Bacaan Injil Katolik Jumat 20 Februari 2026

Pada hari Jumat 20 Februari 2026, umat Katolik merayakan Hari Jumat sesudah Rabu Abu. Pada hari ini, gereja merayakan peringatan Santo Nemesius, Martir, dan Santo Eleuterius, Uskup dan Martir. Warna liturgi yang digunakan adalah ungu, menggambarkan kesedihan dan pengharapan.

Bacaan pertama dalam liturgi hari ini diambil dari Kitab Yesaya 58:1-9a. Dalam bacaan ini, Tuhan menyampaikan pesan tentang puasa yang sebenarnya. Tuhan mengatakan bahwa berpuasa tidak hanya sekadar menahan lapar atau melakukan ritual tertentu, tetapi juga harus disertai dengan tindakan nyata untuk membantu sesama. Tuhan mengingatkan bahwa puasa yang benar adalah ketika kita membebaskan orang-orang yang terjebak dalam belenggu kezaliman, memberi makan orang yang lapar, dan melindungi orang miskin.

Mazmur Tanggapan yang dibacakan adalah Mazmur 51:3-4, 5-6a, 18-19. Mazmur ini merupakan permohonan penyesalan dan permintaan pengampunan kepada Tuhan. Umat diajak untuk menyadari dosa-dosanya dan memohon belas kasih serta rahmat Tuhan.

Bait Pengantar Injil diambil dari Amos 5:14, yang berisi ajakan untuk mencari yang baik dan menjauhi yang jahat agar hidup dapat diberkati oleh Tuhan.

Bacaan Injil hari ini adalah Matius 9:14-15. Dalam injil ini, murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus mengapa mereka dan orang Farisi berpuasa, sedangkan murid-murid Yesus tidak. Yesus menjawab dengan gambaran bahwa Ia adalah mempelai, dan selama Ia hadir, para sahabat tidak berdukacita. Namun, suatu saat Ia akan diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Renungan Harian Katolik: “Puasa dan Sukacita”

Renungan harian Katolik hari ini mengajak kita untuk memahami makna sejati dari puasa. Yesus tidak menolak puasa, tetapi mengajak kita untuk melihat puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa bukan sekadar praktik lahiriah, tetapi juga ekspresi kerinduan akan Tuhan dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam renungan ini, Yesus menggunakan metafora mempelai untuk menunjukkan bahwa iman Kristen bukan sekadar aturan, tetapi relasi yang penuh cinta. Selama Yesus hadir, para murid dipenuhi sukacita. Puasa baru menjadi bermakna ketika Ia “diambil”, yakni saat salib dan penderitaan datang. Ini mengajarkan bahwa hidup rohani memiliki irama: ada waktu bersukacita, ada waktu berduka, dan ada waktu berpuasa.

Di masa Prapaskah, Gereja mengajak umat untuk berpuasa, berpantang, dan bertobat. Bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai jalan pembaruan hati. Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi juga latihan kerinduan dan pembukaan ruang bagi Tuhan. Jika puasa membuat kita sombong, mudah menghakimi, atau merasa lebih suci dari orang lain, maka kita kehilangan rohnya.

Di zaman modern, puasa sering kali kehilangan maknanya. Banyak orang berpuasa dari makanan, tetapi tidak dari ego, gosip, kemarahan, keserakahan, atau ketergantungan digital. Renungan ini menantang kita untuk bertanya apakah puasaku membawaku lebih dekat kepada Tuhan dan sesama. Puasa sejati adalah puasa yang mengubah cara kita mengasihi.

Sukacita Kristen bukanlah sukacita yang dangkal. Bahkan dalam puasa dan pertobatan, selalu ada harapan dan cahaya. Sukacita Kristen tidak meniadakan penderitaan, tetapi berakar pada kehadiran Tuhan. Puasa menjadi doa yang diam, ekspresi kerinduan yang mendalam.

Yesus tidak menegur murid Yohanes yang bertanya, tetapi mengajak mereka naik satu tingkat dalam pemahaman iman. Renungan ini mengajak kita untuk berani bertanya, tetapi juga bersedia diubah oleh jawaban Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau adalah Mempelai jiwa kami. Ajarlah kami berpuasa dengan hati yang tulus, bersukacita dalam kehadiran-Mu, dan merindukan-Mu ketika Engkau terasa jauh. Semoga setiap praktik iman kami selalu lahir dari cinta kepada-Mu. Amin.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version