan Program SPRING. “Untuk bidang kesehatan memang kami anggarkan cukup besar. Termasuk untuk mendukung kegiatan SPRING,” katanya.
Khasan Ali menekankan hasil program stimulasi tidak bisa dituntut cepat seperti pembangunan fisik. “Program ini bukan sekadar sebuah kegiatan, tetapi bentuk nyata kolaborasi dan kepedulian bersama dalam mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Itu bentuk investasi. Kita tidak bisa melihat satu, dua, tiga bulan hasilnya seperti pembangunan fisik, tetapi kita sedang membangun masa depan,” ujarnya.
Penutup
Dari sisi layanan kesehatan desa, apresiasi juga disampaikan pengelola layanan. “Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam Proyek SPRING. Semoga kerja sama yang baik ini dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi program-program positif lainnya di Desa Sumingkir, untuk masa depan yang lebih baik,” kata Siti Mafruroh.
Sejalan dengan ILP, PKD jadi ruang belajar pengasuhan. Di tingkat kabupaten, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal dr. Ruszaeni menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelaksanaan SPRING melalui penguatan peran kader, pemanfaatan PKD sebagai ruang layanan stimulasi, serta integrasi stimulasi dan edukasi ke agenda rutin posyandu dan kegiatan desa.
Arah ini sejalan dengan pendekatan ILP yang mendorong layanan lebih terintegrasi dan dekat dengan keluarga. Dengan jadwal rutin, pembagian kelompok usia, keterlibatan orang tua, serta pencatatan yang tertib, kelas stimulasi di PKD Sumingkir diupayakan menjadi layanan yang berjalan konsisten. Bagi desa, ini bukan kegiatan sesekali, melainkan bagian dari upaya membangun kualitas generasi sejak usia dini.





