Proyek Hilirisasi Danantara Indonesia: Membangun Ekonomi Berkelanjutan
Proyek hilirisasi yang sedang dikembangkan oleh Danantara Indonesia mulai menunjukkan hasilnya. Dengan total investasi sebesar 7 miliar dolar AS, enam proyek ini tersebar di 13 lokasi berbeda di seluruh Indonesia. Proyek-proyek ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat sektor-sektor strategis seperti energi, pangan, serta mineral dan logam.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek hilirisasi ini menjadi prioritas utama pemerintah dalam mengakselerasi transformasi ekonomi. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor, proyek ini diharapkan memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia.
Berikut adalah daftar proyek hilirisasi yang saat ini sedang berjalan:
1. Smelter Bauksit–Alumina–Aluminium di Mempawah
MIND ID bersama anggotanya, INALUM dan ANTAM, membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Fasilitas ini terdiri dari smelter aluminium baru dengan kapasitas 600 ribu metrik ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton per tahun.
Melalui proyek ini, nilai tambah bauksit meningkat hingga 70 kali lipat, dari harga bauksit mentah sekitar 40 dolar AS per metrik ton menjadi sekitar 2.800-3.000 dolar AS per metrik ton setelah diproses menjadi aluminium. Dengan operasional smelter, cadangan devisa diperkirakan meningkat 394 persen dari Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun.
2. Biorefinery Cilacap
PT Pertamina (Persero) meresmikan groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah. Saat ini, fasilitas tersebut telah menghasilkan 27 kilo liter Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari dan akan meningkat menjadi 887 kilo liter per hari pada 2029.
Proyek ini ditujukan untuk mendukung sektor energi, penerbangan, dan pelestarian lingkungan. Diharapkan dapat mewujudkan transisi energi, menurunkan impor avtur, dan mengurangi emisi hingga 600 ribu ton setara CO2 per tahun. Selain itu, proyek ini diproyeksikan meningkatkan PDB sebesar Rp 199 triliun per tahun dan menyerap tenaga kerja hingga 5.900 orang.
3. Pabrik Bioetanol Glenmore
Pertamina melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy bersama PT Sinergi Gula Nusantara membangun pabrik bioetanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi bioethanol berbasis tebu sebesar 30 ribu kilo liter per tahun.
Proyek ini diharapkan menciptakan efek domino berupa penurunan impor BBM dan pengurangan emisi sebesar 66 ribu ton setara CO2 per tahun. Selain itu, proyek ini akan memberikan dampak ekonomi bagi wilayah sekitar melalui penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat bagi lebih dari 4 ribu petani dan tenaga kerja lokal.
4. Proyek Bioetanol PTPN III
PTPN III (Persero) bersama Pertamina memulai proyek bioetanol di Banyuwangi yang dirancang memiliki kapasitas produksi 100 KLPD (kilo liter per day). Proyek ini diharapkan meningkatkan nilai tambah perusahaan melalui pengolahan komoditas, peningkatan ketahanan energi, dan penghematan devisa.
Selain itu, proyek ini disebut akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan petani mitra, serta mendorong pengembangan wilayah dan lingkungan yang lebih bersih melalui energi terbarukan.
5. Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD melalui anak perusahaannya PT Berdikari meresmikan fasilitas hilirisasi poultry terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein nasional, khususnya dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Kegiatan groundbreaking juga dilakukan di beberapa daerah lain seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat yang juga melibatkan pemerintah daerah setempat.
6. Tiga Proyek Hilirisasi Garam
PT Garam melaksanakan groundbreaking tiga proyek hilirisasi fase I yang menjadi bagian dari transformasi industri garam nasional. Ketiga proyek ini antara lain:
- Pembangunan pabrik garam bahan baku industri berteknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Kabupaten Sampang dengan kapasitas 200.000 ton per tahun.
- Pabrik garam bahan baku industri MVR di Manyar, Gresik dengan kapasitas 100.000 ton per tahun.
- Pabrik garam olahan Segoromadu 2 di Gresik dengan kapasitas 80.000 ton per tahun.
Ketiga fasilitas ini memiliki total kapasitas produksi sekitar 380 ribu ton per tahun. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat pasokan garam industri, meningkatkan kualitas produk, serta mendorong optimalisasi utilisasi produksi dan penciptaan lapangan kerja.




