
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepulauan Riau 2026 yang akan diselenggarakan di Kota Tanjungpinang kini menghadapi tantangan besar terkait kesiapan fasilitas olahraga. Minimnya arena atau venue yang memadai menjadi sorotan utama, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas penyelenggaraan ajang olahraga terbesar tingkat provinsi ini.
Menurut Sekretaris Seksi Wartawan Olahraga Indonesia (SIWO) Kepri, Abbas, kondisi infrastruktur olahraga di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau masih jauh dari harapan. Meskipun Tanjungpinang sering menjadi tuan rumah berbagai event olahraga, peningkatan dan pembenahan sarana prasarana venue olahraga masih sangat minim.
“Banyak venue olahraga yang digunakan untuk pertandingan tidak memadai, bahkan bisa dikatakan tidak layak,” ujar Abbas. Ia mencontohkan pengalaman pada Porprov sebelumnya, khususnya cabang olahraga voli yang digelar di Lapangan Tugu Pensil. Menurutnya, lapangan tersebut tidak layak karena angin kencang, panas, dan ranting pohon bisa jatuh dan berpotensi mencederai atlet.
35 Cabang Olahraga Terancam Terkendala Venue
Saat ini, Kota Tanjungpinang sedang melakukan persiapan menyeluruh untuk Porprov Kepri 2026, termasuk koordinasi dalam menentukan venue-venue olahraga yang akan digunakan. Dari total 35 cabang olahraga yang direncanakan dipertandingkan, Abbas mempertanyakan kesiapan fasilitas, terutama untuk cabang olahraga voli.
“Kita masih bertanya-tanya, voli nanti akan digelar di mana? Sampai sekarang fasilitasnya belum ada,” ungkapnya. Ia menilai, keterbatasan fasilitas olahraga yang terstandar tidak hanya berdampak pada penyelenggaraan event, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap prestasi atlet daerah, terutama saat berlaga di luar daerah.
Menurut Abbas, pengalamannya saat meliput atlet Kepri di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) menunjukkan bahwa banyak atlet kesulitan beradaptasi karena terbiasa berlatih di lapangan outdoor, sementara pertandingan digelar di venue indoor dengan fasilitas modern.
“Kita latihan di outdoor, tapi saat tanding di indoor dengan pencahayaan lampu dan fasilitas lengkap, atlet kita kesulitan beradaptasi. Akhirnya performa tidak maksimal,” jelas Abbas.
Peluang Lahan HGU dan HGB untuk Fasilitas Olahraga
Abbas berharap pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serius membangun fasilitas gelanggang olahraga yang lengkap dan terstandar. Ia juga menyoroti ironi sebagai daerah pesisir, namun hingga kini Tanjungpinang belum memiliki venue voli pantai yang memadai.
Selama ini, kendala utama yang kerap disampaikan pemerintah adalah keterbatasan lahan. Namun Abbas menilai, kebijakan pemerintah pusat terkait pengembalian lahan HGU dan HGB yang tidak diperpanjang dapat menjadi peluang besar bagi daerah.
“Kebijakan ini seharusnya dimanfaatkan untuk membangun fasilitas olahraga. Sudah saatnya kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota serius membangun sarana olahraga demi kemajuan prestasi daerah,” tegasnya.





