Di Desa Batajawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah peristiwa tragis menggemparkan warga. Seorang bocah berusia 10 tahun bernama YBR ditemukan tewas gantung diri di bawah pohon cengkeh dekat rumah neneknya. Kejadian ini memicu rasa prihatin dan pertanyaan tentang kondisi ekonomi serta pendidikan di daerah tersebut.
Pondok yang menjadi tempat tinggal YBR tidak terlalu besar. Hanya berukuran sekitar tiga kali empat meter dengan dinding dari bambu. Di dalamnya, Oma Welu tinggal bersama empat cucunya. Sekitar lima meter dari pintu depan, ada pohon cengkeh yang ditanam oleh pemilik lahan. Pohon itu menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga.
Pada hari kejadian, YBR terlihat duduk di depan pintu pondok pada pagi hari. Seorang warga yang lewat menanyakan kenapa ia tidak sekolah. Ia menjawab bahwa sedang sakit. Beberapa jam kemudian, warga lain juga menanyakan hal yang sama, dan YBR kembali menjawab bahwa ia sedang sakit. Ia tampak murung dan merenung saat itu.
Sekitar pukul 11.00 WIT, seorang warga melihat bahwa YBR sudah tidak ada di depan pintu. Ia ditemukan tergantung di bawah pohon cengkeh dekat pondok. Kejadian ini membuat seluruh kampung geger, dan kabar cepat menyebar hingga ke seluruh negeri.
Suasana pemakaman bocah YBR di Desa Batajawa, Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Philipus Jio, kepala desa Batajawa, mengaku mengenal baik YBR. Menurutnya, anak itu sering main ke rumahnya dan pernah diberi makan. Rumah Om Lipus, sapaan akrabnya, hanya sekitar 100 meter dari pondok sang nenek. “Dulu kita juga yang membantu membangun pondok itu,” kata dia.
YBR dikenal sebagai bocah cerdas. Guru-gurunya pernah menyebutkan bahwa ia memiliki nilai yang bagus. Menurut Om Lipus, YBR tinggal bersama neneknya karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Ayahnya telah pergi merantau ke Kalimantan untuk bekerja di perkebunan sawit, dan tidak pernah memberi kabar sejak YBR masih di kandungan.
Ibu YBR bekerja serabutan sebagai buruh panggil, seperti membersihkan atau memanen tanaman seperti kemiri, cengkeh, dan pala. Penghasilannya hanya sekitar Rp 50 ribu per hari, dan pekerjaan kadang tidak teratur.
Kondisi ekonomi ini membuat anak-anak sering dititipkan kepada nenek yang usianya sudah lebih dari 80 tahun. Mereka biasa mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan sehari-hari.
Om Lipus mengingat bahwa YBR pernah berkunjung ke rumah ibunya beberapa hari sebelum kejadian. Ia mengatakan bahwa tujuan YBR adalah meminta uang kepada ibunya untuk membeli bolpoin dan buku tulis. Malam itu, YBR menginap di rumah ibunya dan kembali ke rumah nenek keesokan harinya.
Menurut Om Lipus, kejadian ini diketahui melalui laporan warga. Ia langsung bergerak ke lokasi setelah mendengar kabar. Saat tiba, orang-orang sudah ramai di lokasi. Ia mencoba menyelamatkan YBR, tetapi terlambat. Dua jam kemudian, polisi dari Polres Ngada tiba di lokasi.
Atas kejadian ini, Om Lipus memohon agar pemerintah lebih memperhatikan anak-anak yang kurang kasih sayang dari orang tua. Ia berharap biaya pendidikan dan ekonomi mereka dapat diperhatikan.
Di lokasi kejadian, warga menemukan surat dari YBR yang ditulis dalam bahasa setempat. Isinya berupa pesan untuk ibunya: “Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan menyelidiki insiden tragis ini. Menteri Abdul Mu’ti mengatakan bahwa pihaknya belum mendapatkan informasi lengkap mengenai kejadian tersebut dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan rasa prihatinnya atas insiden ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah, khususnya Kemensos, akan memperkuat data dan pendampingan terhadap keluarga-keluarga miskin. Ia berharap tidak ada keluarga yang terlewat dalam program perlindungan dan pemberdayaan.




