Laporan Wartawan Infomalangraya.net, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- BNPB mencatat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) berdampak sampai ke DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.
- BNPB melaporkan terdapat tiga kabupaten dengan total 15 kecamatan yang masuk dalam wilayah pemantauan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
- BNPB melakukan langkah penanganan. Ini rinciannya.
Infomalangraya.net, JAKARTA – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
BNPB mencatat paparan abu vulkanik terjadi di DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.
Kondisi tersebut membuat penanganan tidak hanya berfokus pada aktivitas Gunung Anak Krakatau, tetapi juga pada dampak yang dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., mengatakan pihaknya terus memantau kondisi masyarakat terdampak dari waktu ke waktu.
Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sekaligus dengan mengirimkan tim langsung ke lapangan.
Tiga Kabupaten, 15 Kecamatan Terdampak
BNPB melaporkan terdapat tiga kabupaten dengan total 15 kecamatan yang masuk dalam wilayah pemantauan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Di Kabupaten Lampung Selatan, wilayah yang dipantau meliputi Kecamatan Punduh Pidada, Rajabasa, Kalianda, Ketapang, Bakauheni, Sidomulyo, dan Katibung.
Sementara di Kabupaten Pandeglang, terdapat empat kecamatan yang masuk dalam pemantauan, yakni Carita, Labuan, Menes, dan Jiput.
Adapun di Kabupaten Tanggamus, empat kecamatan yang dipantau adalah Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.
BNPB telah melakukan video conference dengan para kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah tersebut.
Dari laporan awal pemerintah daerah, belum terdapat korban jiwa.
Sementara itu, pendataan dampak secara fisik masih terus dilakukan.
BNPB Kirim Personel ke Daerah
Untuk mengetahui kondisi masyarakat secara langsung, BNPB telah mengirimkan tim pendahulu ke daerah terdampak.
Pada tahap pertama, sebanyak 10 personel dikirim ke lapangan.
Tim tersebut bertugas memantau secara langsung kondisi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus dampaknya terhadap masyarakat.
Pengiriman tim menjadi bagian dari pemantauan BNPB yang dilakukan secara berjenjang.
BNPB juga terus melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat.
“Pertama, tadi sekali lagi kami sudah melakukan video conference, tentu saja ini terus kita lakukan untuk mengetahui detik per detik, jam per jam, hari per hari daripada kondisi masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Anak Karakatau ini. Kemudian juga BNPB sudah mengirimkan tim pendahulu ke daerah bencana,”paparnya.
Dengan pemantauan langsung tersebut, BNPB dapat memperoleh gambaran kondisi lapangan sekaligus melihat kebutuhan yang mungkin diperlukan masyarakat.
Cek Sirene hingga Gudang Logistik
Selain mengirimkan personel, BNPB juga melakukan pengecekan kesiapan berbagai perangkat penanganan bencana.
Pengecekan mencakup alat pemantauan, sirene, rambu evakuasi, hingga piranti lunak dan rencana kontingensi yang dimiliki kabupaten terdampak.
Kesiapan logistik juga menjadi perhatian.
BNPB mengecek ketersediaan makanan dan gudang-gudang logistik milik pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan persediaan dapat digunakan apabila kondisi di lapangan membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Jika kebutuhan daerah meningkat dan bantuan dari pemerintah pusat diperlukan, BNPB menyatakan bantuan akan segera didorong.
Belum Ada Daerah Tetapkan Status Kedaruratan
Meski sejumlah wilayah telah terdampak abu vulkanik, BNPB menyebut belum ada pemerintah kabupaten maupun provinsi terdampak di Banten dan Lampung yang menetapkan status kedaruratan.
Status tersebut berkaitan dengan mekanisme permintaan bantuan pemerintah pusat melalui BNPB.
Namun, belum adanya penetapan status kedaruratan tidak membuat BNPB menghentikan pemantauan.
BNPB tetap mengirimkan tim ke lapangan dan melakukan pengecekan kesiapan daerah.
Dengan begitu, langkah antisipasi tetap dilakukan meskipun status kedaruratan belum ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Abu Vulkanik di DKI Jakarta Jadi Perhatian
Paparan abu vulkanik juga dirasakan di DKI Jakarta.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BNPB melakukan langkah untuk membantu mengurangi partikel abu yang berada di lingkungan masyarakat.
BNPB menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilaksanakan pada Minggu (6/9/2026).
Pesawat untuk pelaksanaan operasi tersebut telah disiapkan di Pondok Cabe.
Operasi modifikasi cuaca direncanakan berlangsung hingga malam.
Ada dua teknik yang disiapkan dalam operasi tersebut.
Teknik pertama ditujukan untuk mendatangkan hujan.
Jika hujan turun dengan cukup deras, abu vulkanik yang berada di lingkungan dapat ikut luruh bersama air hujan.
Cara tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi gangguan akibat abu vulkanik yang dirasakan masyarakat sejak sebelumnya.
Jika Tidak Ada Awan, Gunakan Water Mist
Namun, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menghadapi kondisi musim panas dan pertumbuhan awan hujan yang tidak selalu tersedia.
Dalam kondisi tidak terdapat pertumbuhan awan hujan, BNPB bersama BMKG menyiapkan metode water mist.
Metode tersebut ditujukan untuk mengurai partikel abu yang berbahaya.
“Untuk DKI Jakarta, Banteng, dan Lampung, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, ini kami dengan BMKG juga sepakat untuk menggunakan metode water mist, yaitu untuk mengurai partikel abu yang berbahaya,”imbuhnya.
Operasi modifikasi cuaca tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk membantu menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik.
BNPB berharap pelaksanaan operasi yang dilakukan hingga malam dapat membantu mengurangi gangguan akibat abu vulkanik.
Masker dan Logistik Mulai Didistribusikan
Selain melakukan pemantauan dan operasi modifikasi cuaca, BNPB juga mulai mendistribusikan kebutuhan masyarakat.
Distribusi mencakup kebutuhan logistik dasar dan masker.
Dalam pelaksanaannya, BNPB berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan kondisi masyarakat di wilayah terdampak.
Kebutuhan masyarakat menjadi salah satu hal yang terus diperiksa seiring perkembangan kondisi di lapangan.
Koordinasi Pemerintah Terus Berjalan
Penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau juga dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga.
BNPB berkomunikasi dengan BMKG untuk mendapatkan perkembangan situasi secara berkala.
BNPB juga mendapat arahan dari Kementerian Kesehatan dan melaporkan perkembangan penanganan kepada Presiden.
Koordinasi tersebut dilakukan agar perkembangan kondisi dan kebutuhan di lapangan dapat segera diketahui.
Di sisi lain, BNPB juga tetap menunggu laporan dari pemerintah daerah terkait kondisi masyarakat dan dampak fisik yang terjadi.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Dengan abu vulkanik yang telah berdampak di sejumlah wilayah, BNPB memastikan pemantauan terus dilakukan.
Masyarakat di wilayah terdampak menjadi bagian utama dari pemantauan tersebut.
BNPB juga menyatakan kesiapan untuk memberikan bantuan apabila masyarakat benar-benar membutuhkan.
“Kemudian kami pemerintah pusat lewat BNPB juga siap untuk terus membantu apabila masyarakat memang betul-betul membutuhkan,”tutupnya.
Untuk sementara, langkah yang dilakukan mencakup pemantauan langsung, pengecekan kesiapan perangkat dan logistik, pengiriman masker, hingga operasi modifikasi cuaca.
