Penyelidikan KNKT Terkait Kecelakaan Helikopter PK-CFX
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa helikopter tipe yang terlibat dalam kecelakaan tidak dilengkapi dengan perangkat perekam data penerbangan dan suara kokpit, atau yang dikenal sebagai black box. Black box merupakan alat penting dalam investigasi kecelakaan pesawat karena kemampuannya merekam data kritis yang dapat membantu mengungkap penyebab insiden tersebut.
Pada hari Kamis, 16 April 2026, helikopter PK-CFX jatuh di kawasan Bukit Puntak, Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Masyarakat mulai bertanya apakah helikopter tersebut dilengkapi dengan black box atau tidak. Dari informasi yang diperoleh oleh KNKT melalui operator dan otoritas penerbangan Prancis, diketahui bahwa helikopter jenis Airbus Helicopter EC130 T2 dengan registrasi PK-CFX memang tidak memiliki flight data recorder (FDR) maupun cockpit voice recorder (CVR), seperti yang biasanya terdapat pada pesawat komersial besar.
Investigator KNKT, Dian Saputra menjelaskan bahwa meskipun tidak memiliki FDR dan CVR, KNKT tetap berupaya mengumpulkan data penting lainnya untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Salah satu sumber data yang akan dianalisis adalah Engine Data Recorder (EDR), yang merekam performa mesin helikopter. Melalui EDR, para investigator bisa melihat berbagai parameter seperti kondisi oli, putaran mesin, serta sinyal-sinyal lainnya yang berkaitan dengan kinerja mesin.
Selain itu, KNKT juga akan menelusuri kemungkinan adanya perangkat lain seperti kamera yang dapat memberikan petunjuk tambahan. Jika ditemukan dalam kondisi baik, perangkat tersebut akan dipulihkan (recovery) untuk kepentingan investigasi. Dian menegaskan bahwa fokus dari investigasi KNKT adalah aspek keselamatan penerbangan. Hasil penyelidikan ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Kronologi Evakuasi Helikopter PK-CFX
Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar), Irjen Pol Pipit Rismanto menjelaskan bahwa insiden bermula saat pihaknya bersama Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) menerima informasi pesawat hilang kontak pada pukul 11.00 WIB. Helikopter PK-CFX lepas landas dari helipad PT Citra Mahkota di Kecamatan Menukung, Melawi, pada pukul 07.34 WIB dan dijadwalkan mendarat di helipad PT Graha Agro Nusantara I di Kecamatan Kubu Raya.
Dalam perjalanan, helikopter mengalami hilang kontak sehingga diinformasikan kepada pihak terkait. Koordinat disampaikan bahwa helikopter terakhir kali berada di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Pukul 18.50 WIB, tim gabungan yang dipimpin Basarnas, TNI, dan Polri berhasil menemukan lokasi jatuhnya helikopter. Dari hasil temuan di lokasi, seluruh penumpang dinyatakan meninggal dunia.
Lokasi kejadian berada di wilayah yang sulit dijangkau dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit berjalan kaki dari Desa Tapang Tingang. Berdasarkan hasil koordinasi, evakuasi tidak bisa langsung dilakukan mengingat kondisi yang terjal dan kurangnya pencahayaan, sehingga evakuasi dilakukan sejak pagi tadi pukul 06.00 WIB 17 April.
Kesaksian Warga Dengar Suara Ledakan
Salah satu warga, Yohanes, mengaku mendengar detik-detik helikopter PK-CFX jatuh hingga terdengar ledakan di sekitar Bukit Puntak, Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat pada Kamis 16 April 2026. Dalam insiden tragis itu, 8 penumpang dilaporkan meninggal dunia.
Yohanes mengungkap kronologi dirinya mendengar suara ledakan dari TKP. Saat itu sekitar pukul 07.00 WIB pagi, Yohanes berangkat ke ladang bersama rekannya, Pipin. Ketika baru mulai bekerja memotong kayu menggunakan mesin senso, terdengar suara helikopter yang terbang rendah di sekitar perbukitan. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 08.30 WIB, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. Yohanes langsung bilang ke kakaknya kalau ada helikopter meledak. Ia sampai gemetar mendengarnya.
Meski sempat curiga, Yohanes mengaku kembali melanjutkan aktivitasnya karena tidak melihat langsung kejadian tersebut. Ia menduga jika benar terjadi kecelakaan akan ada aktivitas penerbangan lain di sekitar lokasi. Sekitar pukul 13.00 WIB, setelah selesai bekerja dan kembali ke pondok, Yohanes melihat ada helikopter lain yang terbang berputar-putar di sekitar lokasi kejadian. Bapak Pipin bilang kemungkinan benar ada helikopter jatuh, karena terlihat ada yang berputar di lembah. Setelah sampai di rumah, baru mereka tahu ternyata memang benar terjadi kecelakaan.
Identitas Seluruh Korban
- Penumpang:
- Joko Catur Prasetyo
- Charles Dominson Lakidang
- Patrick Kee Chuan Peng
- Victor Tan Keng Liam
- Fauzi Organta
-
Sugito
-
Kru:
- Capt Marindra Wibowo (Pilot)
- Harun Arasyd (Co-pilot)
