Kecerdasan Buatan (AI) sebagai Mesin Monetisasi 5G
Kecerdasan buatan (AI) dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi mesin monetisasi baru bagi operator seluler melalui jaringan 5G. Selain membuka peluang layanan baru, AI juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi jaringan dan penggunaan energi. Dalam konteks ini, GSMA menyoroti pentingnya memaksimalkan manfaat dari teknologi 5G sebelum terlalu fokus pada pengembangan 6G.
Perkembangan Teknologi 5G dan 6G
Menurut Julian Gorman, kepala Asia Pasifik GSMA, industri seluler perlu berfokus mengubah 5G menjadi teknologi yang memberikan dampak ekonomi nyata, termasuk melalui pemanfaatan AI. Ia menyebutkan bahwa 5G diperkirakan akan tetap menjadi teknologi dominan di Asia Pasifik hingga akhir dekade berikutnya. Sementara itu, standar 6G diperkirakan selesai sekitar tahun 2028 dan jaringan komersial 6G baru diperkirakan hadir sekitar 2030.
Oleh karena itu, Julian menekankan bahwa industri perlu memastikan 5G terlebih dahulu menghasilkan inovasi dan transformasi ekonomi sebelum terlalu berfokus mengejar 6G. “Kita perlu memastikan bahwa kita mendapatkan tahap itu dengan 5G, sehingga kita memiliki inovasi yang menggunakan latensi rendah, kapasitas besar, dan manfaat transformatif yang dimiliki 5G,” ujarnya dalam Virtual Roundtable yang dihadiri dari Jakarta, Kamis (20/8).
Penggunaan AI dalam Layanan Baru
Julian mencontohkan era 4G yang melahirkan berbagai layanan dan platform digital seperti Tokopedia dan Gojek. Menurutnya, Indonesia juga perlu menghasilkan use case 5G sendiri agar teknologi tersebut memberikan dampak ekonomi yang terukur.
Dalam konteks tersebut, GSMA melihat AI sebagai salah satu peluang untuk memonetisasi 5G. Julian menjelaskan bahwa perkembangan AI mengubah pola lalu lintas data pada jaringan seluler. Era 4G sangat didominasi konsumsi video, sehingga kebutuhan jaringan lebih banyak berada pada sisi downlink, yakni ketika pengguna menerima data.
Sementara itu, penggunaan AI membutuhkan lebih banyak pengiriman data sehingga meningkatkan kebutuhan pada sisi uplink. “Terkait AI, kami melihat permintaan yang jauh lebih besar pada uplink,” katanya. Perubahan ini menjadi implikasi bagi operator seluler ketika AI semakin banyak digunakan melalui jaringan seluler.
Integrasi AI dalam Kehidupan Sehari-hari
AI semakin terintegrasi dalam kehidupan masyarakat melalui perangkat yang sudah digunakan sehari-hari. Julian mencontohkan penggunaan model AI seperti Claude, Gemini, dan ChatGPT melalui smartphone. Menurutnya, masyarakat Indonesia sudah mulai membuat keputusan sehari-hari mengenai penggunaan kecerdasan buatan.
Pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada perusahaan besar, tetapi juga dapat masuk ke rumah tangga dan usaha kecil. Contohnya adalah kamera CCTV yang sebelumnya hanya berfungsi merekam. Dengan AI, kamera dapat menginterpretasikan apa yang dilihat secara real time. “AI membuat interaksi dengan teknologi menjadi jauh lebih mudah,” ujar Julian.
Manfaat AI dalam Bisnis dan Efisiensi Jaringan
AI juga dapat membantu usaha kecil memanfaatkan pembayaran digital, melakukan transaksi dari jarak jauh, serta membuat materi komunikasi dan pemasaran yang lebih menarik hanya melalui ponsel. Dengan demikian, penetrasi AI melalui jaringan 5G berpotensi menciptakan berbagai penggunaan baru bagi konsumen maupun pelaku usaha.
Peluang monetisasi AI tidak hanya berasal dari layanan baru yang ditawarkan kepada pelanggan. Akal imitasi juga dapat membantu operator menekan biaya operasional. Julian menjelaskan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi layanan pelanggan. Namun, peluang yang lebih besar juga terdapat pada pengelolaan jaringan.
AI dapat membantu operator mengelola jaringan, termasuk menentukan bagaimana base station beroperasi dan berapa banyak daya yang digunakan. Dengan pengelolaan secara dinamis, penggunaan energi jaringan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. “AI kini dapat digunakan untuk mengelola jaringan, termasuk cara kerja stasiun pangkalan dan seberapa besar daya stasiun pangkalan yang digunakan,” kata Julian.
Aplikasi AI dalam Sektor Kesehatan
Kepala Urusan Publik dan Eksternal APAC GSMA Jeanette Whyte menambahkan bahwa AI dan 5G juga memiliki peluang penggunaan di sektor kesehatan. Ia mencontohkan pemanfaatan AI di rumah sakit yang dapat membantu prosedur dilakukan secara lebih efisien sehingga mengurangi waktu pasien berada di rumah sakit.
Jeanette juga mengatakan kemampuan melakukan layanan secara jarak jauh dengan dukungan 5G dan AI mulai terealisasi. Ia mencontohkan prosedur medis yang dilakukan secara jarak jauh antara lokasi yang berbeda. Menurut Jeanette, penggunaan seperti ini relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang mungkin tidak memiliki tenaga ahli tertentu di seluruh wilayah.
Inovasi Operator Seluler di Indonesia
Julian menilai operator seluler di Indonesia telah mulai mengeksplorasi berbagai inovasi berbasis 5G dan AI. Ia mencontohkan Indosat Ooredoo Hutchison atau IOH yang mengumumkan kemitraan dengan NVIDIA dan Nokia terkait AI-RAN. Selain itu, penggunaan internet 5G mulai terlihat di sektor industri seperti pabrik, pelabuhan, dan bandara, yang menurut Julian telah mulai menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Kontribusi Ekonomi Teknologi Seluler
Meski begitu, Julian menekankan bahwa dampak ekonomi teknologi seluler tidak dapat diukur hanya dari pendapatan operator. GSMA memperkirakan kontribusi ekonomi seluler di kawasan mencapai sekitar US$ 1 triliun pada tahun lalu, setara sekitar 5,9% dari PDB regional. Kontribusi itu mencakup pendapatan langsung operator dan distribusinya, tetapi juga nilai ekonomi yang tercipta karena teknologi seluler meningkatkan efisiensi industri dan memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih luas, termasuk transaksi melalui platform perdagangan seluler.
Kontribusinya diproyeksikan meningkat menjadi 6,7% dari PDB regional pada akhir dekade. Julian mengatakan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut. Oleh karena itu, monetisasi 5G tidak harus berarti operator secara langsung menjual layanan AI kepada pelanggan. Nilai ekonominya juga dapat muncul dari efisiensi jaringan, peningkatan produktivitas industri, munculnya layanan baru, hingga aktivitas ekonomi yang dimungkinkan oleh konektivitas.
Bagi Indonesia, Julian menilai fokusnya adalah mengubah 5G menjadi teknologi yang digunakan secara luas dan menghasilkan dampak ekonomi, sementara AI dapat menjadi salah satu teknologi yang mendorong proses tersebut.
