Pemerintah China Mengimbau Penundaan Perjalanan ke Jepang, Industri Pariwisata Tetap Tangguh
Pada 26 Januari 2026, pemerintah China mengeluarkan imbauan untuk menunda perjalanan ke Jepang dengan alasan meningkatnya kejahatan yang menargetkan warga negara China. Meskipun imbauan ini berdampak signifikan pada jumlah wisatawan asal Tiongkok, industri pariwisata Jepang tetap menunjukkan ketangguhan. Hal ini terlihat dari peningkatan kunjungan dari negara-negara lain serta pengaruh pelemahan yen yang membuat Jepang lebih terjangkau bagi turis asing.
Penurunan Wisatawan China Berdampak pada Kinerja Pariwisata
Menurut data Japan National Tourism Organization (JNTO), jumlah wisatawan dari daratan China pada Desember 2025 mencapai 330.400 orang, turun sebesar 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, kunjungan wisatawan asing ke Jepang justru meningkat menjadi 3,62 juta orang, naik 3,7% secara tahunan. Ini didorong oleh pelemahan yen yang memperkuat daya beli turis asing dan meningkatkan minat mereka untuk berkunjung ke Jepang.
Sejumlah operator perjalanan menyatakan bahwa permintaan kuat dari Asia non-China, Eropa, dan Amerika Serikat berhasil menutupi penurunan wisatawan China. Misalnya, seorang direktur agen perjalanan di Kyoto mengatakan bahwa reservasi dari Taiwan, Amerika Serikat, dan Eropa meningkat, sehingga skala operasional bisa dipertahankan setara dengan tahun lalu.
Lonjakan Wisatawan dari Negara Lain
Data JNTO juga menunjukkan lonjakan wisatawan Asia Tenggara sepanjang 2025. Thailand meningkat lebih dari 7%, Filipina 2,2%, Singapura 1,9%, Vietnam 1,7%, serta Malaysia dan Indonesia masing-masing meningkat 1,4%. Selain itu, wisata domestik Jepang ikut bergairah karena kenaikan biaya bepergian ke luar negeri membuat banyak warga Jepang memilih berwisata dalam negeri.
“Dengan libur yang singkat dan jarak dekat, jumlah wisatawan domestik ke Kyoto meningkat drastis,” ujar pelaku industri tersebut. Berkurangnya rombongan besar China juga dinilai meredakan overtourism di pusat kota, membuat pengalaman berwisata lebih nyaman.
Daerah Non-Mainstream Tak Terdampak
Di Shikoku, khususnya Tokushima—yang bukan destinasi utama wisatawan China—seorang pemandu wisata memperkirakan permintaan 2026 akan setara dengan tahun lalu. “Banyak tamu dari Taiwan dan Eropa, bahkan agen global sedang menjajaki paket ke Tokushima. Pergerakan wisatawan China sama sekali tidak berdampak di sini,” ujarnya. Ia juga membantah klaim bahwa wisatawan China menjadi target kejahatan di Jepang. “Jika itu terjadi, pasti cepat menjadi pembicaraan di industri wisata. Faktanya, hal tersebut tidak terjadi,” katanya.
Diversifikasi Pasar dan Pelemahan Yen Membantu Ketangguhan Pariwisata
Secara keseluruhan, meski imbauan Beijing menekan arus wisatawan China, diversifikasi pasar dan pelemahan yen membuat industri pariwisata Jepang tetap resilien. Bahkan di sejumlah daerah, kualitas pengalaman wisata dinilai semakin membaik dan semakin nyaman.





